TRITURA MERUPAKAN TONGGAK SEJARAH

PRESIDEN SOEHARTO :

TRITURA MERUPAKAN TONGGAK SEJARAH

SIDEN SOEHARTO menyatakan bahwa Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) ng dicetuskan rakyat Indonesia dengan kepeloporan kaum muda di tahun 966, merupakan tonggak sejarah dalam perjoangan bangsa Indonesia untuk membangun negara seperti yang dicita-citakan bersama yaitu masyarakat sejahtera berkeadilan sosial, berdasar Pancasila dan UUD 1945.

Hal itu dikemukakan Presiden Soeharto dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Menteri Muda Urusan Pemuda dr. Abdul Gafur pada puncak upacara KUT Tritura tanggal 10 Januari di Balai Sidang Senayan, hari Minggu.

Peringatan itu diselenggarakan tokoh-tokoh Angkatan 66 yang tergabung dalam Yayasan Pembangunan Pemuda Indonesia (YPPI) yang diketuai David Napitupulu dibantu Drs Fachmi Idris, Aberson MS, Suryadi dan lain-lainnya.

Kepala Negara menyatakan bahwa Tritura itu meletus sebagai jawaban atas kemelutnya bangsa dan negara pada tahun-tahun itu (1965). Namun tampak jelas bahwa Tritura itu jangkauan jauh ke depan dalam rangka memperkokoh kehidupan bangsa dan negara Indonesia agar makin cepat bergerak menuju cita-cita kemerdekaan.

Hakekat Tritura itu ada tiga hal mendasar yang menjadi kekuatan bagi kemajuan dan kekokohan bangsa dan negara kita selanjutnya.

Ketiga hal itu ialah dipertahankannya Pancasila dan UUD 1945, adanya pemerintahan yang stabil dan berwibawa serta pelaksanaan pembangunan yang membawa kemajuan dan kesejahteraan.

"Dan memang ketiga ha] mendasar itulah yang menjadi sendi-sendi kekuatan Orde Baru (Orba) yang selama ini terus kita perkuat," kata Presiden Soeharto.

Dikemukakan selanjutnya, dengan menyadari masih adanya kekurangan dan kelemahan, dengan menyadari perlunya terus perbaikan dan penyempurnaan, maka sekarang (16 tahun setelah Tritura) Kita berjalan secara konsekuen menegakkan Pancasila dan UUD 1945 dalam mengembangkan pemerintahan yang stabil dalam menggerakkan pembangunan.

Masih Jauh

Presiden menambahkan bahwa perjalanan perjuangan bangsa Indonesia masih akan panjang dan tujuan yang akan dicapai juga masih jauh. Untuk mencapai tujuan itu katanya, kita semua tanpa kecuali harus bekerja keras tidak mengenal lelah.

Dan yang penting adalah bahwa setiap waktu kita selalu berusaha untuk memperbaiki apa yang masih perlu dan mungkin diperbaiki. Semangat ini harus kita pelihara bersama­sama, tambahnya.

Diyakininya bahwa dengan memelihara semangat itu, peranan semua eksponen Angkatan ’66 itu kini tersebar, pendidikan dan masyarakat luas.

Dengan terus menyalakan dan memelihara semangat Tritura, semangat, 66 setia kepada Pancasila dan UUD 1945, terus bersatu padu bertekad membangun, maka kita yakin bahwa masa depan bangsa Indonesia adalah masa yang indah seperti yang dicita-citakan oleh kemerdekaan nasional kita, kata Presiden Soeharto.

Dalam upacara peringatan dwiwindu 6 tahun HUT Tritura itu tampak hadir Menpen Ali Moertopo, Menmud Drs. Cosmas Batubara (kedua-duanya bersama isteri), Irjen Deplu Sarwo Edy Wibowo dan seluruh anggota YPPI (Angkatan ’65) serta kaum remaja, pemuda dan pelajar di DKI Jakarta yang membanjiri ruangan Balai Sidang hingga luber ke serambinya.

Selesai upacara di Balai Sidang itu, dipimpin tokoh Angkatan ’66 David Napitupulu mereka berziarah ke makam Arif Rachman Hakim di tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir Jakarta Selatan. (RA

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (11/01/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1139-1140.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.