WAPANGAL/PANKO : KESUKARAN PRADJURIT HARUS DIRASAKAN OLEH DJENDRAL ATAU PEMIMPINNJA

WAPANGAL/PANKO : KESUKARAN PRADJURIT HARUS DIRASAKAN OLEH DJENDRAL ATAU PEMIMPINNJA [1]

 

Djakarta, Berita Yudha

Wapangal/Pangko Letdjen KKO Hartono pada upatjara penutupan Commanders Call Kopasgat jang diadakan di Lanuma Husein Sastranegara Bandung Sabtu tgl. 25/5 jl. menegaskan bahwa di dalam mentjapai negara jang kuat sentausa perlu ditjapai adanja Angkatan Bersendjata jang djaja jang sanggup menghadapi segala bentuk2 serangan2 dari luar ataupun menanggulangi dalam negeri sendiri.

Berbitjara mengenai pembinaan corps, dikatakannja tidaklah dapat dilepaskan dari pada pembangunan dalam arti pembinaan dibidang organisasi personil, materiil, mental dan djuga spiritual, karena nilai2 tsb. akan mendjiwai Lesprit de corps jang tinggi, djuga tidak dapat terlepas dari nilai2 kerdjasama dan saling isi mengisi dengan Angkatan lain, sebab tanpa ini akan mempunjai ekses2 negatif jaitu adanja penondjolan pada corps sentrisme atau istilah popularitasnja menimbulkan “corps waazin”.

Lebih landjut Pangko menegaskan bahwa di dalam pembahasan nitai spiritual kita sebagai ABRI harus berpegang teguh pada motto; ” Politik tentara adalah politik negara” djadi djelaslah bahwa kita sebagai militer harus mendjundjung tinggi nilai2 pantjasila dan Konstitusi dari UUD’45.

Berbitjara mengenai masalah kesukaran hidup sehari2, Pangko mengatakan bahwa pembinaan Corps harus didjiwai dan hidup sebagai keluarga, dimana semua masalah harus dipetjahkan bersama. Setiap kesukaran pradjurit harus dirasakan oleh djenderal atau pemimpinnja. Untuk ini harus diingat bahwa ABRI terikat pada norma2 militer jang berdasarkan pada Sapta Marga, sumpah Pradjurit, disiplin, hierarchi serta kehormatan militer.

Achirnja Pangko mengharapkan semoga tradisi kerdja sama AURI dan ALRI ini akan lebih erat dan ditingkatkan jang lebih tinggi pada masa2 jang akan datang.

Demikian Wapangal menurut Biro penerangan KKO AL. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (27/05/1968)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 134-135.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.