USUT PELAKU UTAMA YANG BOHONGI PRESIDEN

USUT PELAKU UTAMA YANG BOHONGI PRESIDEN[1]

Jakarta, Media Indonesia

Kalangan DPR mendesak agar pihak kejaksaan mengusut aktor intelektual (otak) yang menyuruh petani membohongi Presiden Soeharto dalam temu wicara dengan petani Bengkulu baru-baru ini karena cara tersebut merupakan penghinaan terhadap Kepala Negara.

Penegasan tersebut merupakan kesimpulan percakapan Media dengan anggota DPR RIAA Oka Mahendra (FKP) dan Handjojo Putro (FPDI). Keduanya dihubungi terpisah kemarin di Jakarta berkaitan dengan pemberitaan bahwa seorang petani Bengkulu telah meminta maaf kepada Presiden Soeharto karena disuruh berbohong dalam temuwicara dengan Kepala Negara di Bengkulu belum lama ini. Menurut Oka Mahendra, pihak yang merekayasa agar petani tersebut berbohong sama sekali tidak menghormati Kepala Negara, menyebabkan Kepala Negara telah menerima informasi yang tidak benar dari rakyatnya. “Cara tersebut sama sekali tidak mendidik. Karena itu perlu diambil tindakan tegas agar tidak terulang lagi di daerah lain di masa mendatang,” kata Oka.

Sementara terhadap petani tersebut tidak perlu diberikan sanksi karena dia hanya diperalat oleh orang-orang tertentu demi kepentingan diri atau kelompoknya. Karena itu, kasus seperti ini jangan sampai dibiarkan tapi diusut sampai tuntas agar Kepala Negara dapat memperoleh data dan informasi yang akurat dalam dialog dengan rakyatnya.

“Pak Harto itu tahu dan beliau tidak suka dibohongi. Sekarang bukan lagi zaman feodal. Karena itu jika dibiarkan maka akan merajalela dan akhirnya Presiden tidak menerima data yang benar,” dia menambahkan.

Sementara itu Handjojo Putro mengatakan, aktor intelektual di balik petani Bengkulu itu tidak hanya membohongi Presiden Soeharto tapi juga membohongi seluruh masyarakat Indonesia karena acara temu wicara itu disiarkan televisi ke seluruh wilayah tanah air. Seluruh rakyat Indonesia, seperti juga Presiden Soeharto akhirnya menerima data dan informasi yang tidak benar.

“Aktor intelektual di balik kasus kebohongan tersebut harus segera diusut dan dituntaskan di pengadilan. Jangan sampai menjadi preseden yang akhirnya merugikan semua pihak,” dia menambahkan.

Seperti Oka, anggota Komisi III DPR Handjojo Putro pun mengatakan terhadap petani tersebut tidak perlu dikenakan tindakan hukum karena dia hanya diperalat. Lebih dari itu, dia telah meminta maaf dan mengaku secara jujur mengenai kebohongannya. (Den)

Sumber: MEDIA INDONESIA ( 20/05/1994)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 579-580.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.