TINDAK LANJUT HASIL KUNJUNGAN PRESIDEN

TINDAK LANJUT HASIL KUNJUNGAN PRESIDEN

 

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto memanggil 9 Menteri dan Pangab ke Bina Graha untuk membicarakan tindak lanjut hasil kunjungan Kepala Negara ke Jerman, pekan lalu. Dua masalah yang dibahas untuk ditindaklanjuti adalah rencana pembelian kapal penumpang dan kapal keruk serta rencana pembangunan pembangkit listrik di Ombilin, Sumatera Barat.

Rencana tersebut meliputi pembelian 5 kapal baru untuk menambah 10 kapal penump ang yang telah dipesan pemerintah RI, dan akan dibiayai dengan pinjaman lunak serta kredit ekspor dari Jerman. Menko Ekuin Radius Prawiro yang didampingi Menpen Harmoko, Rabu, di Bina Graha menjelaskan, pembelian 5 kapal akan menelan dana 516,6 juta DM.

Pemerintah RI telah mendapat dua macam pinjaman untuk membiayai pembelian 5 kapal, yakni pinjaman sangat lunak sebesar 155 juta DM dan selebihnya sebesar 361,6 berupa kredit ekspor dengan bunga sesuai bunga pasar uang. Kredit sangat lunak bunganya 0,75% dengan masa pinjaman 27 tahun dan tenggang waktu 13 tahun. Kelima kapal yang akan dibeli dari Jerman itu terdiri dari dua kapal berbobot 14.000 dwt dan 3 kapal berbobot 6.000 dwt.

Selain kapal penumpang, Indonesia juga membutuhkan kapal keruk untuk menjaga kedalaman pelabuhan-pelabuhan, sehingga kapal tetap bisa merapat ke dermaga. Namun rencana pembelian kapal keruk itu tidak diungkapkan Radius, mengenai apakah telah disetujui permintaan pinjamannya oleh Jerman. Mengenai rencana pembangunan pembangkit listrik Ombilin, Indonesia membuka peluang kepada swasta Jerman untuk turut memanfaatkan kesempatan itu. Namun Indonesia juga mengharapkan pinjaman dari Jerman.

 

Perdagangan

Presiden Soeharto dalam pertemuan dengan para pemimpin Jerman meminta perhatian atas ketimpangan neraca perdagangan RI- Jerman. Jerman setiap tahun mengekspor produknya ke  Indonesia senilai 1,5 milyar dolar AS, sedangkan Indonesia ekspornya ke Jerman hanya sekitar 750 juta dolar AS. Ketidakseimbangan ini diungkapkan Presiden kepada Menteri-menteri dan Pangab, kemarin.

Kepada para pemimpin Jennan, Presiden menawarkan suatu cara agar tercapai keseimbangan neraca perdagangan kedua negara. Cara yang ditawarkan adalah Jerman diminta melakukan investasi berbagai komponen di Indonesia. Produk industri itu lalu diimpor Jerman.

Melalui cara itu Jerman tidak akan dirugikan, sebab produksi komponen di Indonesia akan lebih rendah biayanya dibandingkan jika dibuat di Jerman sendiri. Ekspor komponen ke Jerman diperkirakan akan menambah bobot untuk tercapainya keseimbangan perdagangan RI-Jerman.

Cara yang ditawarkan kepada Jerman itu pemah melakukan RI terhadap Prancis, sehingga neraca perdagangan menjadi seimbang. Prancis melakukan investasi komponen peralatan listrik di Pulau Batam, produk dari investasi itu lalu diimpor kembali oleh Prancis.

 

Inflasi

Dalam pertemuan di Bina Graha itu diumumkan bahwa inflasi selama bulan Juni 0,44 persen Dengan demikian inflasi selama 6 bulan tahun ini mencapai 3,6 persen. Angka inflasi selama ini diumumkan dalam Sidang Kabinet terbatas bidang Ekuin.

Berhubung bulan ini tidak ada Sidang Ekuin karena Presiden melakukan kunjungan kenegaraan ke Jerman, maka diumumkan saat Presiden mengundang Menteri-mentari di lingkungan Ekuin.

Para Menteri yang dipanggil Presiden selain kedua Menteri yang telah disebutkan adalah Menteri Perindustrian, Menteri Pertambangan dan Energi, Menteri Perhubungan, Mensesneg, Menko Kesra, Menko Polkam dan Menmud Seskab. (SA)

 

 

Sumber : SUARA KARYA (11/07/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 110-111.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.