UKURAN-UKURAN BERHASIL ATAU TIDAKNYA PENATARAN P4

UKURAN-UKURAN BERHASIL ATAU TIDAKNYA PENATARAN P4

Team penasehat Presiden tentang Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, oleh Presiden Soeharto diminta ikut menentukan ukuran bagi berhasil atau tidaknya penataran P4 yang dilakukan selama ini.

"Gambaran tentang ukuran-ukuran tersebut sudah mulai ada dan akan kami tentukan sambil jalan nantinya," kata Ketua team P4 Roeslan Abdulgani Senin kemarin, selesai bersama seluruh anggota P7 bersama dengan Presiden di Bina Graha.

Dikatakan, sekaligus Team P7 diminta untuk meningkatkan pengamanan serta pengecekan.

"Sebab memang disadari, ini bukanlah pekerjaan mudah, memerlukan waktu. Janganlah berfikiran seolah setelah mengikuti penataran, orang lalu jadi baik," kata Roeslan.

Ia menjelaskan, setelah masa Lebaran nanti, penataran memang akan diperluas jangkauannya, mencakup golongan-golongan dalam masyarakat rencana Presiden ini, menurut Roeslan sesuai tugasnya sebagai Mandataris MPR untuk melaksanakan TAP II MPR mengenai P4.

Penataran untuk berbagai goIongan masyarakat ini telah dimulai, dengan para tokoh agama dan pemuda/mahasiswa. Nantinya akan dilanjutkan dengan kalangan usaha seperti pemimpin-pemimpin perusahaan dan buruh; para pemuka adat dan lain­lainnya.

Ditambahkan, para pemuka adat ini punya fungsi penting, karena adat dalam suku-suku di Indonesia merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam perkembangan hukum serta masyarakat, Selain itu pembudayaan Pancasila lewat para pemuka adat, diharapkan lebih efektif.

Ia menilai, dengan penataran bagi para tokoh agama dan pemuda/mahasiswa beberapa waktu lalu, temyata dicapai komunikasi yang intensif. Dan para peserta tersebut dapat mengemukakan hal-hal yang penting sekali sebagai saham masuk.

Sedang mengenai penataran untuk para pegawai negeri, dinyatakan hal ini didahulukan. Karena aparatur tersebut selain harus sebagai contoh bagi masyarakatnya, juga karena mereka inilah yang paling mendapat sorotan masyarakat,

"Hasil-hasil sorotan itu memang kita ketahui dan kita sampaikan agar kondisi masyarakat kita dapat lebih baik dalam usaha penyebaran dan pembudayaan Pancasila," demikian Roeslan Abdulgani.

Perlu Koreksi

Mengenai pelaksanaan penataran P4 selama ini, ia menilainya sudah cukup baik.

”Tapi kadang-kadang masih adajawaban yang belum seperti diharapkan. Sehingga koreksi masih perlu untuk penataran-penataran selanjutnya," kata Roeslan tanpa merinci lebih jauh.

Ditanya apakah para pegawai yang sudah lulus penataran itu berarti punya prospek lebih baik dalam karier mereka, Roeslan mengingatkan bahwa lulus penataran itu adalah lulus formal, untuk memenuhi persyaratan formal saja, ”Yang lebih penting adalah amalnya, "katanya.

Mengenai keluhan bahwa penataran tingkat Adirasa terlalu berat, misalnya ada peserta yang karena orang tuanya meninggal dan absen dari penataran kemudian dinyatakan ”tidak lulus”, sehingga menirnbulkan gerutuan ”lalu di mana letak Pancasila­ nya", Roeslan mengatakan itu sebenarnya adalah satu soal yang bisa dipecahkan, tanpa perlu mempersoalkan Pancasila-nya sendiri.

Dalam pertemuan dengan Presiden kemarin, Team P4 selain melaporkan hasil kerja mereka, juga menyampaikan bahan-bahan bagi pidato kenegaraan yang akan diucapkan Presiden tgl 16 Agustus. Selain Roeslan, ikut hadir GPH Djatikusumo (wakil ketua) dan para anggota dr Soedjono, Maskun, Prof. Satrio, Rusli Halil dan Harsono Tjokrominoto.

Sementara itu baik Mensesneg Sudharrnono maupun Menteri PAN JB Sumarlin beberapa waktu lalu ketika ditanya mengenai penilaian tentang hasil penataran P4 bagi para pegawai negeri mengemukakan, hasil-hasil tersebut merupakan proses.

Sekalipun demikian, keduanya mengatakan pemerintah akan memonitor terus mengenai tingkah laku akan umpan-balik lainnya dari kalangan aparatur yang telah menerirna penataran P4.

Menurut Mensesneg, pemerintah sedang mengumpulkan semua bahan mengenai masalah yang ditanyakan tersebut, "Tapi itu semua, perlu waktu," katanya. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (31/07/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 135-137.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.