WALIKOTA JEDDAH : BANTUAN TENAGA KERJA INDONESIA BESAR ARTINYA BAGI PEMBANGUNAN KOTA JEDDAH

WALIKOTA JEDDAH : BANTUAN TENAGA KERJA INDONESIA BESAR ARTINYA BAGI PEMBANGUNAN KOTA JEDDAH

Presiden Soeharto menyambut baik kerjasama Arab Saudi dan Indonesia, khususnya dengan kota Jeddah, yang sudah terjalin selama ini dalam penyediaan tenaga kerja dan ekspor Komoditi Indonesia ke Arab Saudi.

Kepala Negara menyampaikan hal itu kepada Walikota Jeddah Sheikh Mohammad Said Hassan Parisi dalam pertemuan mereka sabtu pagi di Bina Graha.

Presiden mengatakan, dalam banyak hal banyak yang bisa dicontoh oleh kota Jeddah dari Jakarta. Dasar2 kerjasama antara kedua kota sudah disusun, kata Presiden, antara lain dalam hal penyerapan tenaga kerja dan komoditi ekspor Indonesia.

Walikota Jeddah dalam menanggapi hal ini mengatakan, bahwa ia beranggapan kedua negara ini menghadapi masa depan yang cerah.

Ketika berbicara kepada para wartawan selesai pertemuannya dengan Presiden Soeharto itu, Sheikh Hassan Parisi mengatakan, bantuan tenaga kerja Indonesia kepada Arab Saudi sangat besar artinya bagi kelangsungan pembangunan kota Jeddah yang saat ini kekurangan tenaga kerja.

“Saya berpendapat bila modal Arab Saudi dan tenaga kerja Indonesia digabungkan, hal itu akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa di dunia ini”, kata Walikota Jeddah itu.

Sementara itu iajuga menyanggah berita2 tentang adanya orang2 Indonesia yang terdampar di negerinya.

Dikatakannya, orang2 Indonesia baik yang sudah menjadi warganegara Arab Saudi maupun yang bekerja di sana mendapat perlakuan khusus dari pemerintahnya. Arab Saudi sendiri, katanya, lebih menyukai orang2 Indonesia daripada warganegara lainnya. Ditambahkan, orang2 Indonesia dan warga Arab Saudi berasimilasi dengan kompak sekali.

Mengenai warga Indonesia yang memegang visa umroh yang bermaksud menggunakannya juga untuk melakukan ibadah haji. Walikota Jeddah itu mengatakan, antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi terdapat suatu kordinasi.

Pemerintah Indonesia, katanya, menghendaki kalau warga Indonesia melakukan umroh hendaknya menggunakan visa mereka hanya untuk umroh saja, sedang warga Indonesia yang beketja di Arab Saudi haruslah melalui prosedur yang ada, yaitu dengan meminta izin kerja di negara tersebut.

Namun demikian, katanya menambahkan. pemerintahnya tidak menutup kemungkinan bagi penyelesaian visa mereka.

Selain itu, katanya, pemerintahnya mempunyai tujuan khusus pula dalam penyelesaian warga Indonesia yang memegang visa umroh ini.

“Kalau mereka mempunyai keinginan untuk beketja di Arab Saudi janganlah hendaknya mereka meninggalkan pekerjaan di Indonesia, sebab hal itu akan menimbulkan hambatan bagi pembangunan di Indonesia sendiri sekarang ini.”katanya.

Dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto, Sheikh Hassan Parisi didampingi Gubernur DKI Jaya Tjokropranolo, Ketua Koordinator Tim Pengembangan Ekspor Timur Tengah dr. Zainul Yasni dan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Bakr Abbas Khomais.

Tidak Peroleh Keuntungan

Atas pertanyaan ia mengatakan, pemerintah Arab Saudi sama sekali tidak memperoleh keuntungan apapun darimusimhaji setiap tahunnya.

“Apa yang kami buat, seperti lapangan terbang, jalan-jalan raya, itu semata-mata karena Allah. Dan penggunaan sarana sarana itu hanya selama dua bulan selama musim haji saja. Selebihnya tidak digunakan untuk apa-apa”, katanya.

Mengenai lapangan Jedah yang bam yang dibangun dengan biaya empat milyar dollar dimaksudkan untuk bisa memberikan pelayanan lebih baik kepada para jemaah haji dari seluruh dunia. Dan menurut rencana, akan dibangun asrama haji yang besar di dekat lapangan terbang itu.

Naskah pernyataan bersama yang ditandatangani antara Gubernur DKI Jaya Tjokropranolo dengan Walikota Jeddah antara lain meliputi kerjasama dibidang pengiriman tenaga ahli, mengadakan bimbingan tennis dan latihan kerja untuk bidang tata kota, tata bangunan, penghijauan kota, landscaping dan administrasi. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (10/03/1979)

Dikutipsesuaitulisandanejaanaslinyadaribuku “Presiden RI Ke II JenderalBesar HM SoehartodalamBerita”, BukuV (1979-1980), Jakarta: AntaraPustakaUtama, 2008, hal. 39-40.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.