WISMOYO : JANGAN ADA ATLET YANG TERBEBANI TARGET

WISMOYO : JANGAN ADA ATLET YANG TERBEBANI TARGET[1]

 

Jakarta, Antara

Jangan ada seorangpun atlet yang merasa terbebani dengan target yang telah ditetapkan oleh pengurus dan pembina olahraga, karena target itu bukan beban, tapi justru merupakan sasaran dan tujuan yang akan dituju.

“Target itu bukan beban, tapi justru sasaran yang akan dicapai dan untuk mencapainya dibutuhkan persiapan dan perencanaan yang terpola.” kata Ketua Umum KONI Pusat Wismoyo Arismunandar ketika berdialog dengan atlet Pelatnas anggar SEA Games di Hall A, Senayan Jakarta, Selasa.

Pernyataan serupajuga dikemukakan Wismoyo di kantor Gedung KONI Pusat, Jakarta pada hari yang sama, ketika menerima atlet menembak Indonesia yang akan berpamitan untuk melakukan try-out ke Beijing dan Shanghai (China).

Menurut mantan Kepala StafTNl Angkatan Darat itu, sebuah target merupakan kesimpulan dari sebuah perencanaan matang yang terpola, sehingga tidak asal pasang target.

“Target itu merupakan hasil perencanaan yang matang dan jika ada target tanpa perencanaan, maka namanya itu omong kosong.” tegasnya di depan 38 atlet anggar, empat pelatih nasional dan tiga pelatih asing cabang anggar.

Wismoyo juga memberikan contoh ten tang Jahirnya seorang juara.

“Seorang juara itu tidak asal muncul, tapi disiapkan dan direncanakan dengan pola pelatihan dan metoda tertentu, tidak asal ada atau ditemukan begitu saja.” tambahnya.

Menggoyahkan Atlet

Pada kesempatan itu Wismoyo juga mengritik wartawan yang sering melontarkan pertanyaan yang mengusik pelatih dan atlet dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoyahkan.

“Sering sayabaca di koran atau berita di televisi soal atlet yang merasa terbebani dengan target atau soal kejenuhan dalam berlatih, dan itu mengemuka karena wartawannya yang bertanya demikian.” kata Wismoyo.

Menurutnya, bisa saja atlet akan goyah jika ada pertanyaan seperti itu, karena itu dia berharap agar wartawan membantu menciptakan suasana yang tenang dan menumbuhkan semangat berlatih dan bertanding atlet.

“Karena itu saya memperingatkan seluruh atlet untuk jangan takut dengan beban dan jangan jenuh-jenuh berlatih.” kata Wismoyo.

“Takut pada beban itu pencerminan dari bangsa penakut, dan bangsa Indonesia bukan bangsa penakut. Jika kalian sebagai atlet terbebani atau merasa jenuh berlatih dan tidak sanggup melaksanakan panggilan negara, silakan pergi dan tinggalkan Pelatnas.” katanya.

Menurut Wismoyo, dia tidak merasa terbebani dengan target dua sukses yang diperintahkan Presiden Soeharto kepadanya dalam menghadapi SEA Games XIX mendatang, yaitu meraih sukses penyelenggaraan dan meraih gelarjuara umum.

“Saya tidak merasa terbebani dengan target itu. Yang penting saya dan seluruh pembina serta kalian seluruh atlet dan pelatih telah berjuang keras mempersiapkan diri, berbuat maksimal, dan kita siap bertarung di SEA Games, apapun yang akan terjadi nanti.” kata Wismoyo.

Karena itu Wismoyo berpesan agar seluruh atlet berdisiplin dalam menjalankan pelatihan, turuti perintah pelatih dan tidak pernah jenuh dan bosan berlatih.

“Tidak ada alternatif Jain bagi bangsa Indonesia kecuali merebut kembali kehormatan bangsa yang hilang diambil negara lain.” tegas Wismoyo.

Dua Mundur

Dalam laporannya, Ketua Pimpro Pelatnas anggar SEA Games XIX, Bob Kamandanu, mengatakan bahwa dari 40 atlet yang dipanggil sejak 1 Desember lalu, dua atlet mengundurkan diri, sehingga kini terdapat 38 atlet anggar di Pelatnas SEA Games.

“Sentralisasi pelatihan di Jakarta dimulai pada 1 Maret 1997 setelah sebelumnya pada periode 1 Desember 1996 hingga akhir Februari 1997 melakukan Pelatnas desentralisasi di beberapa tempat di luar Jakarta.” kata Bob.

Jumlah pelatih, menurut Bob, ada tujuh orang, terdiri atas empat pelatih nasional, dua pelatih Rumania dan seorang pelatih Bulgaria.

“Dari 200 persen jumlah atlet, selama bulan April ini kami akan melaksanakan seleksi sehingga jumlah atlet tinggal 150 persen, baru sekitar akhir Juli kami akan menentukan atlet inti yang akan kami tetjunkan di SEA Games XIX mendatang.” kata Bob.

Dua atlet yang mengundurkan diri dari Pelatnas anggar adalah Rocky Purawinata (nomor sable/DKI Jakarta) dan Sri Mulianingsih (floret/Jabar). Rocky karena tidak siap sementara Sri Mulianingsih karena menikah. Direncanakan atlet anggar akan melakukan try-out ke Rumania dan Bulgaria sekitar bulan Juli-Agustus 1997.

Sumber : ANTARA (17/04/1997)

______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 562-564.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.