ULAH SPEKULAN SAMA SEKALI TAK GANGGU CADANGAN DEVISA

ULAH SPEKULAN SAMA SEKALI TAK GANGGU CADANGAN DEVISA[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Para spekulan valuta asing (Valas) ternyata tak berani menanggapi tantangan otoritas moneter. Gejolak pasar uang pekan lalu tak sedikitpun membuat cadangan devisa yang dikuasai Bank Indonesia berkurang, karena nilai transaksi yang terjadi kecil sekali. BI juga tak perlu melakukan intervensi karena situasi pasar sudah pulih.

“Situasi moneter dan rupiah saat ini benar-benar aman.” ujar Gubernur Bank Indonesia kepada wartawan usai berbicara pada seminar internasional 50 tahun Bank BNI, Selasa di Jakarta.

Sedangkan di Komisi VII DPR. Menkeu Mar’ie Muhammad menegaskan bahwa mereda nya gejolak di pasar uang dan pasar modal pekan lalu membuktikan kuatnya fundamental ekonomi nasional.

Soedradjad Djiwandono mengungkapkan, berdasar pemantauan Bank Indonesia, kurs rupiah sepanjang Kamis dan Jumat memang sangat melemah terhadap dolar. Pada hari Kamis, rupiah anjlok 17 poin. Namun, anjloknya kurs itu tidak dibarengi dengan nilai transaksi yang besar.

“Transaksinya ternyata kecil sekali, sekitar 50-60 juta dolar AS. Itu tidak bisa dikatakan rush. Jadi, Anda jangan hanya terkejut dengan turunnya kurs, tapi ada nggak nilai transaksinya?” katanya.

Jumlah yang disebut Soedradjad itu memang sama sekali tidak ada artinya kalau dibanding perdagangan Valas (valuta asing) antar bank harian yang mencapai 5 milyar dolar AS.

Dengan posisi rupiah anjlok 17 poin terhadap dolar, lanjut Gubernur BI, berarti masih sekitar 20 poin di atas batas bawah kurs intervensi Bank Indonesia. Karena itulah Bank Sentral sama sekali tidak melakukan intervensi menghadapi gejolak di pasar uang, kendali tidak mengurangi kewaspadaan.

“Kita baru melakukan intervensi kalau kurs itu sudah menabrak batas atas atau batas bawah kurs intervensi yang ditetapkan BI.” ujarnya. Saat ini, posisi batas bawah dan batas atas kurs intervensi adalah Rp 2.323 dan Rp 2.441.

Lakukan Pengamanan

Dalam ekonomi terbuka dan terjadinya globalisasi, menurut Soedradjad, Indonesia memang tak bisa mempengaruhi atau mengendalikan perilaku investor atau spekulan pasar uang dan pasar modal asing. Para fund manager asing yang beroperasi di Indonesia, biasanya hanya memenuhi perintah dari “bos” yang bermarkas di luar negeri.

“Kalau mereka diperintahkan jual, ya langsung dilaksanakan.” katanya.

Karena itu, yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah menjaga konsistensi kebijakan makro, sehingga tercipta fundamental yang kuat dan mantap. Otoritas moneter sudah melakukan pengamanan-pengamanan, sehingga kalaupun terjadi suatu kerugian bisa ditekan serendah mungkin. Langkah yang telah dilakukan misalnya memperlebar kurs intervensi menjadi 5 persen (dari semula 3 persen), menjalin kerja sama dengan bank-bank sentral di Asia, menjaga cadangan devisa pada posisi yang aman, memupuk pinjaman siaga (standby loan) mempertahankan nilai tukar yang realistis, dan sebagainya.

“Seluruh upaya kita lakukan agar orang memiliki kepercayaan tinggi terhadap manajemen makro ekonomi, termasuk kebijakan nilai tukar kita.” kata Soedradjad.

Tergantung Fundamental

Itu pula yang ditekankan oleh Mar’ie Muhammad.

“Di mana-mana, setiap terjadi gejolak atau spekulasi, sepanjang fundamental ekonomi kuat biasanya akan reda sendiri. Kita sudah membuktikan itu. Tadi saya cek indeks harga saham juga sudah membaik lagi.” ujar Mar’ie Muhammad.

Dengan landasan itu pula, baik Gubernur BI maupun Menkeu mengajak masyarakat untuk tidak gampang cemas andai kata terulang gejolak-gejolak semacam ini.

“Kita tidak takut menghadapi spekulan asing.” Tutur Soedradjad.

Soedradjad tak membantah bahwa isu politik memang kadang-kadang mampu menyulut terjadinya suatu gejolak di pasar uang atau pasar modal. Tapi itu hanya salah satu aspek. Yang paling menentukan adalah fundamental ekonomi makro.

Meski kondisi sudah mereda, otoritas moneter hingga kini tetap waspada dan memantau perkembangan yang terjadi di pasar uang maupun pasar modal. Nilai rupiah yang sudah menguat pada Senin lalu, kemarin tetap dalam kondisi stabil di pasar uang antar bank Jakarta. Menurut para dealer, banyak pelaku pasar uang yang masih melihat-lihat situasi, sehingga pergerakan kurs dolar rupiah berada pada kisaran yang sempit, yakni Rp 2.338- Rp 2.339. Kendati demikian, pelaku pasar, terutama asing, cenderung mempertahankan mata uang dolar yang dipegang.

Di pasar uang Singapura, dolar AS nyaris tak berubah terhadap rupiah, hanya naik : tipis sekali. Dibanding posisi Senin sebesar Rp 2.338,1, Selasa kemarin kurs dolar melemah 65 menjadi Rp 2.338,75.

Sumber : SUARA KARYA (10/07/1996)

________________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 348-350.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.