TUNKY : SEMUA KEKUATAN NASIONAL DIKERAHKAN UNTUK MOBNAS

TUNKY : SEMUA KEKUATAN NASIONAL DIKERAHKAN UNTUK MOBNAS[1]

 

Kyoto, Antara

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tunky Ariwibowo menegaskan, pemerintah akan mengerahkan semua kekuatan yang ada di dalam negeri untuk mempercepat pengembangan industri mobil nasional (mobnas) termasuk industri komponen pendukungnya.

Tunky, ketika berbicara kepada pers seusai mengunjungi pabrik elektronika milik Mitsushita Electronic Corporation (MEC) di Kyoto, Jepang, Rabu, menambahkan, itu dilakukan menyusul kekecewaan pemerintah terhadap sikap pemerintah Jepang yang tak mau mengerti alasan dikeluarkannya mobnas.

Pemerintah Jepang melalui Menteri Industri dan Perdagangan Internasional nya, Shinji Sato, beberapa hari lalu mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah meminta forum panel di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) guna membicarakan kebijakan mobnas Indonesia.

Seusai pertemuan dengan enam menteri dan Gubernur Bank Indonesia, Soedradjat Djiwandono, yang membahas keputusan sikap Jepang itu, Presiden Soeharto telah memutuskan untuk menghentikan semua pembicaraan bilateral dengan Jepang mengenai mobnas.

Para menteri yang dipanggil Presiden untuk membicarakan mobnas itu adalah Menko Prod is Hartarto, Menko Ekku Wasbang Saleh Afiff, Menperindag Tunky Ariwibowo, Menkeu Mar’ie Muhammad, Meninvest Sanyoto Sastrowardoyo, dan Mensesneg Moerdiono.

Seperti yang disampaikan Moerdiono kepada pers seusai pertemuan itu, Presiden juga menginstruksikan para menteri untuk memformulasikan cara yang tepat untuk mempercepat pengembangan industri mobnas.

Menurut Tunky, langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah saat ini adalah membantu proyek mobnas itu sendiri yaitu berupa penguatan struktur industri, termasuk industri komponen.

Depperindag sendiri, kata Tunky, telah menempuh cara-cara tertentu termasuk pembicaraan bilateral dengan Jepang untuk menjelaskan secara mendalam alasan­-alasan di balik keluarnya kebijakan mobnas.

“Namun, karena Jepang menginginkan cara lain, ya akan kita lakukan. Dulu pun kita sudah antisipasi. Tetapi yang pasti kita kecewa karena sebenarnya masalah ini bisa diatasi secara bilateral.” ujarnya.

Kendati demikian, Tunky menegaskan bahwa hubungan ekonomi Indonesia Jepang tidak akan terganggu oleh masalah mobnas ini.

Dia mencontohkan, kunjungannya ke Jepang kali ini adalah dalam rangka meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dalam industri elektronika dan tekstil antara dunia usaha Jepang dan Indonesia.

Investasi Jepang di Indonesia di dua sektor industri itu saat ini sangat besar dan itu menunjukkan besarnya minat dari dunia usaha Jepang terhadap iklim investasi di dalam negeri.

Namun, yang diharapkan pemerintah adalah agar investasi yang masuk dapat menciptakan keuntungan ekonomis timbal balik antara kedua belah pihak, katanya,

“Perusahaan-perusahaan Jepang yang masuk ke dalam negeri harus mampu mengekspor produknya ke luar negeri. Ini yang dinamakan kerjasama yang saling menguntungkan.”

Dari pertemuannya dengan para pengusaha Jepang selama di Kyoto, Tunky menyimpulkan minat pengusaha negara itu untuk melakukan investasi ke Indonesia masih sangat besar dan itu membuktikan bahwa perselisihan di seputar mobnas tidak mempengaruhi hubungan bisnis secara keseluruhan.

Sumber : ANTARA (23/04/1997)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 336-337.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.