THAILAND INGIN MANFAATKAN GAS NATUNA

THAILAND INGIN MANFAATKAN GAS NATUNA[1]

 

Jakarta, Antara

Kerajaan Thailand telah mengajukan minat mereka untuk memanfaatkan gas alam produksi Kepulauan Natuna dalam rangka memenuhi kebutuhannya yang terus meningkat.

“Para pejabat Indonesia dan Thailand akan melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai hal ini.” kata Mensesneg Moerdiono kepada pers ketika menjelaskan hasil pertemuan Presiden Soeharto dengan PM Thailand Banham Silpa-archa di Istana Merdeka, Kamis.

Dalam pertemuan hampir satu setengah jam itu, kedua kepala pemerintahan memusatkan pembicaraan mereka pada upaya-upaya meningkatkan kerja sama ekonomi bilateral.

Indonesia sekarang sedang menyiapkan pembangunan sarana pemanfaatan gas alam di Natuna, Riau itu yaitu antara Pertamina dengan Exxon, AS. Hasilnya antara lain akan diekspor ke Jepang, Korea Selatan serta Taiwan.

Menurut Moerdiono, sekalipun kandungan C02 pada ladang gas alam di Natuna itu hampir sepertiga dari jumlah total cadangan gas alam itu, jumlah gas di sana sama dengan jumlah gas yang sudah ditemukan hingga sekarang ini. Sekarang gas alam diproduksi di Arun, Aceh dan Badang, Kaltim. Proyek ini akan selesai tahun 2003-2004.

Mensesneg Moerdiono menyebutkan pula, Thailand mengimpor batu bara dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan sumber energi ini yang terus meningkat.

PM Banham juga menyatakan keinginan para pengusahanya untuk ikut mengeksploatasi perikanan di sini serta menjajaki pembangunan pabrik gula.

Setelah mengadakan pembicaraan empat mata, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan Nota Persepahaman (MoU) antara Menristek BJ Habibie selaku Dirut IPTN dengan Menteri Pertanian dan Koperasi Suwit Khunkitti mengenai perjanjian imbal beli atau counter trade.

Berdasarkan kesepakatan  itu, IPTN akan menjual dua pesawat CN 235 kepada Thailand yang digunakan bagi program hujan buatan. Kerajaan ini dahulu sudah membeli lima pesawat NC-212 untuk program hujan buatan.

Seusai acara penandatanganan itu, Kepala Bulog Beddu Amang mengatakan kepada pers bahwa sebagai imbalan penjualan dua CN 235 bernilai 34 juta dolar AS itu, maka Indonesia akan mendatangkan sekitar 110.000 ton beras.

Bedu menjelaskan pada tahun 1995, Indonesia mengimpor sekitar 50.000 ton beras ketan serta 30.000 ton beras menir ketan. Sisanya mungkin akan dibelikan beras biasa yang berkualitas tinggi.

Ia mengatakan, karena Indonesia sering kekurangan beras pada musim kemarau maka impor dari Thailand itu mungkin akan dilakukan pada musim kemarau. Namun ia mengatakan harga penjualan beras Thailand itu akan bergantung pada harga intemasional saat kontrak ditandatangani.

“Karena beras yang diimpor itu haruslah yang berkualitas tinggi maka impor itu tidak akan merugikan para petani dalam negeri.” demikian jaminan Beddu Amang.

Seusai menyaksikan acara penandatanganan MoU itu Banham berpamitan kepada Kepala Negara karena akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk melihat Candi Borobudur dan Mendut. Kamis malam ia dan rombongan kembali lagi ke Jakarta namun langsung pulang ke tanah airnya.

Sumber : ANTARA (25/04/1996)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 307-308.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.