Zulkifli versus Nasution

Zulkifli versus Nasution[1]

 

PATUT saja Zulkifli menolak pengangkatan Nasution dengan alasan keterlibatannya pada peristiwa 17 Oktober, sedangkan posisi Zulkifli pada peristiwa itu sebagai penentang ‘demo ala Nasution’ atau berada pada pihak pemerintah.

Dalam peristiwa itu, Nasution dan pasukannya yang berdemo mengarahkan moncong meriam ke istana, dan kelompok sipil yang turut demo meneriakkan yel-yel “bubarkan parlemen”. Sementara anak buah Zulkifli yang menyusup pada rombongan demo meneriakkan yel-yel yang lain ; “hidup Bung Karno”, hingga yel-yel “bubarkan parlemen” redup bahkan bungkam.

Zulkifli adalah mantan opsir PETA, pendiri lembaga intelijen yang pertama yaitu Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI), hingga dia dijuluki sebagai Bapak Intelijen Indonesia.

Karena kecerdasannya, pada waktu sedang mengikuti pendidikan PETA di Bogor, Zulkifli dibawa oleh Rokugawa ke Malaysia dan Singapura. Rokugawa adalah mantan Komandan Seinan Dojo.

Di Singapura, Zulkifli diperkenalkan dengan anggota Fujiwara Kikan, badan intelijen Jepang untuk Asia Tenggara, termasuk dikenalkan dengan tokoh intelijen yang fenomenal, Mayor Ogi.

Disebut sebagi intelijen yang fenomenal karena kerja intelijen Mayor Ogi berhasil membuat tentara Prancis yang menguasai Vietnam menyerah, dan Jepang menaklukkan Vietnam tanpa perang.

Dari Mayor Ogi, Zulkifli mendapat pelajaran bagaimana mempengaruhi komandan musuh di negara asing, sampai bisa menyerah, tanpa melalui pertempuran. Rokugawa juga mengajari Lubis teori maupun praktik intelijen.

Sebagai yang dianggap paling cerdas pada waktu mengikuti pendidikan PETA (mungkin penerima Adhimakayasa PETA), ditambah pengetahuan intelijen yang mendalam, dari nama-nama yang diajukan oleh MBAD, adalah Zulkifli yang paling mumpuni sehingga ia yang paling berpeluang menjadi KSAD, kebetulan juga saat itu ia sedang dalam posisi sebagai Pejabat KSAD setelah Jenderal Mayor Bambang Utoyo mundur.

Adapun alasan pemerintah tidak memilih Zulkifli karena ia belum pernah menjadi panglima, dan tentunya pemerintah belajar dari penolakan perwira-perwira Angkatan Darat atas pengangkatan dua orang KSAD sebelumnya.

Sosok Zulkifli diperkirakan akan juga mendapat penolakan dari slagorde Angkatan Darat. Namun tidak disebut bahwa Zulkifli adalah alumni PETA, bukan KMA yang memang sejak terbentuknya tentara Indonesia sudah mengelompok dan kerap terjadi gesekan namun dapat dipersatukan oleh Jenderal Soedirman.

Pertimbangan pemerintah lainnya adalah, dibutuhkan tokoh senior tentara yang sarat pengalaman dan dapat diterima oleh slagorde Angkatan Darat, serta memiliki kapabilitas menyatukan faksi-faksi yang ada di Angkatan Darat, dan pemerintah beranggapan, untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan oleh Nasution.

Harus diakui, sepeninggal Jenderal Soedirman, tentara seperti ayam kehilangan induk. Kehilangan tokoh kharismatik yang begitu besar pengaruh dan wibawanya, disegani rekan sejawat dan bawahan, bahkan lawan.

Pak Dirman berhasil menyatupadukan alumni PETA dan KMA, serta mempersatukan laskar-laskar dalam Tentara Nasional Indonesia, sebagai tentara kebangsaan yang solid.

Tidak saja Zulkifli Lubis yang menolak kembalinya Nasution sebagai KSAD, beberapa perwira juga menolak, dan ini bagaikan api dalam sekam yang setiap saat dapat nyala membara.

Pada waktu Nasution melakukan tour of duty dan tour of area perwira Angkatan Darat, terutama mutasi Panglima, bara pun nyala membara.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 37-40.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.