VERSI “THE WASHINGTON POST” : PEKAN MENENTUKAN BAGI PRESIDEN SOEHARTO

VERSI “THE WASHINGTON POST” : PEKAN MENENTUKAN BAGI PRESIDEN SOEHARTO[1]

 

Jakarta, Kompas

SIKAP Presiden jelas, ia pasti akan mundur.

“Saya mau mengundurkan diri. Tetapi apakah ada jaminan bahwa kekacauan selama ini akan berhenti?” tanya Presiden seperti ditulis The Washington Post (WP) edisi 24 Mei.

Pagi harinya, Selasa tanggal 19 Mei, Presiden mengumumkan rencana pembentukan Komite Reformasi dan lain-lain. Tapi semuanya sudah terlambat untuk mengajukan kompromi.

Meskipun sudah sejak jauh-jauh hari sebelumnya sudah diduga akan lengser keprabon, pengunduran diri Presiden sungguh tidak disangka-sangka. Pada akhirnya Indonesia menjalani proses transisi secara damai, terhindar dari kekerasan seperti yang terjadi pada masa lalu.

Tetapi di belakang layar, proses itu melibatkan sejumlah tokoh kunci di sekitar Presiden yang menentukan sikap atas dasar persaingan antara mereka serta ambisi masing-masing, selama tujuh hari yang dramatis.

Semuanya menjadi jelas setelah Presiden mengundurkan diri. Inilah sebuah persaingan yang terjadi di belakang layar, sebuah cerita yang diwarnai pula dengan manuver politik, pemungkiran, konsensus dan konflik.

Berdasarkan wawancara dari berbagai sumber itulah dimungkinkan sebuah penilaian luas mengenai rangkaian peristiwa dramatis itu.

Jumat, 15 Mei

Presiden pulang dari kunjungan kenegaraan ke Mesir. Jakarta kacau balau. Ia memerintahkan agar diambil tindakan tegas terhadap para penjarah.

Presiden mulai kehilangan kepercayaan dari pimpinan ABRI yang telah bersikap terbuka terhadap reformasi usulan mahasiswa. Sejumlah intelektual sudah memberikan masukan-masukan yang bermanfaat kepada pimpinan ABRI. Di antaranya tentang pencabutan aturan pengangkatan anggota MPR oleh Presiden, bahwa parpol harus diberikan kebebasan lebih luas, bahwa Presiden sebaiknya mengatakan secara jelas keinginannya untuk mundur setelah reformasi dinyatakan usai.

Pimpinan ABRI bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan itu. Tapi pimpinan ABRI kurang setuju dengan gagasan tentang Presiden harus mengembalikan kekayaannya, serta tanggal pasti penyelenggaraan pemilu.

Sabtu/Minggu, 16-17 Mei

Presiden sewaktu di Mesir mengatakan tentang rencananya menjadi pandito setelah lengser keprabon. Pernyataan ini dibantah sejumlah menteri, termasuk Menlu Ali Alatas. Akibat bantahan inilah yang justru membuka peluang bagi kalangan masyarakat untuk mengritik Presiden.

Ketua Umum Golkar merangkap Ketua DPR/MPR Harmoko dikenal sebagai orang yang loyal kepada Presiden. Tapi tanggal 16 Mei itu Kosgoro salah satu kino Golkar telah meminta Presiden mundur. Harmoko bersama pimpinan DPR/MPR lain menemui Presiden din Cendana dan memintanya mundur dengan ‘cara Jawa’.

Senin, 18 Mei

Nurcholish Madjid menyarankan Presiden mundur bulan Maret 1999. Tapi Presiden tegas, kapan saja sudah siap mengundurkan diri.

Namun rencana bertahap untuk mundur itu diganggu terus oleh unjuk rasa mahasiswa dan rakyat yang menuntut reformasi secepatnya.

Ketua MPR lalu menyerukan pula agar Presiden bersikap arif untuk mengundurkan diri saja. Jika Presiden mundur, menurut konstitusi, Wapres menggantikannya. Wapres melobi Ketua DPR/MPR untuk mendukungnya, meskipun secara terbuka masih menyatakan dukungan untuk Presiden. Hari itu juga ada informasi yang mengungkapkan syarat-syarat pengunduran diri Presiden, dan bahwa ia akan mengundurkan diri tanggal 19 Mei.

Sementara pimpinan ABRI mengajukan usul Presiden mundur dari jabatannya setelah pemilu baru, gagasan yang dikumandangkan untuk menyaingi keinginan Wapres. Presiden akan mundur dari pentas politik secara bertahap sehingga Wapres belum tentu langsung menggantikannya.

Tapi Wapres dan Ketua MPR sudah menyiapkan langkah meminta Presiden mundur secepatnya. Pimpinan ABRI lalu melakukan langkah politik dengan datang ke Presiden sembari menyatakan dukungan terhadap reformasi secara gradual. Lalu Pangab Jenderal TNI Wiranto mengadakan jumpa pers yang menegaskan permintaan Ketua DPR/MPR agar Presiden mengundurkan diri adalah tidak berdasarkan konstitusi. Pangab mendapat dukungan penuh dari ABRI.

Selasa, 19 Mei

Ketika Presiden muncul di televisi, banyak yang menduga ia akan mengumumkan pengunduran diri. Ia menawarkan pembentukan Komite Reformasi serta pemilu baru dan menegaskan tidak akan mencalonkan diri lagi. Kalau ia mundur, menurut Presiden, apakah akan menyelesaikan persoalan? Nanti malah akan datang protes kepada Wapres dan masalahnya tak akan selesai.

Kubu Wapres merasa kecewa. Menurut sejumlah sumber, Wapres datang ke Presiden dan mengatakan tetap setia dibandingkan siapa pun dan siap memikul tanggungjawab.

Unjuk rasa mahasiswa tidak mau menerima usulan Presiden. Ketua DPR/MPR mengeluarkan ultimatum Presiden harus menjawab permintaan mundur paling lambat tanggal 23 Mei.

Rabu, 20 Mei

Presiden secara politik mulai terpojok. Ia menerima tamu begitu banyak di Jl. Cendana, dan semuanya nampak bersatu padu dalam sikap ‘Presiden sebaiknya mengundurkan diri’. Di antaranya dua mantan Wapres, Sudharmono dan Try Sutrisno. Lalu datang surat pengunduran diri dari sejumlah menteri.

Abdurrachman Wahid atau Gus Dur mengatakan kepada putri Presiden, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) bahwa ia harus meyakinkan agar bapaknya mengundurkan diri. Menurut sejumlah sumber, Pangab kemudian setuju mendukung Habibie.

Sumber : KOMPAS (27/05/1998)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 618-621.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.