TOKOH PERANCANG PEMBUKAAN UUD 1945, TH MOHAMMAD HASAN, TUTUP USIA

TOKOH PERANCANG PEMBUKAAN UUD 1945, TH MOHAMMAD HASAN, TUTUP USIA[1]

 

Jakarta, Antara

Tokoh perancang pembukaan UUD 1945, Tengku Haji Mohammad Hasan (92 tahun), meninggal di Jakarta, Minggu pukul 11.55 WIB saat akan melaksanakan sholat Zuhur.

Menurut rencana, jenazah dimakamkan di taman makam pahlawan Kalibata , Jakarta, Senin pukul 12.00 WIB setelah disemayamkan di rumah duka jalan Jati I, Kelurahan Jati, Jakarta Timur.

Menurut salah seorang sanak keluarga, almarhum tidak menderita sakit sebelum meninggal. “Setelah mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Zuhur, beliau meninggal,” tambahnya.

Hadir melayat antara lain Presiden Soeharto, Wapres Try Sutrisno, Menteri Negara Urusan Pangan Ibrahim Hasan, Ketua Umum PPP Ismail Hasan Metareum dan mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog Bustanil Arifin.

Mohammad Hasan pada 1950-an merupakan penggagas pembentukan lembaga cikal bakal Pertamina. Ia juga mantan gubernur atau wakil pemimpin besar untuk pulau Sumatera.

Ia merupakan perancang pembukaan UUD 1945 dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Selain itu, ia menjadi penengah ketika hampir terjadi kebuntuan dalam menetapkan UUD 1945, yakni saat terdapat ketidakcocokan pendapat atas tujuh kata,

“…dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.”

Hasan, yang oleh Bung Hatta diketahui mendalami agama, diminta proklamator itu meluluhkan hati Ki Bagus Hadikusumo, yang juga anggota PPKI, untuk menghilangkan tujuh kata tersebut. Upaya Hasan tersebut berhasil.

Tanda penghargaan yang diperolehnya antara lain Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan Perjuangan Kemerdekaan (1961), Bintang Gerilya (1961), Bintang Mahaputra Adipradana (1983) dan Bintang RI Utama (1995).

Ia lulus program doktoral di Leiden, Belanda, 1933, menerima gelar doktor kehormatan dalam bidang ilmu hukum tata negara dari Universitas Sumatera Utara pada 2 Juli 1990.

Hasan, yang lahir di Sigli, Aceh, 4 April 1906, mempunyai dua putri (satu sudah meninggal) dan meninggalkan empat cucu (dua putra dan dua putri).

(T.PE06/DN01/21/09/97  22:45/DNOl/21/09/97  23:44)

Sumber: ANTARA (21/09/1997)

___________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 774-775.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.