Ulah Tangan Jahil

Kepada

Yth. Bapak H. M. Soeharto Ibu Tutut

di Tempat

ULAH TANGAN JAHIL [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bersama ini sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila surat ini mengganggu ketenangan Bapak. Maksud dan tujuan saya menulis surat ini ialah turut berbagi rasa suka maupun duka, apa yang Bapak rasakan saat ini. Kita sebagai manusia biasa boleh merencanakan sesuatu, tetapi Allah jualah yang menentukan. Kita hanya wajib berdo’a, berjuang dan beramal sesuai dengan kemampuan, dan kita wajib menerima apa yang Allah berikan walaupun pahit.

Saya sangat mengharapkan Bapak menghadapinya dengan ketabahan dan lapang dada (maaf bukan maksud saya menggurui). Saya sangat yakin bahwa Bapak adalah pejuang sejati dan pembela rakyat.

Saya sebagai warga negara Indonesia (pribumi asli) mengucapkan berjuta-juta terima kasih, walaupun akhirnya kondisi ekonomi, politik dan keamanan mengalami guncangan. Saya sangat yakin bahwa ini bukan kesalahan Bapak dan Ibu, semua ini adalah ulah tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Semua orang lupa dengan jasa-jasa Bapak, bahkan para menteri yang dulu sangat menyanjung-nyanjung Bapak kini ikut mencaci maki sampai di luar batas kemanusiaan. Saya sangat tidak rela Pemimpin saya dicampakkan begitu saja. Saya siap jadi pagar hidup bila Bapak menghendakinya.

Sebelum saya akhiri surat saya ini marilah kita sama-sama berdo’a semoga negara Indonesia kita tercinta secepatnya terlepas dari krisis.

Bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. (DTS)

Hormat saya,

M. Gufron

Negeri Sembilan – Malaysia

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 395-396. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.