TETAP BERPEGANG PADA RESOLUSI PBB TTG PENYELESAIAN KAMBOJA

TETAP BERPEGANG PADA RESOLUSI PBB TTG PENYELESAIAN KAMBOJA

SOEHARTO DAN PREM

Thai minta tambahan minyak

Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Prem Tinsulanonda menyatakan kesepakatan Indonesia dan Muangthai tetap berpegang kepada Resolusi PBB serta Pernyataan Bersama ASEAN-MEE mengenai penyelesaian masalah Kamboja.

Penegasan kesepakatan antara kedua Kepala Pemerintah tersebut diumumkan Perdana Menteri Prem Tinsulanonda dalam konperensi persnya di Wisma Negara Sabtu siang, setelah menyelesaikan perundingannya dengan Presiden Soeharto di Istana Merdeka.

Sesuai dengan Resolusi PBB dan Pernyataan Bersama ASEAN-MEE, katanya, semua pasukan asing harus ditarik mundur dari Kamboja dan menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Kamboja untuk menentukan bentuk pemerintahan mereka sendiri.

Ia menggambarkan pertemuannya dengan Presiden Soeharto yang berlangsung dalam dua kali perundingan itu (Jumat malam dan Sabtu pagi masing-masing satu setengah jam-red) sebagai menggembirakan.

"Pembicaraan saya dengan Presiden Soeharto berjalan dalam suasana dan memuaskan," katanya.

Dikemukakan, pembicaraan mencakup masalah-masalah regional dan bilateral. Dalam masalah regional katanya, mereka prihatinkan tentang situasi politik dan keamanan di Asia Tenggara. Tetapi dalam masalah bersama kami sepakat akan menghadapinya secara kolektif, kata Perdana Menteri.

Minta Tambahan Minyak

Dalam perundingannya dengan Presiden Soeharto, Perdana Menteri Prem Tinsulanonda mengatakan, ia mengajukan permintaan tentang kemungkinan Indonesia meningkatkan suplai minyak ke Muangthai.

Terhadap permintaan ini katanya, Presiden Soeharto menyatakan, Indonesia akan tetap menjamin suplai minyak ke Muangthai sesuai dengan persetujuan yang ada hingga saat ini, yaitu 10.000 barrel sehari. Dan kemungkinan penambahannya akan dipertimbangkan nanti sesuai dengan kemampuan Indonesia.

Di samping itu, menurut Perdana Menteri Prem dari Presiden Soeharto ia mendapat penegasan, bahwa suplai semen Indonesia ke Muangthai akan dipenuhi sesuai dengan kontrak yang sudah ada, dan penambahannya akan dipertimbangkan bila produksi meningkat.

Dalam perundingan, katanya juga disinggung tentang penyediaan pesawat Cassa dari Indonesia, PM Prem juga menyatakan kepada Presiden Soeharto, bahwa Muangthai akan menjamin suplai berasnyake Indonesia sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati belum lama ini.

Ditambahkan, dalam kesempatan itu ia juga telah menyampaikan undangan kepada Presiden Soeharto dan Menteri Hankam/Pangab Jenderal M. Jusuf untuk berkunjung ke Muangthai. Dalam pada itu, Menteri Sekretaris Negara Sudharmono seusai perundingan hari Sabtu atas pertanyaan pers, belum menyebutkan berapa tambahan minyak yang diinginkan Muangthai dari Indonesia.

Iahanya memberikan keterangan yang sama dengan pernyataan Perdana Menteri Prem, yaitu Indonesia tetap akan memenuhi kebutuhan minyak Muangthai sesuai dengan persetujuan yang ada selama ini, sebanyak 10.000 barrel sehari.

Perdana Menteri Prem Tinsulanonda dan rombongan mengakhiri kunjungan kerjanya selama dua hari di Indonesia Sabtu sore. Ia diantar ke pelabuhan udara Halim Perdanakusuma oleh Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Adam Malik, sampai ke tangga pesawat yang membawanya kembali ke Muangthai.

Komentar Menlu Mochtar

Bagaimana sikap Muangthai yang sebenarnya dalam masalah Kamboja, kini sudah jelas bagi Indonesia. Demikian Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja mengomentari hasil perundingan Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Prem Tinsulanonda yang berlangsung Jumat malam dan Sabtu pagi di Istana Merdeka.

Menjawab pertanyaan pers setelah pelepasan Perdana Menteri Prem Tinsulanonda di Halim Perdanakusuma Sabtu sore Mochtar yang juga ikut dalam perundingan mengatakan sebelumnya sikap Muangthai masih tanda tanya bagi Indonesia terutama dengan adanya pernyataan-pernyataan yang agak berlainan dalam kunjungan Perdana Menteri di Malaysia dan Singapura.

Dikatakan, ada kesan seolah-olah Muangthai sudah begitu berat dalam memikul beban pengungsi Kamboja. Dan hal ini menimbulkan spekulasi, demi masalah pengungsi tersebut, pihak Thailand seperti bersedia mengadakan pembicaraan dengan pihak Hanoi Vietnam.

"Ternyata spekulasi itu tidak benar. Muangthai tetap kepada Resolusi Sidang UmumPBB," kata Mochtar.

Mengenai masalah Kamboja, katanya, sekarang dananya cukup cerah, dan dibicarakan lagi dalam Konperensi PBB di Jenewa bulan Mei mendatang. Secara Sendiri Sebenarnya Boleh Atas pertanyaan, Menlu Mochtar mengatakan, sekalipun ada kesepakatan sebenarnya bukan berarti masing-masing negara ASEAN mengabaikan kemungkinan pendekatan secara tersendiri dengan Vietnam dalam penyelesaian Kamboja.

Masalahnya sebelum hal itu dilakukan, perlu dilakukan konsultasi lebih dulu supaya jangan sampai menimbulkan salah pengertian, katanya.

Ditanya komentarnya mengenai sikap Hanoi yang selain mengatakan tidak bersedia berunding dengan ASEAN, selain secara bilateral, Mochtar menjawab

"Itu hanya bahasa lain dari kesediaan Vietnam untuk mencari penyelesaian." (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (28/04/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 580-582.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.