Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (5): Stabilitas & Ketahanan Nasional

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (5): Stabilitas & Ketahanan Nasional

Stabilitas Nasional harus kita wujudkan untuk memungkinkan pembangunan. Hasil pembangunan akan menjamin pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mampu memperbaiki kehidupan rakyat—“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 256

***

Stabilitas nasional bukan saja merupakan syarat pembangunan dalam arti yang seluas-luasnya, akan tetapi terciptanya stabilitas nasional itu mencerminkan kedewasaan kita sebagai bangsa —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 459

***

Apapun yang kita kerjakan, stabilitas politik dan stabilitas ekonomi, kelancaran Pembangunan dan terutama sekali persatuan dan kesatuan bangsa harus kita tempatkan di atas kepentingan golongan. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:261

***

Keamanan dan ketertiban, persatuan dan kesatuan bangsa, harus bisa kita bina. Hanya dengan demikian kita bisa melaksanakan pembangunan. Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Berulang-ulang saya mengajak seluruh rakyat agar terus mempertebal rasa persatuan dan kesatuan, karena hanya dengan persatuan nasional itulah masa depan bangsa mewujudkan cita-cita kemerdekaan akan berhasil dibangun. Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Demi kepentingan persatuan dan kesatuan, kita harus berani mengorbankan kepentingan pribadi, kepentingan golongan, kepentingan masyarakat untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Begitu yakinnya para Pendiri Republik ini kepada kesatuan, sehingga Persatuan Indonesia dimasukkan menjadi salah satu sila dari Pancasila, ialah sila ketiga. Karena itulah persatuan dan kesatuan harus tetap menjiwai perjuangan kita, mendorong kita untuk selalu memilikinya. (Wejangan Kepada Calon Anggota DPR-RI, 9 Agustus 1997)

***

Ancaman dan bahaya (ketahanan/stabilitas nasional) itu datang dari kekuatan ekstrim kanan maupun kiri. Bahaya juga bisa datang karena diterapkannya alam pikiran liberalisme yang tidak berakar pada kepribadian sendiri. Bahaya juga bisa datang apabila Pancasila tidak dilaksanakan dengan penuh kejujuran dan secara nyata —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 464

***

Sebagai bangsa yang lahir dari kancah perang kemerdekaan dan revolusi, bangsa Indonesia memiliki kesadaran yang dalam mengenai keamanan nasional —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 464

***

Ketahanan nasional dan pembangunan nasional masih harus dikembangkan terus-menerus. Sebab, kedua-duanya adalah khas Indonesia. Karena itu pula pemikiran dasar dan pengembangannya harus bertolak dari pandangan hidup Pancasila, dari kepribadian bangsa sendiri, dan dari pengalaman sejarah sendiri, yang tidak ternilai harganya —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 463

***

Adalah keliru menganggap kewaspadaan keamanan boleh dikendorkan demi kemakmuran. Tetapi sebaliknya, juga sama kelirunya jika kewaspadaan keamanan itu berlebih-lebihan sehingga membatasi ruang gerak. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 463

***

Masalah ketahanan nasional bukan hanya urusan militer atau menyangkut pertahanan dan keamanan saja. Melainkan menyangkut seluruh segi kemampuan nasional —Presiden Soeharto, Seminar “Pembinaan Generasi Muda dan Ketahanan Nasional”, Dema UGM, 23 Oktober 1975

***

Ketahanan nasional merupakan tingkat keadaan keuletan dan ketangguhan bangsa sebagai hasil penghimpunan dan pengerahan semua potensi dalam menghadapi masalah dan tantangan —Presiden Soeharto, Seminar “Pembinaan Generasi Muda dan Ketahanan Nasional”, Dema UGM, 23 Oktober 1975

***

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.