UPACARA SOEHARTO MUNDUR, AGAK TEGANG

UPACARA SOEHARTO MUNDUR, AGAK TEGANG[1]

 

 

Jakarta, Bisnis

Pak Harto sejak kemarin (21 Mei) menyatakan berhenti sebagai Presiden RI dan selanjutnya Wapres BJ Habibie akan melanjutkan sisa masa jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003.

“Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-­sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan fraksi-fraksi, yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998,” ujar Pak Harto dengan wajah tegar saat menyampaikan pengumuman tersebut di Ruang Credential, Istana Merdeka kemarin pukul 09.00 WIB.

Peristiwa bersejarah, yang begitu singkat (hanya sepuluh menit), berlangsung sederhana kendati sedikit tegang. Dari 36 menteri Kabinet Pembangunan VII, hanya empat menteri yang hadir. Keempat menteri itu adalah Mensos Siti Hardijanti Rukmana (yang mendampingi Pak Harto), Menkeh Muladi, Menpen Alwi Dahlan, serta Pangab/Menhankam Wiranto.

Sesuai dengan pasal 8 UUD 1945, lanjutnya, maka Wapres Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998- 2003.

“Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia, saya mengucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan.”

Sehinggga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945 Pak Harto mengakui bahwa demi persatuan  dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional,

“Saya telah berniat membentuk Komite Refomasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun kenyataanya hingga hari ini, Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana tadi.”

Mulai hari ini, tambah Pak Harto,

“Kabinet Pembangunan VII demisioner dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah dihadapan DPR maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintah negara, maka Wapres sekarang juga akan melaksanakan pengucapan sumpah jabatan Presiden.”

Habibie mengawali pengambilan sumpah, sesuai isi pasal 9 UUD 45, di depan Ketua MA Sarwata dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim.

“Saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Memegang teguh UUD dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa.”

Tekad Habibie

Sementar itu, Menpen demisioner Alwi Dahlan menyatakan Presiden Habibie menegaskan bahwa Presiden baru adalah melaksanakan aspirasi rakyat yang dilakukan secara konstitusional.

“Aspirasi itu adalah pelaksanaan reformasi secara menyeluruh, termasuk reformasi politik, ekonomi, hukum dan segala segi.” kata Alwi.

Menurut Menpen (Demisioner), pemerintah terus akan melaksanakan komitmen yang telah disetujui dengan IMF.

Sumber : BISNIS INDONESIA (22/05/1998)

__________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 464-465.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.