YAUMIL CAIRIAH: BICARA YANG DIYAKINI BENAR

YAUMIL CAIRIAH: BICARA YANG DIYAKINI BENAR[1]

 

 

Jakarta, Suara Karya

Tak terlintas sedikitpun, kalau ia harus menjadi juru bicara FKP Komisi C MPR­ RI untuk menyampaikan pengantar musyawarah Fraksi Karya Pembangunan (F-KP) MPR-RI terhadap pidato pertanggungjawaban Presiden Mandataris MPR-RI,Jumat lalu di gedung MPR/DPR.

“Saya kaget sekaligus bangga ditunjuk menjadi Jubir F-KP Komisi C MPR-RI untuk menyampaikan pengantar musyawarah fraksi,” kata Prof. Dr. Yaumil Cairiah Agoes Achir, menjawab pertanyaan Suara Karya, Jumat lalu di Jakarta.

Sebagai satu-satunya wanita yang ditunjuk menjadi jubir di Komisi C MPR-RI, menurut Yaumil Cairiah Agoes Achir, ini merupakan suatu surprise besar dan merupakan suatu penghargaan luar biasa dari FKP.

“Bagaimana saya tidak bangga, karena saya hanya mewakili golongan profesi tetapi ditunjuk menjadi Jubir FKP di Komisi C MPR,” katanya penuh haru.

Ia mengungkapkan kesannya bahwa, apa yang tertuang dalam naskah pengantar musyawarah F-KP itu memang telah sesuai dengan hati nuraninya.

“I’m telling the truth. Saya tidak membicarakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani saya. Saya mengatakan apa yang saya yakini benar,” kata Yaumil.

Dengar suara yang mendayu-dayu namun mantap. Yaumil sempat mendapat beberapa kali apluse dari anggota komisi C MPR. Misalnya ketika ia menyampaikan berbagai masalah yang muncul di Indonesia sebagai dampak dari krisis moneter, yang bebannya dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat, ia sempat mengutip pepatah “Dikira panas sampai petang, kiranya hujan tengah hari”, yang disambut tepuk riuh hadirin.

Ibu dua anak yang mengaku sebagai anak kampung yang dibesarkan oleh orang tua di Pulau We. Sabang itu juga mengungkapkan kehidupan masa kecilnya.

“Masa kecil saya sangat menyenangkan. Menurut orang lain, saya anak badung. Tapi menurut saya, saya anak yang paling baik,” katanya.

Menurut Yaumil, orang tuanya menilai bahwa ia anak yang aktif. Bahkan, terkadang membuat pusing orang tua dengan inisiatif yang tidak masuk akal.

“Saya memang anak yang tidak bisa diam. Saya suka sekali olahraga. Tetapi belajar juga sangat menyenangkan. Bagi saya, sama menyenangkan dengan bermain,” kata Yaumil Agoes Achir.

Pada awalnya, orang mengenalnya hanya sebagai psikolog atau pembicara semi­nar yang menyenangkan. Setelah sukses menjadi Dekan Fakultas Psikologi Univer­ sitas Indonesia sejak 11 Agustus 1990, Yaumil diangkat menjadi salah satu Asisten Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN.

“Setelah menjadi Asmen Meneg Kependudukan, ruang lingkup kerja menjadi luas. Staf lebih banyak. Dan, permasalahan menjadi lebih makro,” kata istri dari Ir. Agoes Achir ini.

Di tengah kesibukannya menjadi Asmen Meneg Kependudukan, Yaumil juga masih sering tampil sebagai pembicara seminar maupun memberikan ceramah­-ceramah.

“Berceramah hanyalah keinginan untuk membagi apa yang saya tahu kepada orang lain,” katanya.

Ia juga punya kesibukan mengembangkan Lembaga Pengkajian dan Pembinaan Kesejahteraan Anak dan Remaja Indonesia. Lembaga ini merupakan salah satu kelompok sosial yang lahir dan Himpunan Wanita Karya. Berdiri sejak tahun 1993 lalu, lembaga ini sudah banyak melakukan kegiatan. Antara lain simposium dan semi­nar mengenai pola asuh anak dalam keluarga.

Selain itu, Yaumil juga duduk di Yayasan Ade Irma Suryani sebagai anggota bersama beberapa kawan seperjuangan dalam bidang pendidikan.

“Saya, bercita-cita untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang cocok bagi anak berbakat,” kata Yaumil yang juga menjadi anggota Kelompok Kerja Khusus Kesejahteraan Anak Indonesia itu. (Singgih B Setiawan)

Sumber: SUARA KARYA (09/03/1998)

____________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 226-227.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.