TIDAK PERLU GELISAH DENGAN KEADAAN DUNIA YANG SURAM

TIDAK PERLU GELISAH DENGAN KEADAAN DUNIA YANG SURAM

Presiden Soeharto mengharapkan semua organisasi wanita terus mengonsolidasikan diri dan menyiapkan program-program kegiatan yang konstruktif, produktif dan realistis, terutama untuk menghadapi pelaksanaan pembangunan di masa-masa datang yang jelas akan dipengaruhi oleh kelesuan ekonomi dunia.

”Kelesuan ekonomi dunia itu sangat luas pengaruh buruknya dimana-mana, termasuk di Indonesia,” kata Kepala Negara di depan lebih 5.000 orang hadirin pada peringatan Hari Ibu ke-54 di Balai Sidang Senayan Jakarta, kemarin.

Meskipun keadaan dunia yang suram itu tidak mungkin kita hindari pengaruhnya terhadap pembangunan kita, namun hal ini tidak perlu menggelisahkan ataupun mematahkan semangat kita.

Asal kita semua mau meningkatkan lagi usaha dan kerja keras kita, dan apabila perlu dengan penuh pengertian melaksanakan sebaik-baiknya langkah-langkah yang tampaknya pahit, namun demi perbaikan dan kebaikan keadaan yang cerah di kemudian hari, pasti kita akan dapat melanjutkan pembangunan kita menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Keberhasilan pembangunan yang kita capai sekarang, menurut Presiden, yang memungkinkan kita mampu memiliki ketahanan ekonomi yang memadai, antara lain berkat langkah-langkah ketat yang telah kita ambil dan kita laksanakan dengan penuh kesadaran dalam usaha mengatasi hambatan-hambatan pembangunan di masa lampau.

Untuk tetap memelihara gerak maju pembangunan nasional, sumber daya manusia yang kita miliki harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, seefektif dan seefisien mungkin dan dengan partisipasi aktif dari seluruh kelompok masyarakat, terutama dan termasuk kaum wanita dan kaum Ibu.

Tak Bisa Diganti

Secara khusus, Presiden mengingatkan bahwa kaum Ibu Indonesia memainkan peranan yang tidak bisa digantikan dalam membina manusia Indonesia baru yang kita inginkan, yakni manusia yang dapat menjadi benteng-benteng Pancasila danpengamal­pengamal Pancasila dalam pembangunan Masyarakat Pancasila.

Peranan kaum lbu dalam membangun lnsan Pancasila tidak kecil, sebab penghayatan dan pengamalan Pancasila justdru akan lebih kuat jika dimulai dari dalam lingkungan keluarga, dan dimulai sedini mungkin sejak masa anak-anak.

"Kongres Perempuan Indonesia" pertama pada 54 tahun lalu yang di peringati sebagai Hari Ibu, menurut Kepala Negara, mempunyai dua arti penting. Yaitu, Kaum lbu sebagai pejoang nasional membangun bangsa baru, yang dengan langkah berani dan langkah yang besar menekankan rasa kebangsaan di saat kita masih dijajah.

Arti kedua ialah adanya kesadaran kaum Ibu bahwa perjoangan nasional yang besar hanya akan berhasil dengan baikjika kaum Ibu khususnya dan kaum wanita umumnya dapat pula terbina dengan baik.

Dua peran dasar kaum Ibu Indonesia itu sampai sekarang masih tetap berlaku, kata Presiden.

”Tentu saja penjabarannya harus kita sesuaikan dengan masalah yang nyata kita hadapi dewasa inidan di waktu mendatang," kata Presiden lagi.

Kemudian dijelaskan, bahwa kita kini berada dalam tahap akhir Repelita Ill, dan segera memasuki tahun pertama Repelita IV untuk kurun waktu 1984-1988.

Apa yang kita laksanakan sebagai bangsa 5 tahun mendatang, akan dirumuskan dalam GBHN, yang rancangannya kini sedang disiapkan oleh Badan Pekerja MPR untuk nanti dibahas dalam sidang umum MPR bulan Maret 1983.

Karena itulah, kita semua berharap agar Sidang Umum MPR nanti dapat menghasilkan GBHN yang menjamin kesinambungan dan peningkatan pembangunan nasional kita, kata Presiden Soeharto.

Selain Thu Tien Soeharto, hadir pada acara di Balai Sidang Senayan Jakarta itu antaranya Wapres dan Ibu Nelly Adam Malik, para Menteri dan pejabat tinggi lainnya serta berbagai delegasi organisasi wanita.

Peringatan Hari Ibu ke-54 inimenekankan pilihan 4 bidang pembangunan, yaitu masalah Koperasi, penghematan energi, lingkungan hidup dan keluarga berencana, demikian dilaporkan Menteri Muda Urusan Peranan Wanita Ny. L. Soetanto selaku Ketua Panitia Peringatan Hari Ibu ke-54 tersebut.

Diumumkan pula bahwa pada tahun ini Panitia Hari Ibu akan memberikan beasiswa kepada 60 orang siswaputeri yang berpendidikan sekolah guru, masing-masing 30 dari Irian Jaya dan 30 orang lagi dari Timor Timur. (RA)

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (23/12/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1009-1010.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.