UNTUK MEMIMPIN SUATU BANGSA PERLU ADANYA WAWASAN

Presiden Soeharto:

UNTUK MEMIMPIN SUATU BANGSA PERLU ADANYA WAWASAN [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto berpendapat bahwa untuk memimpin suatu bangsa tidak cukup hanya dengan program saja tetapi perlu adanya wawasan (vision) yang menggambarkan cakrawala (horizon) tentang masalah persoalan bangsa yang fundamentil dan mendasar.

Pendapat Presiden ini diungkapkan Letjen MMR Kartakusumah, Sekretaris Jendral Dewan Pertanahan Keamanan Nasional (Wanhamkamnas) setelah ia melaporkan hasil2 penggarapan konsepsi dan wawasan hari Kamis di Cendana mengenai bangsa dan negara yang ditugaskan Presiden kepada Wanhamkamnas.

Untuk mendapatkan wawasan seperti yang dikehendaki Kepala Negara itu bangsa Indonesia melalui Wanhamkamnas perlu menggali nilai2 dari masa lampau dan masa kini yang diarahkan pada masa depan, kata Kartakusumah.

Menurut Kartakusumah, nilai2 yang digali itu sudah termaktub di dalam falsafah bangsa Pancasila.

Ia mengatakan bahwa yang penting sekarang ialah bagaimana mewujudkan nilai2 fundamental itu menjadi kenyataan setelah 1978 dalam kehidupan bangsa dan negara dalam dunia yang selalu berubah.

Kartakusumah menjelaskan bahwa Presiden Soeharto tidak saja menghendaki adanya evolusi kerokhanian tetapi juga evolusi struktur yang menggambarkan aturan2 permainan diantara struktur legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Keinginan Rakyat

Kartakusumah menerangkan untuk mengelola suatu bangsa seorang pemimpin harus memiliki tiga hal: kearifan (wisdom), kenegarawanan (statesmanship) dan politik yang mendasar bukan politik golongan.

Seorang pemimpin harus mengetahui keinginan rakyat (The will from below), katanya menambahkan.

Ketika ditanya tentang siapa yang menggali Pancasila, Kartakusumah menjawab:

“Itu bukan soal buat saya sebab rakyat seluruhnya penggali. Bahwa itu ada penyambung lidah atau ada orang yang berbicara itu soal kedua. ltu soal remeh bagi saya”. (DTS)

Sumber : ANTARA (18/15/1977)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 322.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.