TIDAK ADA KELUARGA YANG LARI

TIDAK ADA KELUARGA YANG LARI[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Probosoetedjo yang merupakan kerabat dekat HM Soeharto yang menyatakan berhenti sebagai Presiden mengatakan gembira dengan keputusan tersebut.

“Bagi saya dengan mundurnya Pak Harto, dalam keadaan seperti sekarang ini, saya lebih senang. Syukur Alhamdulillah,” katanya kepada sejumlah wartawan di rumah kediamannya di Jakarta Pusat, Kamis (21/5).

Secara pribadi, katanya, sudah dari dulu dia menyampaikan sebaiknya Pak Harto tidak usah menjadi presiden lagi dan belakangan keluarga dan putra-putri juga pesan lebih senang kalau Pak Harto tidak tampil lagi menjadi presiden.

“Tetapi kan memang dikehendaki oleh Golkar, terutama Pak Harmoko sampai waktu itu yang menyatakan, ya pada waktu itu dalam keadaan susah, kalau diminta lalu tak sanggup kan dikatakan tinggal glanggang colong playu (lari meninggalkan arena), artinya tidak bertanggungjawab.” katanya.

“Semua sudah diperhitungkan dan semua keluarga sudah siap. Ya memang begitulah dan tidak ada yang shock dari keluarga. Ya memang lebih baik daripada menjadi bulan-bulanan, sehingga seakan-akan merupakan penghalang di dalam reformasi.” katanya.

Tak Ada Yang Lari

Probo juga menjelaskan bahwa seluruh keluarga HM Soeharto, anak dan cucu­cucu tidak ada yang lari, semua masih ada di Jakarta.

“Keberadaan putra-putri Soeharto semua tenang tidak ada yang shock, semua tenang-tenang saja. Jadi kalau ada berita di luar negeri katanya sudah lari, sama sekali tidak ada. Anak cucu masih ada di Jakarta. Juga ada yang menyebut Probo juga sudah lari. Lari untuk apa? Kalau memang saya salah, diadili ini negara hukum, jangan terus dicurigai seakan-akan sudah tak ada manfaatnya lagi,” katanya.

Probo mengatakan bahwa berhentinya HM Soeharto itu tidak terkait dengan adanya motif tertentu, melainkan karena adanya desakan dari rakyat. Desakan itu memang begitu bertubi-tubi. Namun demikian dia merasakan adanya sakit hati mengapa hanya kejelekannya saja yang diingat, sedangkan jasanya dalam pembangunan bangsa ini tidak diingat.

Probo berharap pemerintah yang baru nanti bisa melakukan reformasi. Mudah­mudahan muncul pemeritahan yang baik yang tidak ada nepotisme dan krisis sekarang ini bisa diatasi dan keadaannya menjadi lebih baik.

Probo mengatakan dirinya merasa sedih karena adanya perkataan-perkataan yang isinya sebagai penghinaan yang keterlaluan kepada HM Soeharto.

“Kalau Pak Harto terus-menerus diminta turun dan akan disidangkan dan diadili, ya sudahlah berhenti juga yang baik bagi Pak Harto.” katanya.

Mengenai harapan keluarga, Probo mengatakan,

“Mudah-mudahan BJ Habibie bisa melaksanakan pemerintahan yang lebih demokratis, bebas dari nepotisme kolusi dan korupsi.”

“Kami mengharapkan Pak Harto akan lebih banyak beramal di dalam bermasyarakat, di samping membantu keluarga dan saudara-saudara, karena beliau bagaimanapun juga seorang negarawan yang bisa memberi nasihat kalau diminta para pejabat-pejabat, tetapi dalam keluarga pasti itu tetap pepunden bagi keluarga.” katanya.

Dikatakan, Pak Harto akan tetap tinggal di Jakarta, mungkin akan mengurus Tapos dan Taman Mini.

Sementara itu, Ketua DPR RI, Harmoko mengatakan Pimpinan Dewan dalam menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Presiden menilai bahwa sikap Presiden Soeharto yang memenuhi permintaan pimpinan DPR dan fraksi-fraksi adalah merupakan proses konstitusional yang tepat.

“Pimpinan Dewan menilai hal itu adalah kearifan dan kebijaksanaan selaku negarawan. Oleh karena itu proses konstitusional ini merupakan juga salah satu upaya dalam kita memberdayakan lembaga tinggi negara kita.” katanya.

Sedangkan selanjutnya, Dewan akan menilai apa yang akan dilakukan eksekutif dengan menjalankan fungsinya dalam legislasi nasional, hak budget dan pengawasan. Dan untuk itu reformasi akan terus berjalan dengan mencermati keinginan masyarakat luas.

Sedangkan mengenai pemilu yang dipercepat, Harmoko mengatakan semua tergantung bagaimana sikap fraksi-fraksi.

Hari Jumat ini Badan Musyawarah DPR RI akan mengadakan sidang untuk menentukan jadwal sidang pleno dalam menyikapi pengalihan kekuasaan tersebut.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (22/5/1998)

______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 523-524.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.