YASIDI HAMBALI SALAH SATU ORANG PENTING DIBALIK SEA GAMES XIX

YASIDI HAMBALI SALAH SATU ORANG PENTING DIBALIK SEA GAMES XIX[1]

 

 

Jakarta, Antara

Yasidi Hambali benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan terlibat dalam kegiatan olahraga nasional, bahkan terlibat sangat langsung dengan penyelenggaraan pesta olahraga internasional SEA Games XIX di Jakarta.

Yasidi Hambali, Ketua Direksi Gelora Senayan, menjadi orang penting pada pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara pada 11-19 Oktober 1997, Gelora Senayan merupakan pusat kegiatan SEA Games XIX itu.

Ia menjabat Ketua Direksi Gelora, tempat 18 dari 34 cabang olahraga yang dipertandingkan di SEA Games XIX, hanya tiga minggu sebelum pesta olahraga Asia Tenggara itu digelar.

Mau tidak mau seluruh venue yang berada dibawah Gelora Senayan menjadi tanggungjawabnya. Mulai dari renovasi hingga kebersihan lapangan.

Ditemui di sela-sela tugasnya di Gedung Pengelola Gelora Senayan usai shalat Jumat, ayah dua putri yang berangkat dewasa itu dengan senang hati menceritakan awalnya menjabat Ketua Direksi Gelora Senayan yang dikatakannya bukanlah datang dengan tiba-tiba.

“Sudah sejak lama memang saya ditugaskan di sini, namun karena kesibukan Dewan Pengelola, hingga baru tiga minggu lalu saya dilantik mengantikan Sapto Darsono,” ujar Yasidi Hambali.

Dia mengatakan, Badan Pengelola Senayan sudah mengantisipasi setiap hal termasuk sebagai penyelenggara SEA Games XIX.

Seharusnya yang menjadi tuan rumah penyelenggara SEA Games XIX adalah Brunei Darussalam, ujarnya.

Namun karena negara tetangga itu tidak sanggup, maka Indonesia ditunjuk sebagai pengantinya. Gelora Senayan sejak lama memang dibangun untuk tempat penyelenggaraan event olahraga.

Gelora Senayan dibangun oleh pemerintah merupakan pusat olahraga terbesar di tanah air, selain itu venuenya juga saling berdekatan seperti bulutangkis, judo, tenis, anggar, renang, senam dan juga sepakbola tentunya.

Menurut Yasidi yang menamatkan pendidikan Fakultas Hukum UI pada tahun 66, secara rutin Badan pengelola Gelora Senayan melakukan perbaikan setiap venue yang ada.

Yasidi yang tidak mau disebut sebagai angkatan 66 itu mengatakan bahwa dengan ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara SEA Games XIX secara otomatis, Badan Pengelola Senayan mendapat tugas untuk menyediakan venue, meskipun secara langsung yang bertanggungjawab adalah OC SEA Games yang dibentuk oleh Ketua Umum KONI Pusat.

Seharusnya yang menyiapkan venue adalah Bidang Sarana dan Prasarana SEA Games XIX, namun karena venue belum siap juga, maka sebagai Direksi Gelora Senayan ia berusaha melakukan persiapan.

“Kalau perlu saya melakukan crash program untuk menyiapkan venue yang digunakan untuk bertanding,” ujar pengemar musik tahun 60-an itu.

 

Berpangku Tangan

Diakuinya sebagai Pengelola Gelora Senayan mau tidak mau ia tidak bisa berpangku tangan, karena selain menyediakan venue, perlu juga dibangun prasarana penunjang seperti tempat latihan, ruang dokter atau doping, sekretariat serta sarana penunjang lainnya.

Menurut Yasidi yang suka membaca novel, pembangunan sarana penunjang seharusnya dilakukan oleh pihak OC SEA Games XIX, namun karena OC SEA Games mengalami kesulitan, maka pihak pengelola tidak dapat berpangku tangan.

Pada saat-saat kritis, pihak Gelora Senayan tidak lagi memikirkan porsi siapa yang bertangungjawab atas venue yang akan digunakan, namun demikian perjanjian kerja sama tetap ada antara pihak pengelola Senayan dan OC SEA Games.

“Kita tidak lagi berbicara masalah ini porsi siapa,” ujar Hambali yang pernah menimbah ilmu hukum internasional selama dua tahun di Montreal, Kanada.

Namun ada hal yang membuat saya merasa lega, yaitu adanya pengakuan dari Technical Delegate yang mengatakan bahwa semua venue yang ada di Gelora Senayan sudah layak dan mendapat pengakuan internasional. Masalah kebersihan Gelora Senayan juga tidak luput dari pengamatannya.

Bersama Menpora Hayono Isman, Yasidi melakukan sidak untuk menyaksikan persiapan seluruh venue yang ada dan bahkan mengintruksikan kepada bawahannya untuk membantu mempersiapkan kekurangan-kekurangannya.

Seperti pada alat pendingin yang diperlukan di lapangan bulutangkis, maupun alat penerangan yang masih perlu ditambah, Yasidi langsung memerintahkan anak buahnya agar segera dilaksanakan tanpa memikirkan bahwa itu bukanlah menjadi tugasnya.

Disadari oleh Yasidi maupun OC SEA Games kalau tidak dilakukan terobosan, mungkin persiapan venue belum selesai.

Namun demikian, katanya, OC SEA Games maupun konsorsium tetap memikul tanggung jawab untuk mengantikan biaya yang dikeluarkan oleh Badan Pengelola Gelora Senayan.

Menurut Yasidi, terobosan yang dilakukannya sudah mendapat restu dari Badan Pengelola yang berpesan agar ia berusaha dengan maksimal untuk ikut menyukseskan SEA Games XlX.

Mengenai isu kolusi yang melanda Badan Pengelola Senayan dengan digantinya Direksi lama Sapto Darsono, Yasidi mengatakan bahwa itu sudah saya bantah.

“Penggantian Pak Sapto dengan saya tidak ada kaitannya dengan isu kolusi, karena memang sudah lama dipersiapkan dan kebetulan memang acaranya baru tiga minggu lalu,” ujarnya.

Bercerita tentang kehidupan sehari-hari, Yasidi Hambali mengatakan bahwa seperti pegawai negeri lainnya ia bekerja dari pagi hingga pukul 16.00 sore.

Namun sejak adanya SEA Games, terpaksa dilakukan piket dan bahkan kalau perlu saya pun bekerja hingga malam, ujar Yasidi yang senang dengan lagu yang dibawakan oleh Frank Sinatra.

Tentang olahraga yang ditekuninya Yasidi mengatakan bahwa olahraganya cukup sederhana yaitu jalan kaki, dan sekali-kali main golf.

 

Gerakan Disiplin

Yasidi yang mengakhiri karirnya di Angkatan Udara sebagai Kepala Dinas Hukum TNI AU dengan pangkat Marsekal pertama mengatakan bahwa pesta olahraga Asia Tenggara ini dapat dijadikan sebagai momentun untuk memasyarakatkan Gerakan Disiplin Nasional yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto.

Masyarakat yang menonton pertandingan maupun pada acara pembukaan SEA Games XlX dapat berlaku tertib, bahkan tidak membuang sampah sembarangan

Bila semua menaati peraturan dan disiplin, mulai dari level bawah hingga pimpinan tentunya semuanya akan berjalan dengan lancar.

“Budaya panutan tampaknya masih perlu di negara kita,” kata Yasidi yang mengambil master di Hukum Udara di Kanada.

Bercerita tentang hal yang berkesan selama berdinas di TNI AU, Hambali mengatakan bahwa pimpinan di lingkungan AU yang syarat dengan teknologi tetapi juga memperhatikan masalah nonteknis.

Ternyata aspek hukum internasional semakin menonjol terutama di negara ASEAN seperti pengunaan satdit, ujarnya. Jangan dikira ABRI hanya memperhatikan visi dan karena tau teknologi saja tetapi juga aspek non teknis menjadi perhatian pimpinan TNI AU, demikian Yasidi Hambali. (T/OK07/DN02/0K04/10/10/97     21:52/RS01)

Sumber: ANTARA (22/10/1997)

_________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 615-618.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.