UNTUK BANGUN AULA KANDEPAG TRENGGALEK GAJI PEGAWAINYA AKAN DIPOTONG 3 TAHUN

UNTUK BANGUN AULA KANDEPAG TRENGGALEK GAJI PEGAWAINYA AKAN DIPOTONG 3 TAHUN[1]

 

Trenggalek, Republika

Ratusan pegawai negeri sipil di bawah lingkungan Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Trenggalek, Jatim, kini resah. Keresahan para pegawai Depag tersebut, menyusul rencana pemotongan gaji mereka selama tiga tahun untuk biaya pembangunan aula kantor Depag setempat.

Besarnya potongan gaji para pegawai ini bervariasi, sesuai dengan golongan kepangkatan. Setiap bulannya potongan mulai dari Rp.5.000 untuk golongan I sampai Rp.15.000 per orang untuk golongan IV kini masing-masing pegawai telah disodori blanko surat pernyataan bermeterai Rp.2.000 untuk kesediaan membayar dana pembangunan aula.

“Kalau pembangunan aula Depag akan dibangun secara gotong royong, mestinya tidak dengan cara memaksa seperti ini. Kami merasa penarikan iuran itu terlalu dipaksakan. Karena setiap pegawai disuruh membuat surat pernyataan kesediaannya di atas kertas bermeterai.” kata para pegawai Depag kepada Republika yang mewanti-wanti agar namanya tak ditulis di koran.

Menurut para pegawai Depag, surat pernyataan yang isinya bersedia menyumbangkan dana pembangunan aula Depag sudah mulai beredar dalam pekan terakhir. Sedangkan pembayarannya lewat pemotongan gaji setiap bulan selama tiga tahun. Pelaksanaannya mulai dilakukan April 1998 mendatang.

“Bagi pegawai Depag yang golongan tiga ke atas pemotongan itu tak ada masalah. Tapi bagi kami yang golongan rendahan ini (golongan I dan II), sangat berat sekali. Apalagi dalam masa krisis moneter sekarang harga-harga kebutuhan mahal.” katanya.

Dirincinya, pemotongan itu besarnya Rp.5.000 per orang (golongan I), Rp.7.500 (II), Rp.10.000 (III, dan IV) Rp.15.000.

Jika pihak Kandepag tak keberatan, papar para pegawai, hendaknya rencana pemotongan gaji guna pembangunan aula ditangguhkan. Mengingat kini para pegawai. khususnya golongan I dan II tengah megap-megap menutupi kebutuhan sehari­harinya yang kian menggila.

“Pembangunan aula itu kan tak mendesak. Jadi ditangguhkan dulu lah, dari pada memberatkan para pegawainya.” harap mereka.

Kepala Kantor Departemen Agama (Ka-kandepag) Kabupaten Trenggalek, Drs. Handan Hawab yang ditemui Republika Rabu (25/3), tak menyangkal jika pihaknya merencanakan membangun aula. Pembangunan aula yang akan menghabiskan dana sekitar Rp.400 juta itu biayanya memang dari para pegawai di lingkungan Depag. Namun menurutnya, biaya yang diperoleh dari pegawai tersebut tak dilakukan dengan pemotongan gaji.

“Pemotongan gaji pegawai itu larangan pemerintah. Jadi tak benar kami melakukan pemotongan gaji kepada para pegawai di lingkungan Depag. Kami mengajak membangun aula itu secara sukarela, tak ada unsur paksaan. Jadi sekali lagi yang perlu anda tulis dana pembangunan itu secara sukarela.” kata Hamdan.

Sedangkan surat pernyataan dengan blanko bermeterai Rp.2.000 yang diedarkan itu, sambungnya, hanya untuk berjaga-jaga agar di kemudian hari para pegawainya tidak menuntutnya.

“Seperti halnya kalau kita meminjam uang di bank, kan disodori surat pernyataan bermeterai. Kami juga melakukan itu untuk menjaga agar di kemudian hari tak ada salah paham.” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan aula Depag yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta (Kelurahan Keludan, Trenggalek) dengan peletakan batu pertama dilakukan Kakanwil Depag Jatim, Dr. H Achmad Sutarmadi pada Februari 1998 lalu, itu dilakukan berdasarkan musyawarah bersama. Bahkan rencana itu sudah berlangsung sebelum ia menjabat sebagai Kakandepag Trenggalek.

Pembangunan aula itu sudah dimusyawarahkan terlebih dahulu. Kalau sekarang ada yang keberatan, kami terpaksa akan mensosialisasikan dulu. Ini mungkin ada beberapa panitia yang terputus memberi informasi kepada para pegawai di tingkat kecamatan, kata Hamdan.

Sumber : REPUBLIKA (26/03/1998)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 895-896.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.