TOMMY DAN TATA BUKAN DIJODOHKAN

TOMMY DAN TATA BUKAN DIJODOHKAN[1]

 

Jakarta, Antara

Pertemuan antara Hutomo Mandala Putra Soeharto, putra Presiden Soeharto, dan Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjosoebandoro, putri Soerjosoebandoro, yang menikah tanggal 30 April 1997, adalah bukan akibat dijodohkan melainkan karena berkenalan sebagai muda-mudi.

Pertemuan kedua muda-mudi ini berlangsung di Australia, tempat calon mempelai putri belajar lansekap. Ardhia Pramesti Regita Cahyani yang nama akrabnya Tata sekarang sedang bertugas merenovasi Hotel Borobudur Jakarta sesuai dengan keahliannya.

Setelah berkenalan beberapa lama, akhirnya mereka sepakat untuk menjalin hubungan sebagai sepasang suami istri. Karena itulah, kemudian keluarga Pak Harto yang antara lain diwakili Mbak Tutut, Sigit Harjojudanto, dan juga Kardono baru-baru ini menyampaikan lamaran kepada keluarga Soerjosoebandoro yang tinggal di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.

Untuk menghadapi acara yang penting ini, rapat-rapat diselenggarakan hampir setiap hari Minggu di kediaman Pak Harto, Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Salah seorang yang paling sibuk adalah anak tertua Pak Harto, yaitu Mbak Tutut, karena harus menentukan siapa yang akan diundang pada perhelatan ini.

Pak Harto menginginkan agar jumlah undangan hanyalah sekitar 1.000 orang, sedangkan sebenarnya yang patut diundang jauh di atas angka itu. Pak Harto menentukan untuk setiap departemen yang diundang hanyalah menterinya serta sekjen. Para dirjen dan irjen tak diundang karena jumlah mereka terlalu banyak. Tommy sebenarnya bulan April ini akan berangkat ke Spanyol karena akan mengikuti reli. Namun karena acara pernikahan ini tidak bisa ditunda-tunda maka acara balapan yang semula akan diikutinya menjadi batal.

Upacara pernikahan ini akan berlangsung di Pendopo Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Pondok Gede, Jakarta Timur. Kardono, mantan Sekretaris Militer Kepresidenan dan mantan Inspektur Jenderal Pembangunan (Irjenbang), akan bertindak sebagai wakil keluarga Pak Harto.

Upacara pernkahan akan dimulai pukul 09.00 WIB dan Bambang Trihatmodjo kakak Tommy akan mencabut keris yang dikenakan calon mempelai pria. Saksi pada upacara ini adalah BJ Habibie dan Ginandjar Kartasasmita.

Setelah Tommy mengucapkan ijab kabul pada acara yang dipimpin petugas kantor Urusan Agama (KUA) Jakarta Timur, maka putra terkecil Pak Harto ini akan menyerahkan mas kawin kepada Tata melalui walinya. Kemudian petugas KUA akan menyampaikan doa bagi keselamatan dan kebahagiaan mempelai dan menyampaikan kata penutup pada acara pernikahan tersebut.

Adat Jawa akan mendominasi acara-acara berikutnya karena suami-istri berbahagia ini, Tommy dan Tata, berasal dari keluarga Keraton Solo.

Acara-acara itu antara lain adalah minum rujak degan yang disebut “ngunjuk rujak degan” yang dipimpin Halimah Bambang Trihatmodjo, menantu Pak Harto, serta saling menyuapi yang istilahnya adalah “dahar kembul”, yang acaranya dipimpin putri terkecil Pak Harto, Siti Hutami Adiningsih yang panggilan akrabnya Mamiek Pratikto.

Tommy akan menyuapkan nasi tiga kali kepada Tata dan kemudian Tata menyuapi suaminya sebanyak tiga kali pula.

Puncak acara ini adalah sungkeman Tommy dan Tata kepada kedua orang tua mereka serta para sesepuh.

Tommy yang memimpin kelompok Usaha Humpuss berusia 35 tahun sedang calon istrinya, Tata, 22 tahun.

Sumber : ANTARA (29/04/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 793-795.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.