VERSI ‘ASSOCIATED PRESS’ : JAM-JAM TERAKHIR PRESIDEN SOEHARTO

VERSI ‘ASSOCIATED PRESS’ :

JAM-JAM TERAKHIR PRESIDEN SOEHARTO[1]

 

SELAIN harian Wall Street Journal yang menulis “Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto”, kantor berita Amerika, Associated Press (AP) tanggal 24 Mei juga menurunkan laporan berjudul Tentang Jam-jam Terakhir Soeharto.

Sekitar tengah malam, sesuatu telah berubah. Berada di rumah yang dijaga ketat aparat keamanan, Presiden selama seharian menghabiskan waktunya untuk menceritakan kepada keluarga, teman-teman dan menteri-menteri bahwa ia sudah siap menghadapi situasi.

Ketika tanggal 21 Mei sudah menjelang di pagi itu, Presiden sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Pagi itu ia berencana akan mengakhiri masa pemerintahannya selama 32 tahun.

“Sikapnya telah melunak.la seolah-olah seperti mendapat sebuah pesan dari Yang Di Atas,” kata salah satu sumber yang menceritakan jam-jam terakhir Presiden kepada AP.

Sumber-sumber itu tidak mau diungkapkan namanya.

Begitu beratnya beban yang mesti dikerjakan, mulai dari krisis ekonomi, unjuk rasa mahasiswa sampai kerusuhan yang menewaskan sekitar 500 korban, Presiden duduk di meja kerjanya dan menyiapkan pidato pengunduran diri. Pidato tulisan tangan itu kemudian diberikan kepada seorang ajudan untuk diketik.

Aparat keamanan terus berpatroli di semua penjuru Ibu Kota, tank-tank digelar di mana-mana untuk mengamankan Jakarta dari ancaman kerusuhan.

“Pada hari Rabu (20 Mei), situasi nampaknya tidak dapat dikendalikan lagi.” kata seorang diplomat asing di Jakarta.

Faktor ABRI

Apalagi negara-negara Barat seperti AS, seperti sudah menunjukkan pintu ke luar. Lebih penting lagi, tekanan internal terhadapnya semakin sulit dihadapi. Praktis semua orang mengkhawatirkan terulangnya peristiwa-peristiwa berdarah di masa lalu. Para pendukungnya yang paling fanatik sekalipun sudah mengetahui bahwa Presiden sudah kalah. Hal terbaik yang dapat mereka lakukan adalah mencoba membujuknya untuk mengundurkan diri.

Menurut laporan Newsweek edisi 1Juni, sepekan sebelum mundur, ABRI sudah memutuskan bahwa Presiden sudah tak bisa didukung lagi akibat penembakan mahasiswa Trisakti. Marzuki Darusman di majalah itu mengatakan bahwa unjuk rasa mahasiswa sudah mendapat dukungan dari ABRI. Pernyataan Ketua MPR/DPR Harmoko bahwa Presiden harus mundur juga merupakan sebuah upaya yang didukung ABRI, meskipun secara terbuka mereka masih menyatakan dukungan terhadap presiden.

Tanggal 20 petang, presiden bertemu dengan sejumlah tokoh penting. Yang pertama menemuinya adalah Pangab Jenderal TNI Wiranto. Pimpinan ABRI secara politik telah memutuskan sudah waktunya Presiden mundur. Presiden lalu membahas keputusan penting itu dengan dua mantan Wapres, Sudharmono dan Try Sutrisno.

“Presiden sangat tabah,”kata sebuah sumber.

Presiden kemudian makan malam bersama enam putra-putrinya. Lalu ia konsultasi dengan Wapres BJ Habibie, Presiden menyerahkan jabatan kepada Wapres 12 jam kemudian. Masih belum jelas apa yang dikatakan Presiden kepada Wapres mengenai pengunduran dirinya. Tetapi waktu itu, sekitar pukul21.00 WIB, nampaknya Presiden masih berniat untuk meneruskan tanggungjawabnya. Pada suatu saat di malam itu, menurut Kompas, Presiden menerima surat pengunduran dari menteri-menterinya, mengatakan mereka akan minta berhenti jika Presiden tidak mengundurkan diri.

Presiden tidak mampu lagi menjaga kekompakan kabinetnya. Ia juga terus memikirkan permintaan Pangab bahwa ABRI sudah tidak lagi mendukungnya. Ia juga semakin mengkhawatirkan ancaman kerusuhan yang lebih buruk lagi.

Pada pagi harinya, Presiden masuk ke limusin Mercedes-Benz berwarna hitam. Ia mengajak putrinya, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, satu-satunya orang yang dipercayainya di saat-saat kritis belakangan ini. Ketika selesai mengucapkan pidato mengundurkan diri di Istana Merdeka, Mbak Tutut menangis.

Habibie kemudian diambil sumpahnya. Setelah semuanya usai, Presiden ke luar bersama Mbak Tutut. Pada saat yang sama, plat nomor mobilnya diganti dari RI 1-singkatan Republik Indonesia 1- menjadi nomor baru B 244 AR.

Soal Wahyu

Padahal, menurut Asia week yang mengutip para pengamat yang sudah sejak lama mempelajari tabiat politiknya. Presiden merupakan pejuang yang tidak mudah menyerah.

“Kegagalan terbesarnya adalah selalu menghalang-halangi orang-orang yang mungkin bisa mengancam kedudukannya.” kata seorang jenderal purnawirawan.

Di awal 1990-an, ia menyingkirkan Pangab Jenderal TNI Benny Murdani dengan cara menunjuknya sebagai Menhankam dan hilang dari daftar kabinet. Pada tahun 1974, Wapangab/Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro yang mulai membayang-bayangi kekuasaannya, terlempar pula karena bersikap moderat terhadap unjuk rasa mahasiswa.

Orang-orang Jawa yakin Presiden memiliki ‘wahyu’ untuk menjadi orang nomor satu di republik ini. Tetapi sejak wafatnya Ny. Tien Soeharto tahun 1996, wahyu itu mulai redup. Lalu terjadi Peristiwa 27 Juli 1996, akibat kesalahan politik yang fatal ketika ia menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari jabatan Ketua Umum PDI.

Menarik memahami komentar Presiden terpiJih Filipina mengapa ABRI akhirnya memutuskan tidak mendukung Presiden.

“Arus kebebasan di Indonesia sudah tidak bisa ditahan lagi. Anda tidak bisa menjadi penguasa selama-lamanya.” katanya.

Tulisan AP, News week dan Asia week menggambarkan betapa mudahnya wartawan asing mendapat akses ke para pejabat /tokoh nasional. Entah mengapa, biasanya mereka kurang mau atau malas ngomong dengan wartawan lokal. Mungkin karena wartawan lokal pada akhirnya tidak bisa memuat komentar mereka seleluasa mungkin akibat pers yang terlalu dikontrol pemerintah.

Sumber : KOMPAS (26/05/1998)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 605-607.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.