TURUNNYA SOEHARTO UBAH RENCANA SENIMAN

TURUNNYA SOEHARTO UBAH RENCANA SENIMAN[1]

 

Jakarta, Kompas

Pengalihan kekuasaan Presiden Soeharto kepada BJ Habibie, Kamis (21/5), mengubah rencana sejumlah seniman. Aktor Butet Kertaredjasa yang semula akan beraksi seperti Presiden Soeharto berpidato di Gedung DPR/MPR, terpaksa mengubah spontan naskah pidatonya dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta.

Pemusik Harry Roesli menganggap karya-karyanya tentang Soeharto kini masuk ‘museum’. Perupa Tisna Sanjaya dikabarkan membatalkan rencana pameran tentang Soeharto awal Juni, dalam format Soeharto masih menjabat presiden.

Butet yang datang dari Yogya menyebutkan, ia mendengar dari radio tentang turunnya Soeharto ketika dari Bandara Soekarno-Hatta memasuki kawasan Kebayoran.

“Ya, saya langsung ubah naskah,” katanya.

Namun, Butet yang dikenal sebagai salah seorang aktor terbaik itu tidak menirukan gaya Habibie.

Ia tetap menggunakan gaya Soeharto dan logikanya termasuk ungkapan ‘daripada’, tetap berkomentar tentang Habibie. Misalnya, harapan untuk sama-sama mengutamakan keluarga dan mengambil dana reboisasi.

Pidato tentang Habibie pula, belum jelas apakah nantinya akan dengan gaya Habibie yang akan ditampilkan Butet di Bandung, Sabtu.

“Saya masih akan keliling. Dan siap untuk menjadi pengisi suara Amoroso Katamsi (pemeran Soeharto dalam film tentang G-30S PKI arahan Arifin C Noer) kalau nanti dibikin lagi film tentang Soeharto.” kata aktor dari Yogya itu.

Sambil bangga terhadap salah satu hasil perjuangan bersama, yakni Soeharto turun, pemusik Harry Roesli tampa ‘lemas’ karena karya-karyanya kurang ‘bunyi’ kalau ditampilkan lagi. Sejak tahun 1971, alumnus ITB ini antara lain menghasilkan nomor-nomor Bapak Pembangunan Jilid 2, Tuan Presiden, G30-S, Over Dosis, Jangan Menangis Indonesia, Lima Tahun Oposisi, IPTN (Industri Pesawat Terbang Tidak Laku Nihye). Ada juga karya untuk pendidikan politik remaja, Opera Tusuk Gigi. Semuanya diakui Harry sebagai karya untuk mengingatkan penyimpangan­penyimpangan Soeharto.

“Ya, sekarang saya mungkin tinggal ke (arah) Habibie. Sebagai orang pinter, dia memang jago. Tetapi kan pemimpin tidak cukup hanya dengan itu.” kata Harry.

Ditandaskannya bahwa alih budaya juga sama pentingnya dengan alih teknologi, sehingga, misalnya, nanti tidak ada lagi prinsip-prinsip teknologi seperti efisiensi diterjemahkan sebagai jalan pintas.

Sumber : KOMPAS (22/05/1998)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 831-832.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.