UNTUK RAKYAT, BUKAN UNTUK PRESIDEN

UNTUK RAKYAT, BUKAN UNTUK PRESIDEN

Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto tampak riang dan cerah ditengah­tengah para petani Nusa Tenggara Timur. Baik waktu memulai panen jagung di desa Watumeluk, Kabupaten Sikka, maupun waktu menuai padi di desa Nangalaban, Kabupaten Manggarai, Presiden dan istri tampak berada dalam lingkungan sendiri, ditengah-tengah rakyat, yang mensyukuri panen melimpah.

Kebahagiaan rakyat memang selalu tampak menyegarkan jiwa Presiden kita ini, baik dalam kunjungan-kunjungan resmi, maupun dalam pemunculan-pemuculan mendadak ditengah masyarakat. Hati kita pun ikut merasa ringan, setiap kali menyaksikan kecerahan Presiden seperti itu.

Simpati kita mungkin timbul dari kesadaran bahwa tugas memimpin bangsa dan negara sangat berat menindih tokoh penyabar ini. Tugas yang diterimanya dari rakyat, dalam bentuk mandat MPR. Tugas yang jelas tak pernah dikejar-kejarnya, melainkan didesakkan kepadanya. Ia memang tawakal, dan ia menerima tugas sejarah ini, untuk membawa bangsanya kepada kejayaan.

Tetapi ia pun tentu memerlukan hiburan, untuk meringankan tugas berat itu sekedarnya. Dan patutlah bahwa hiburan itu didapatinya ditengah-tengah rakyat yang diabdinya.

Hati kita ikut merasa sakitjika ada yang menuduh Presiden Soeharto mengingini kekuasaan. Apa lagi jika sampai tuduhan demikian dinyatakan dalam selubung petisi berisi hasutan.

Demikian pula jika satu dua orang yang punya ambisi pribadi itu sampai memanfaatkan segelintir orang dungu untuk mengacau, seperti yang kita alami tanggal 18 Maret yang lalu, di Lapangan Banteng.

Kita patut memberikan perhatian yang bersungguh-sungguh terhadap penegasan Presiden Soeharto, yang disampaikan melalui para petani terbaik di Nusa Tenggara Timur.

Ia menegaskan lagi bahwa pembangunan dilaksanakan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan Presiden, apalagi kepentingan menjadi Presiden seumur hidup.

Tokoh yang memimpin bangsa Indonesia untuk kembali kepada rel konstitusi ini pun mengingatkan bahwa Presiden dipilih untuk lima tahun. Pada akhir lima tahun itu, Presiden harus memberikan pertanggung jawaban tentang pelaksanaan mandat yang diserahkan kepadanya.

Ia pun dapat dipilih kembali jika rakyat menghendakinya, tetapi jika rakyat tidak menghendakinya, boleh memilih yang lain, "Kalau tidak mempercayai, tidak usah memilihnya, pilih saja orang lain yang dipercayai," kata Presiden Soeharto dengan tegas.

Penegasan seperti itu perlu justru pada saat ini. Pertama, sebab dalam Pemilu 1982 ini banyak pemuda-pemudi yang baru memasuki usia dewasa untuk politik. Mereka ini mungkin tak mengenal keterikatan kuat Presiden Soeharto kepada Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, kita belum melihat calon Presiden yang lebih baik, sehingga akan terpaksa meminta Presidan Soeharto untuk melanjutkan tugas berat memimpin bangia dan negara.

Dua hal ini dapat dipakai pihak-pihak yang punya keinginan pribadi yang tak kesampaian untuk mencerca, sehingga dapat timbul gambaran yang salah.

Hal yang ditegaskan Presiden Soeharto rtu sebenarnya juga berarti bahwa siapa pun boleh berusaha untuk menjadi Presiden. Tetapi selama ini tidak kita lihat usaha yang serius, yang dilakukan dalam batas kemungkinan konstitusional.

Mungkin ada orang-orang yang menganggap diri lebih pandai, lebih mampu untuk menjadi Presiden RI, tetapi mungkin juga orang-orang ini tahu bahwa rakyat tak dapat mempercayai mereka.

Rakyat Indonesia tidak mempercayai dan tidak menyukai orang yang mengejar-ngejar kedudukan. Mungkin orang-orang beginilah yang menyadari tiadanya dukungan rakyat ini, dan berusaha membentuk kelompok, atau barang kali, membuat petisi, atau menggerakkan kerusuhan.

Apa mereka sadar bahwa dengan demikian mereka sudah memujuhi bangsa dan negaranya sendiri? Orang­orang begini patut dikasihani, lebih-lebih jika mereka mencerca atas nama demokrasi, atas nama konstitusi.

Jangan-jangan orang-orang demikian ini termasuk yang tak kira­kira mempergunakan. kekuasaan untuk menggusur-gusur rakyat waktu mendapat kesempatan.

HENDAKNYA penegasan Presiden Soeharto itu kita camkan baik-baik. la tak pernah mengejar-ngejar kedudukan dan kekuasaan. Jika ada yang merasa lebih mampu menjadi Presiden, kita persilakan. Tetapi hendaknya orang-orang ini jangan kecewa lagi, karena rakyat jelas masih menghendaki kepemimpinan Presiden Soeharto.

Bahkan tiada satu pun dari ke tiga peserta Pemilu 1982 ini yang dapat lepas dari kehendak rakyat itu. Kita pun percaya, Presiden Soeharto, seperti di waktu-waktu yang lalu, tidak akan mengecewakan rakyat. (RA)

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (05/04/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1110-1111.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.