Tiada Manusia Yang Sempurna

Yogyakarta, September 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

dan keluarga

di Jakarta

 

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan hormat,

Salam saya semoga Bapak Soeharto dan keluarga selalu dalam lindungan Allah swt amin. Lain hal tersebut, saya pribadi mengharap semoga Bapak tetap tegar dalam menghadapi segala permasalahan baik untuk negara maupun pribadi walaupun upaya dari manapun selalu ingin menjadikan permasalahan tanpa batas.

Perkenalkan saya:

Nama                                    : Kelik Susilo Ardani

Tempat tgl. Lahir              : Purworejo, 14 Agustus 1970

Alamat                                  : Yogyakarta

Secara terus terang saya mengucapkan terima kasih, walaupun tak secara langsung saya menikmati hasil dari pembangunan yang telah Bapak lakukan. Ada falsafah jawa “Sopo salah seleh” begitulah kiranya.

Tapi saya memohon kepada Tuhan Allah swt, Bapak selalu dilindungi akan kesehatan, ketegaran dalam menghadapi segala permasalahan. Memang banyak sekali saya baca akan berita-berita yang sangat bermacam-macam, tapi kebenaran semuanya kehendak-Nya dan akan ditunjukkan Yang Kuasa akan kebenaran tersebut.

Memang kesalahan manusia pasti ada, dan tidak ada manusia yang sempurna. Saya ucapkan terima kasih atas demikian ban yak jasa Bapak dan saya berdoa untuk Bapak yang terhormat serta keluarga sangat saya ucapkan terima kasih. Dan itu adalah perasaan tulus saya tanpa pamrih apapun.

Kiranya surat dari saya demikian, sekali lagi semoga Allah swt selalu memberikan ketegaran, ketenangan, kesehatan dan panjang umur serta berkah dan restu untuk keluarga dan tabah dalam menghadapi permasalahan ini.

Amin. (DTS)

Wasalam wr. wb.

Saya, Kelik Susilo Ardani

Yogyakarta

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 914-915. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi Kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.