TERLALU BANYAK CABANG YANG DIPERTANDINGKAN DALAM PON XI

TERLALU BANYAK CABANG YANG DIPERTANDINGKAN DALAM PON XI

PRESIDEN SOEHARTO :

Presiden Soeharto menilai cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XI yang baru lalu terlalu banyak. Sebaiknya beberapa cabang tidak dipertandingkan dalam PON, tetapi diadakan dalam kejuaraan tersendiri.

Penilaian itu disampaikan Kepala Negara kepada Menpora Abdul Gafur di Bina Graha, Kamis kemarin. Gafur datang untuk melaporkan telah selesainya penyelenggaraan PON XI.

Menpora mengatakan, akan membicarakan penilaian Presiden tersebut dengan KONI Pusat untuk selanjutnya dapat diputuskan melalui musyawarah lembaga tertinggi olahraga di tanah air itu, cabang-cabang mana yang perlu ditinjau kembali dalam penyelenggaraan PON – PON mendatang.

PON XI lalu mempertandingkan 45 cabang olahraga, dan empat lainnya lagi hanya ekshibisi. Gafur menjelaskan, alasan dimasukkannya cabang-­cabang tersebut antara lain karena mereka anggota KONI dan setiap anggota mempunyai hak yang sama.

Untuk perbandingan, pesta olahraga terbesar di dunia, Olimpiade, hanya mernpertandingkan cabang olahraga. Pesta olahraga terbesar di kawasan Asia, Asian Games, bahkan hanya 21 cabang. Sementara kawasan Asia Tenggara hanya 20 cabang.

Tempat PON

Selain mengenai cabang olahraga, Presiden Soeharto juga menanggapi berbagai suara di masyarakat yang mengusulkan agar penyelenggaraan PON tidak hanya di Jakarta saja tetapi juga di daerah-daerah.

Menurut Kepala Negara, kita harus realistis saja bahwa penyelenggaraan suatu PON itu mahal sekali sehingga jangan sampai membebankan daerah-daerah. Padahal di Jakarta telah tersedia berbagai fasilitas yang cukup memadai untuk itu.

Pembiayaan PON XI lalu seluruhnya Rp 4 milyar, belum termasuk biaya pemugaran Gelanggang Olahraga Senayan sebesar Rp 2 milyar oleh Badan Pengelola Gelanggang Olahraga Senayan.

Selain karena tersedianya berbagai fasilitas, kata Gafur, Jakarta adalah Ibu kota negara sehingga dari aspek persatuan dan kesatuan bangsa, penyelenggaraan PON di Jakarta merupakan suatu kebanggaan.

Kegagalan Purnomo

Dalam pertemuan kemarin, Presiden Soeharto juga menyinggung soal penyelenggaraan kejuaraan atletik Asia di Jakarta tanggal 25-29 September lalu.

Menurut Gafur, Kepala Negara menilai gagalnya atlet Indonesia Purnomo merebut medali emas dalam kejuaraan tersebut karena terlalu dekatnya waktu penyelenggaraan kejuaraan atletik itu dengan PON XI.

Purnomo baru saja selesai mengikuti PON XI mewakili Jawa Tengah sehingga belum terlalu fit untuk mengikuti kejuaraan atletik Asia.

Purnomo, pemuda Aji barang, Jawa Tengah, yang diharapkan memperoleh dua medali emas untuk Indonesia dari lari 100 meter dan 200 meter, dalam kejuaraan atletik Asia lalu hanya berhasil memperoleh dua medali perak.

Menurut Gafur, memang selalu menjadi persoalan karena atlet daerah yang menjadi atlet nasional, oleh daerahnya selalu tetap dipertahankan untuk mewakili daerahnya dalam suatu kejuaraan nasional guna bisa memperoleh medali.

Purnomo pada PON lalu ikut pada dua nomor, yaitu 200 meter dan estafet 4 x 100 meter. Pada 200 meter ia lari dua kali, sekali pada babak pertama di mana menjadi juara dengan mencatat waktu 22,06 detik dan kedua pada final dan menjadi juara dengan waktu 20,98 detik.

Pada estafet ia hanya lari sekali, karena langsung final. Bersama dengan Heru Proyogo, Fauzan Sunardi, Kardiono, ia menduduki tempat ke dua di bawah tim Jabar. Waktu tim Jateng 41,71 detik, sementara tim Jabar 41,70 detik. (RA)

 

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (23/10/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 273-274.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.