TUNKY : RI HORMATI ATURAN WTO TERMASUK BAGI OTOMOTIF

TUNKY : RI HORMATI ATURAN WTO TERMASUK BAGI OTOMOTIF[1]

 

Jakarta, Antara

Indonesia menegaskan sikapnya untuk tetap mematuhi aturan-aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sehingga kebijaksanaan baru tentang industri otomotif pun memperhatikan ketentuan WTO.

“Indonesia tetap memperhatikan dan menghormati komitmen pada kesepakatan­-kesepakatan internasional seperti AFTA dan WTO.” kata Menperindag Tunky Ariwibowo kepada pers di Bina Graha, Selasa.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto mengenai kunjungannya ke Jepang tanggal 9-10 April untuk memberi penjelasan tambahan kepada para pejabat Deplu dan MITI, Tunky mengatakan ketentuan baru di bidang mobil nasional juga memperhatikan aturan WTO.

“Jepang ingin kebijaksanaan baru itu tidak merugikan perusahaan-perusahaan mereka yang sudah lama beroperasi disini. Mereka khawatir ada beberapa ketentuan yang kurang selaras dengan aturan WTO.” kata Tunky.

Karena itulah, katanya, dalam waktu dekat ini akan dilakukan pertemuan di antara para pejabat senior Indonesia dan Jepang untuk membahas ketentuan barn itu. Namun Tunky belum bisa menyebutkan apakah pertemuan itu berlangsung di Indonesia atau di Jepang.

Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 2 tahun 1996 yang memberikan kesempatan kepada PT. Timor Putra Nasional untuk membuat mobil nasional. PT ini secara bertahap diwajibkan menggunakan komponen lokal.

Penggunaan komponen lokal selama tiga tahun mendatang ini secara bertahap naik mulai dari 20 persen, 40 persen hingga 60 persen. Perusahaan ini dibebaskan dari kewajiban membayar bea masuk bagi komponen yang diimpornya serta pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Menurut Tunky, kepada para pejabat Jepang itu telah dijelaskan bahwa kebijaksanaan baru ini bertujuan agar Indonesia bisa mandiri dalam industri kendaraan.

“Kebijaksanaan ini dikeluarkan setelah mempelajari ketentuan WTO.” kata Tunky.

Karena itulah, sekalipun Indonesia telah menegaskan bahwa kebijaksanaan ini diputuskan setelah mempelajari aturan WTO, tetap terbuka dialog bagi kedua negara.

“Concern (kekhawatiran) mereka tentu kita tanggap dengan membuka dialog pada tingkat pejabat senior.” kata Tunky Menegaskan.

Kepada Jepang juga diingatkan bahwa mereka akan tetap bisa ikut serta dalam pembangunan industri kendaraan bermotor.

Kebijaksanaan baru ini dikeluarkan karena Indonesia ingin mandiri dalam menguasai teknologi otomotif Indonesia, kata Tunky, ingin mendapat kebebasan baik dalam mengimpor maupun mengekspor hasil industrinya.

Sumber : ANTARA (16/04/1996)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 301-302.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.