TIDAK UNTUK SEGELINTIR ORANG

TIDAK UNTUK SEGELINTIR ORANG[1]

Semarang, Kompas

Presiden Soeharto menyatakan, Pemerintah telah memanfaatkan sekelompok orang untuk mampu membuat pertumbuhan ekonomi. Kepala Negara yang bersyukur karena bisa meresmikan proyek-proyek yang menyangkut langsung kebutuhan hidup rakyat kecil, berupa rumah susun menggantikan perumahan kumuh, listrik masuk desa, dalam waktu dekat akan menyerukan penggunaan batubara untuk setiap rumah tangga.

Presiden Soeharto menyatakan hal itu Sabtu kemarin (24/10) di Semarang dalam rangka penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba KB perusahaan tingkat nasional dan kecelakaan nihil serta peresmian penghunian rumah susun dan listrik masuk desa. Dalam upacara yang dipusatkan di pabrik benang tenun Bitratex, Kepala Negara didampingi Ny Tien Soeharto, Menteri Negara Perumahan Rakyat Siswono  Yudohuspdo, Menaker Cosmas Batubara, Menko Kesra  Soepardjo

Rustam, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Haryono Suyono, Diljen Bina Hubungan Ketenaga kerjaan dan Pengawasan Norma Kerja (Binawas) Dr Payainan C. Simanjuntak dan Gubernur Jateng H smail.

Pengertian

Presiden minta pengertian masyarakat agar tidak menyalah tafsirkan pembangunan yang berlangsung di Indonesia saat ini. “Saudara-Saudara jangan sampai, lantas terpengaruh oleh suatu pandangan yang menilai seolah-olah pembangunan kita ini hanya menguntungkan beberapa gelintir orang saja, “ujarnya.

Sekelompok orang yang diberi peluang tersebut, kata Presiden telah mampu membuat pertumbuhan ekonomi. Mereka ini telah dimanfaatkan pemerintah. “Kalau tidak ada pertumbuhan lalu apa yang kita ratakah, tidak ada yang diratakan hanya kemiskinan saja, “ujar Kepala Negara.

Menurut Presiden

“Cita-cita pembangunan di Indonesia ialah menghasilkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, kalau hanya adil saja mudah Tapi hanya adil tanpa kemakmuran hanya akan membagi kemiskinan saja ”Adil mudah tapi makmur yang sulit” kata Presiden. “Oleh karena itulah kita harus berusaha sedemikian rupa hingga keadilan tercipta dan secara bertahap menciptakan kemakmuran”.

Selanjutnya Kepala Negara menjelaskan dengan adanya pertumbuhan ekonomi berkat adanya orang-orang yang mampu memanfaatkan peluang, maka pemerataan bisa dilakukan. Pemerataan itu, katanya, bisa dilakukan dengan memberlakukan penarikan pajak kepada mereka yang berhasil dan hasilnya bisa digunakan antara lain membangun rumah susun, listrik masuk desa dan program-program lainnya yang menyangkut kepentingan banyak orang.

Rumah  Susun

Presiden Soeharto menyatakan kembali  pembangunan rumah susun bukan bermaksud untuk mempersamakan antara manusia dengan burung merpati atau dara. Tapi, kata Kepala Negara, rumah susun ini dibangun karena di perkotaan tanah untuk mendirikan bangunan semakin sempit dan sulit didapat, sehingga satu-satunya dengan meningkatkan ke atas.

“Banyak orang belum sadar. Mereka memandang seolah-olah manusia atau orang disamakan dengan burung dara atau merpati saja yang dibuatkan pagupon-pagupon (rumah untuk burung merpati), ” ucap Presiden dalam acara temu-wicara dengan para pengelola program keluarga berencana (KB) diperusahaan-perusahaan, para penghuni rumah susun dan pelanggan listrik masuk desa di Semarang, Jawa Tengah, hari Sabtu.

Dalam sambutan resminya, Presiden mengatakan, upaya untuk membangun rumah susun tidaklah mudah. Masih banyak kendala yang perlu diatasi bersama, seperti biaya pembangunan yang tinggi, sikap masyarakat yang belum suka tinggal di rumah susun dan lain sebagainya. “Karena itu dalam membangun lingkungan rumah susun, kita melakukannya melalui berbagai perintisan dan uji coba, “ujar Presiden.

Perintisan dan uji coba pembangunan rumah susun, kata Presiden, telah dilakukan di Jakarta, Palembang dan Bandung. “Hasilnya cukup baik,” kata Presiden.

”Pemerintah akan terus berusaha mendorong pembangunan rumah-rumah susun untuk membantu masyarakat agar hidup tentram dan sejahtera dalam lingkungan perumahan yang lebih sehat, tertib dan teratur” katanya lanjut.

Untuk mendorong agar masyarakat menyukai rumah susun, kata Presiden, maka hendaknya juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang diperlukan masyarakat, seperti jalan-jalan, saluran pembuangan air, taman taman, sekolah, poliklinik, tempat bermain anak-anak dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan ini Presiden menyerukan agar semua kota besar dan kota lainnya berdaya upaya sekuat tenaga untuk meremajakan pemukiman kumuh . yang merupakan salah satu ciri kemiskinan di kota-kota. “Caranya adalah dengan membangun rumah susun,” kata Presiden. “Masyarakat harus diberi penjelasan dan diyakinkan agar bersedia tinggal di rumah susun,” lanjutnya.

KB dan Ketenagakerjaan

Dalam penjelasannya mengenai masalah KB dan ketenaga kerjaan, Presiden antara lain mengatakan sesungguhnya, kesejahteraan pekerja dan keluarganya tidaklah semata-mata ditentukan oleh besarnya gaji. Kesejahteraan pekerja dan keluarganya juga ditentukan oleh terpenuhinya berbagai kebutuhan dasar manusia, seperti sandang, pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan, gizi, ketenangan dan menjalankan ibadah agama, kesempatan menikmati seni budaya dan seterusnya.

Karena itu, tekan Presiden, di samping memberikan upah yang layak, para pengusaha juga perlu memberikan jaminan sosial lainnya. “Biaya yang dikeluarkan untuk memberikan jaminan sosial, termasuk melaksanakan gerakan KB di perusahaan, hendaknya dilihat sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Sebab, melalui upaya ini para pekerja akan dapat bekerja dengan lebih produktif.

“Dalam penjelasannya mengenai sumber daya manusia, produktivitas yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, Presiden mengatakan. Dalam upaya memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peningkatan produksi, yang sangat penting diperhatikan adalah kehandalan teknologi yang digunakan dan keselamatan kerja. Dikatakan hanya teknologi yang handal dan keselamatan kerja yang tinggi sajalah yang dapat meningkatkan produksi. “Guna mendukung program keselamatan dan kesehatan kerja itulah, beberapa waktu lalu saya minta agar upaya menjaga keselamatan dan kesehatan kerja ditingkatkan menjadi gerakan nasional,” kata Presiden.

Bukan Cosmas Batubara

Dalam acara temu-wicara yang banyak diselingi senda gurau, Presiden menyatakan akan segera menyerukan penggunaan batubara di setiap rumah tangga. “Kita sedang mempelajari. untuk mempraktekkan kekayaan alam yang berlimpah­-limpah, yaitu batu bara, jadi batubara akan masuk dapur menggantikan minyak tanah, “kata Presiden.

Dikatakan, setelah dipelajari dan dihitung-hitung ternyata untuk satu keluarga sebanyak lima sampai enam orang cukup menggunakan satu kilo batubara untuk satu hari dengan harga Rp 250.

“0leh karena itu sebentar lagi akan saya komandokan agar batubara masuk dapur, tapi bukan Cosmas Batubara ya…,” kata Presiden sambil menengok ke arah Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara yang ada di sebelahnya.

Menurut Presiden bila batu-bara bisa dimanfaatkan, selain bisa menghemat bahan bakar minyak dan listrik (karena juga untuk masak memasak), juga akan menimbulkan kerajinan pembuatan tungku dan semprong (alat peniup untuk menyalakan api).

Dalam kesempatan kemarin Presiden menyatakan bersyukur bisa meresmikan proyek-proyek yang menyangkut langsung kebutuhan rakyat kecil. Proyek-proyek tersebut ialah peresmian rumah susun untuk menggantikan perumahan kumuh, listrik masuk desa yang bisa dinikmati orang-orang di pedesaan dan keluarga berencana (KB) yang bisa mensejahterakan setiap keluarga sebagai anggota masyarakat.

Dikatakan, pembangunan yang dilaksanakan sekarang ini untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila secara bertahap. Pembangunan ini, kata Presiden, tidak hanya untuk memperhatikan pertumbuhan perusahaan­-perusahaan yang besar saja. Pembangunan ini untuk melaksanakan trilogi pembangunan, yakni stabilitas nasional, pertumbuhan dan pemerataan yang dilaksanakan bersama-sama. “Tapi semua yang kita laksanakan untuk itu belum memuaskan secara keseluruhan, karena dalam pelaksanaan tidak semudah yang kita pikirkan, “ujarnya.                                                                           ·

Pemerataan, misalnya, pemerintah telah membuat program dan rancangan untuk memerataan hasil pembangunan. Tapi toh setiap orang mempunyai kemampuan masing-masing yang terbatas. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan, pemerintah memberi kesempatan kepada mereka yang mampu menggunakan peluang untuk membangun ekonomi, baik bidang pertanian dan industri. “Nampaknya mereka berhasil, dan nampaknya pula seolah-olah dalarn pembangunan ini yang berhasil hanya mereka yang mampu menunjukkan pertumbuhan ekonomi atau yang mampu-mampu saja, ” ujarnya.

Mengenai stabilitas nasional, Presiden mengatakan, tidak ada negara yang bisa membangun dalam keadaan kacau balau. Oleh karena itu Kepala Negara menekankan, bahwa stabilitas nasional itu mutlak penting diadakan.

“Bukan karena takut terhadap gangguan keamanan, tidak…tapi program di negara manapun juga pembangunan bisa berlangsung hanya bila stabilitas terjaga…juga ada negara yang sudah bisa membangun aman, sekarang timbul kekacauan sehingga hasil pembangunan yang telah dinikmati sekarang hancur sama sekali,” demikian Presiden.

Usai upacara resmi di pabrik Bitatrex,. Presiden dan rombongan meninjau perumahan sederhana untuk anggota Korpri Kodya Semarang di Kelurahan Pedurungan Kidul, dan selanjutnya ke perumahan susun di Pekunden (keduanya di Semarang Timur). Di kedua tempat tersebut Presiden dielu-elukan oleh ratusan orang penduduk setempat. Di rumah susun yang dulunya kawasan kumuh di belakang gedung Balai Kota Semarang itu, Presiden sempat berdialog dengan beberapa keluarga.

Sumber: KOMPAS (25/ 10/1992)

_____________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 622-626.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.