TULALIT

TULALIT[1]

 

Jakarta, Republika

Sepanjang hari kemarin, Redaksi Republika menerima ratusan telepon dan faksimil yang berisi komentar mengenai pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden RI dan pengangkatan BJ Habibie sebagai Presiden ketiga. Berikut ini, sebagian kecil di antaranya :

Alhamdulillah. Ya Allah, Engkau menyuruh kami meminta dan Engkau pasti mengabulkan. Karena itulah, pada kesempatan ini, munajat kami kumandangkan. Ya Allah, Engkaulah yang memberi kekuasaan pada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau pula yang mencabut kekuasaan dari orang yang tak Engkau kehendaki. Berilah kemampuan kepada pemimpin baru kami, Bapak BJ Habibie, kiranya mampu mengangkat martabat bangsa kami, di antara bangsa-bangsa di dunia. Ya Allah, berikanlah kepada pemimpin baru kami itu kemampuan menegakkan amanah, seperti Ibrahim AS, seperti Yahya AS, dan seperti Baginda Nabi Muhammad SAW. 200 Anak Yatim, Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka Jakarta.

Pak Harto Kok Bapak turun beneran sih, kita kan cuma bercanda .. Mardian, Mahasiswa Universitas Indonesia.

Bertepatan dengan ulang tahun anak saya, Gorby, yang ketiga 21 Mei kemarin, Indonesia yang telah merdeka 53 tahun, juga melantik Presiden yang ketiga. Jika kelak lima puluh tahun mendatang Gorby jadi Presiden, saya cuma berharap bukan menjadi Presiden kelima. Karena masa jabatan presiden tidak harus lebih dari 30 tahun. Bapaknya Gorby, Pasar Minggu, Jaksel.

Alhamdulillah, akhirnya bangsa ini diselamatkan Allah dari kehancuran, dengan pengunduran diri Soeharto. Finaldo, Pegawai Swasta.

Demi Allah

Sudah terlalu banyak darah dan air mata, Sudah terlalu banyak yang jadi martir dan orang yang mati konyol sia-sia, Sudah terlalu banyak yang rusak dan murka, Sudah terlalu banyak dusta dan adu domba, Sudah terlalu banyak yang hilang dan luka-luka, Sudah terlalu banyak yang lapar dan menderita. Tiada lagi melodi .. Tiada lagi harmoni .. Terlalu banyak janji basi-basi ..

Demi Allah

Sudah terlalu banyak yang mempertahankan kesalahan Lebih berani daripada membela kebenaran, sehingga .. Kemenangan lebih didewakan daripada kebenaran, Sudah terlalu banyak yang disudutkan dan dikambinghitamkan, Sudah terlalu banyak yang men-Tuhankan hukum manusia Tapi lupa pada hukum Sang Pencipta.

Dan …

Aku tidak bisa bernyanyi lagi, karena terlalu riuh dan gegap gempita diluar sana .. Terlalu resah, gelisah di dalam rumah .. Aku tidak bisa bernyanyi lagi karena hanya akan didengarkan dengan perut yang lapar, karena hanya akan didengarkan dengan hati yang terbakar, karena telinga-telinga hati nurani sudah terlalu lelah Mendengar pidato yang simpang siur, slogan-slogan, yel-yel, Aba-aba, komando serta propaganda ..

Demi Allah dan Fisabilillah

Sudah terlalu banyak darah dan air mata

Kini Reformasi menjadi mutlak adanya

Dengan berbekal hati nurani dan akhlak mulia

Semoga Tuhan memberi hasil yang telak Demi rakyat banyak, demi negeri tercinta

Demi Allah, AllahuAkbar!!

Dan .. Sudah terlalu banyak darah dan air mata

Mari kita bicara tentang hati nurani, Bukan sekadar ambisi, janji dan basa basi

 

Salam Reformasi

Evie Tamala

Sumber : REPUBLIKA (22/05/1998)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 913-915.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.