WARDOYO TTG GOGO RANCAH HADAPI MUSIM KERING

WARDOYO TTG GOGO RANCAH HADAPI MUSIM KERING

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menekankan kembali pentingnya sistem gogo rancah digalakkan di daerah yang dilanda kekeringan tahun ini. Presiden menekankan hal itu ketika menerima Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Pangan Ir. Wardoyo di Bina Graha, Jakarta, Kamis.

Kepada wartawan, Menteri Wardoyo mengatakan, dari hasil pemantauan sementara sampai saat ini tercatat lk. 71.871 hektar dari berbagai daerah yang dilanda kekeringan.

Dari luas 71.871 hektar, 33.414 hektar diantaranya terkena puso dari Januari­-Juni 1987 yang dicatat dari propinsi NTB, Sumbar, Aceh dan NTT, katanya.

Dibandingkan tahun 1986 untuk periode sama tercatat kenaikan luas daerah yang dilanda kekeringan, kata menteri, tahun 1986 tercatat 22.957 hektar dan diantaranya 4.113 mengalami puso.

Untuk mengatasi masalah kekeringan diusahakan penanaman palawija, ujar Menteri Wardoyo. Kepada Presiden, Menteri melaporkan pengendalian hama wereng coklat yang dilaksanakan sesuai Inpres nomor 3/1986 dan sampai akhir Mei 1987, sekitar 30.890 ha terkena hama wereng coklat.

Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 41.324 hektar, ia menambahkan.

Menurut menteri, penanggulangan hama wereng coklat dilakukan secara terpadu menyangkut penanggulangan di lapangan, varitas baru, penelitian penelitian dan pengerahan tenaga lapangan.

Dilaporkan juga kepada Kepala Negara mengenai ekspor gaplek Indonesia yang belum memenuhi kuota karena harganya kurang menarik bagi petani pada tahun-tahun terakhir ini, namun sekarang harganya membaik, sekitar Rp 35 kg ubi kayu basah.

Menurut Menteri, tahun 1985 ekspor gaplek Indonesia hanya 543.000 ton, padahal kuotanya 825.000 ton. Dalam menanggapi masalah ini, Presiden memberikan petunjuk kepada Menteri agar menjajagi kemungkinan pemanfaatan ubi jalar untuk diekspor, sebab RRC sudah melakukan hal ini.

Menteri mengatakan, ubi kayu usia tumbuhnya lebih lama dibandingkan dengan ubi jalar yang bisa dipanen hanya dalam waktu empat bulan. Ia mengatakan, ubi jalar sekarang ini baru dalam tahap dikonsumtip langsung oleh masyarakat, belum sampai tahap ekspor.

“Karena itu kita akan menjajaginya untuk ekspor,” ujar Wardoyo.

Sumber: ANTARA (25/06/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 831-832

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.