TIDAK AKAN MENGORBANKAN KEPENTINGAN NASIONAL MASING2

Pertemuan 4 mata tahap kedua Soeharto – Lee

TIDAK AKAN MENGORBANKAN KEPENTINGAN NASIONAL MASING2

Presiden Soeharto menilai, pertemuannya dengan PM Singapura yang baru saja berakhir hari Selasa kemarin sangat bermanfaat bagi kedua pihak untuk lebih memahami kepentingan nasional masing-masing negara.

Mensesneg Soedharmono mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan setelah menghadap Presiden Soeharto bersama para Menteri lainnya selesai Pertemuan Empat Mata dengan PM Lee Kuan Yew di Bedugul Bali kemarin.

Dikatakan, kedua negara bertekad untuk meningkatkan konsolidasi demi kepentingan nasionalnya masing2. Kedua negara juga mengakui adanya kepentingan nasional pada masing2 pihak dan sekaligus mengakui adanya beberapa perbedaan tekanan dalamkepentingan nasional.

Sehubungan dengan itu, masing2 pihak tidak akan mengorbankan maupun memaksakan kepentingan nasionalnya.

"Inilah gunanya pertemuan seperti itu", kata Soedharmono.

Sehubungan dengan masalah itu, secara konkrit Indonesia menyatakan tidak keberatan Singapura melanjutkan studi kelayakan mengenai proyek mesin disel ASEAN untuk membuat yang berkekuatan 200 PK ke atas.

Perlu diketahui, Indonesia sebelumnya tidak menyetujui Singapura melanjutkan proyek mesin diesel dengan kapasitas 200 PK ke atas. Dalam pertemuan antara kedua pemimpin ASEAN itu, Indonesia juga menggariskan ketentuan tidak akan mengimport mesin diesel yang berkapasitas 500 PK dari hasil proyek ASEAN di Singapura.

"Kalau ia mendirikan pabrik itu, apakah flexible atau tidak, itu Singapura akan meninjaunya kembali. Kalau tidak, tentunya ia akan mengganti yang lain", kata Soedharmono.

Sedemikian jauh, ia belum bersedia mengungkapkan proyek apa yang akan dipakai sebagai penggantinya.

Hadapi Negara Besar

Sementara itu, PM Lee Kuan Yew dalam keterangannya selesai pertemuan empat mata mengungkapkan bahwa kedua pemimpin ASEAN telah mencapai titik pertemuan pendapat mengenai masalah2 dasar dan keinginan bersama, dalam rangka meningkatkan ketjasama di dalam ASEAN.

"Juga memperkuat usaha bersama kita dalam menghadapi negara2 besar seperti Jepang, Amerika Serikat, dan lain2 ", kata PM Lee.

Masalah dasar yang menyangkut kepentingan kedua negara, menurut PM Lee Kuan Yew ialah perdamaian dan keamanan. Kedua hal tersebut akan menjamin terwujudnya kehidupan yang damai, pengadaan pangan, kelangsungan kebudayaan, penggunaan tenaga kerja bagi pembangunan dan lain2.

Dalam rangka mencapai kehidupan yang damai, PM Lee menjelaskan perlunya upaya2 menghindari persengketaan dan konflik baik di antara negara ASEAN maupun dengan negara2 lain. Di samping itu, ia juga memandang perlu adanya usaha2 dan hubungan yang konstruktip antar negara.

Dalam pertemuan empat mata yang berlangsung di tempat menginap Presiden Soeharto di Cottage Yudistira, Bedugul Presiden telah menjelaskan masalah2 internasional yang besar.

Presiden Soeharto menurut Mensesneg Soedharmono, telah memberikan beberapa pandangan kepada PM Lee Kuan Yew mengenai sikap yang harus diambil bersama menghadapi Konferensi Non Blok, dialog Utara – Selatan, konsolidasi ASEAN, dan sikap ASEAN dengan negara2 Indocina.

Di samping itu, secara khusus, Presiden juga menjelaskan sikap yang harus diambil dalam menghadapi bersama negara2 besar.

Sementara itu, PM Lee Kuan Yew mengemukakan bahwa ia dan Presiden Soeharto telah mencapai kesamaan pandangan.

"Kami telah membicarakan hubungan negara ASEAN dengan semua negara besar", kata PM Lee yang pagi itu mengenakan jaket warna violet untuk melindungi serangan udara dingin Bedugul.

Dikatakan, semua negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Soviet, China dan lain2 mempunyai kepentingan yang besar atas kawasan Asia Tenggara. Sedemikian jauh, PM Lee tidak bersedia mengungkapkan kepentingan apa dari negara2 besar itu. Hanya ditambahkan secara relatip hubungan ASEAN dengan negara2 Eropa, Jepang dan AS cukup baik.

Ditanya mengenai kemungkinan dibicarakannya masalah China, PM Lee mengatakan "Tidak secara khusus. Kami membicarakannya dalam rangka negara2 besar". Dikatakan, Singapura sendiri mempunyai sikap yang tetap yaitu akan membuka hubungan diplomatik dengan RR China setelah Indonesia menormalisir kembali.

"Kami akan mengikut setelah Indonesia menempatkan lagi Kedutaan Besarnya", kata PM Lee Kuan Yew.

Keleluasaan Ekonomi

Lebih lanjut, PM Lee juga mengungkapkan, dalam pembicaraan selama satu setengah jam itu, telah dicapai kata sepakat untuk meningkatkan kerjasama ekonomi kedua negara. Indonesia telah membuka pintu bagi penanaman modal swasta Singapura guna menunjang pembangunan nasional.

Di samping itu, Singapura juga akan ikut serta dalam pengembangan dan pembangunan proyek penyulingan minyak Batam terutama pembangunan hotel, pengelolaan pelabuhan dan prasarana lain.

Sedang Mensesneg Soedharmono juga membenarkan bahwa keduanegara akan mengadakan pembicaraan secara tehnis tingkat pejabat tinggi.

"Keinginan ini sebenarnya sudah lama. Tinggal melanjutkan”, katanya.

Ia tidak menyebutkan kapan pertemuan tingkat tehnis itu dilakukan, dalam rangka meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi itu.

Baik PM Lee Kuan Yew maupun Soedharmono yang memberikan keterangan di tempat sama dalam waktu yang berbeda belum bersedia memastikan kapan diadakan pertemuan serupa. Bahkan keduanya juga tidak menyebut-nyebut perlunya dilangsungkan KTT ASEAN III.

Mensesneg Soedharmono mengungkapkan, kemungkinan tahun 1978 tidak akan ada KTT ASEAN. Sedang pertemuan antara pemimpin ASEAN secara tidak resmi dapat saja diadakan bilamana perlu.

Presiden Soeharto dan rombongan, setelah pertemuan dan pembicaraan dengan PM Lee Kuan Yew, Selasa petang telah kembali ke Jakarta. Sedang PM Lee Kuan Yew, masih tetap tinggal di ”Bali Handara Country Club" Bedugul, Bali sampai tanggal 29 Juni mendatang.

Selama berada di tempat peristirahatan yang bertemperatur 18 derajat Celcius itu, PM Lee Kuan Yew dan segenap delegasinya didampingi oleh Menko Polkam M. Panggabean dan Menlu Mochtar Kusumaatmadja. (DTS)

Bedugul, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (28/06/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 667-670.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.