THEO TOEMION : TURUNNYA RUPIAH DISEBABKAN FAKTOR PSIKOLOGIS

THEO TOEMION : TURUNNYA RUPIAH DISEBABKAN FAKTOR PSIKOLOGIS[1]

Jakarta, Suara Pembaruan

Pengamat valuta asing (valas) Theo F Toemion di Jakarta, Jumat (5/7) pagi mengatakan, merosotnya nilai rupiah dipicu pada spekulator.

“Pasar uang global memang sangat peka dengan kabar-kabar, yang belum tentu benar.” katanya menanggapi berita turunnya nilai rupiah terhadap dolar AS dikaitkan dengan berita mengenai keadaan kesehatan Presiden Soeharto.

Theo mengatakan , nilai uang yang diperdagangkan dalam pasar global sekarang ini sangat besar, tak kurang dari US$ 2,3 triliun (sedikitnya Rp.5.300 triliun) per hari. Akibatnya, uang berpindah tangan dengan cepat dan sewaktu-waktu pasar uang dunia bisa menyerbu mata uang tertentu.

“Secara umum , ada tiga factor yang berpengaruh dalam pasaruang. Yaitu faktor fundamental, faktor teknis dan faktor psikologis.” ungkapnya.

Faktor Psikologis

Menurut Theo, merosotnya nilai rupiah dalam pasar global sekarang ini, lebih disebabkan faktor psikologis. Faktor fundamental meliputi ekonomi makro dan indikator-indikator ekonomi. Faktor teknis, antara lain meliputi kebijakan Bank Sentral.

“Saya melihat, Bank Indonesia tenang-tenang saja menghadapi perkembangan ini, tidak usah panik.” katanya.

“Supaya spekulasi terhadap rupiah tidak berkepanjangan, Indonesia harus membuktikan bahwa memang tidak ada masalah serius di dalam negeri. Kalau pasar bisa diyakinkan, spekulasi itu akan berhenti sendiri dan rupiah akan menguat kembali. Perlu dicatat, upaya meyakinkan pasar bukan hanya tanggung jawab Bank Indonesia (BI). Karena penyebab spekulasi ini bukan pada soal fundamental dan teknis, tetapi lebih sebagai isu politis, maka semua pihak harus bekerja sama meyakinkan pasar.” tegasnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot tajam dalam perdagangan Kamis (4/7) di Singapura, setelah dikabarkan bahwa Presiden Soeharto mengalami gangguan kesehatan. Ketika perdagangan ditutup, rupiah bertengger pada posisi Rp.2.338 untuk satu dolar AS, turun 12 poin dibanding posisi pembukaan yang Rp.2.326.

“Perubahan rupiah yang signifikan ini dipengaruhi oleh kondisi di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir ini.” kata Defimon Supple, ekonom senior pada perusahaan konsultan keuangan Inggris IDEA.

“Meskipun sudah pernyataan dari Jakarta bahwa di Indonesia tidak ada masalah apa-apa, pasar masih belum bergeming.” tambah Andi Tan, General Manager MMS International di Singapura. Sebelumnya, sejak 21 Juni, rupiah diperdagangkan dengan fluktuasi yang kecil antara 2.327 hingga 2.325, setelah banyak investor yang membeli rupiah.

Para dealer mengatakan, dengan melemahnya nilai rupiah, merupakan pancingan aliran investasi ke Indonesia. Efek selanjutnya, aliran investasi akan membantu menopang nilai tukar rupiah. Tanggal 13 Juni lalu Bank Sentral Indonesia (Bank Indonesia) telah memperlebar spread jual-beli rupiah terhadap dolar AS, dari Rp.66 menjadi Rp.118. Sementara itu, petugas sebuah bank Eropa mengatakan , setelah ada kabar mengenai Presiden Soeharto, bunga untuk rupiah melonjak secara signifikan.

“Ini membuktikan, pasar cukup konsern dengan masalah di Indonesia” katanya kemudian menambahkan, bunga untuk rupiah naik dari 13,70 persen menjadi 14,80 persen.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (05/07/1996)

______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 337-338.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.