Tentara Memilih Panglimanya

Tentara Memilih Panglimanya[1]

 

SETELAH ditetapkan sebagai Kepala Staf Umum TKR—pada 17 Oktober 1945, Oerip menetapkan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta. Penetapan MBT di Yogyakarta tidak terlepas dari geo strategi militer yakni kota pedalaman yang sulit diserang melalui laut, yang kemudian strategi ini menguntungkan tentara dalam mempertahankan kemerdekaan.

Pada mulanya MBT berkantor di salah satu kamar di hotel Merdeka, kemudian pindah ke jalan Gondokusuman, sekarang jalan Jenderal Soedirman—kini menjadi salah satu museum di Yogyakarta.

Karena Supriyadi tidak pernah muncul sejak ditetapkan sebagai Panglima TKR oleh Presiden Soekarno, atas inisiatif Oerip Soemoehardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR, diadakan Konferensi Tentara Keamanan Rakyat di Markas Besar Tentara di Yogyakarta pada 12 November 1945.

Pada awalnya konferensi ini ditujukan untuk konsolidasi Komandan Divisi dan Komandan Resimen yang sudah terbentuk, namun kemudian muncul dari peserta konferensi kehendak untuk memilih Panglima TKR yang kemudian disebut dengan Panglima Besar. Dalam pemilihan itu yang menjadi kandidat diantaranya adalah Soedirman dan Oerip.

Dalam pemilihan Panglima Besar, para Panglima Divisi dan Komandan Resimen yang hadir di konferensi itu, secara demokratis memberikan suara untuk kandidat Panglima Besar. Hasil dari putaran terakhir pemilihan itu adalah; Kolonel Soedirman mendapat 22 suara sedangkan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo mendapat 21 suara. Kepala Staf Komandemen Sumatra Kolonel Muhammad Nuh yang hadir di konferensi itu mewakili 6 divisi di Sumatra, memberikan 6 suara dari 6 divisi di Sumatra untuk Kolonel Soedirman.

Terpilihnya Soedirman yang mantan Daidancho (setingkat komandan batalyon) PETA, mengalahkan Oerip Soemoehardjo yang adalah opsir senior KNIL berpangkat Mayor, menambah runcing friksi antara mantan PETA dan KNIL. Sedangkan bagi Soedirman dan Oerip Soemohardjo, friksi itu tidak nampak. Bahkan keduanya bahu membahu membangun tentara kebangsaan dan dapat dikatakan mereka adalah Dwi Tunggal TM.

Dan menjadi catatan sejarah bahwa tentara Indonesia memilih panglimanya sendiri, bukan atas keputusan politik atau penetapan pemerintah. Peristiwa ini sekaligus menasbihkan bahwa tentara Indonesia membentuk dirinya sendiri. Ini yang membedakan Tentara Indonesia dengan tentara negara lain.

Panglima Komandemen Jawa Barat, Jenderal Mayor Didi Kartasasmita yang hadir di konferensi itu menyebut pemilihan itu sebagai “rapat koboy-koboyan”.

Didi Kartasasmita adalah alumni KMA Breda, Belanda—sebagai opsir KNIL menyandang pangkat Letnan Satu. Ia sepertinya kecewa dengan tidak terpilihnya Oerip Soemohardjo sebagai Panglima Besar.

Dalam biografinya yang ditulis Tatang Sumarsono berjudul “Didi Kartasasmita-Pengabdian Pada Kemerdekaan” ditulis; “Panglima Besar, menurut pendapat saya, tidak bisa ditetapkan dalam satu rapat. Seorang pewira militer yang memiliki reputasi internasional, serta luas wawasan kemiliterannya; itulah yang pantas menjadi pemimpin tertinggi tentara.

Memerlukan waktu lebih dari satu bulan hingga akhirnya pemerintah mengakui hasil konferensi tentara tersebut. Baru pada 18 Desember 1945, Kolonel Soedirman dilantik oleh Presiden Soekarno menjadi Panglima Besar dan dinaikkan pangkatnya menjadi Jenderal.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 7-10.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.