TARGET PERTUMBUHAN EKONOMI 1997/98 SEKITAR 7,1 %

TARGET PERTUMBUHAN EKONOMI 1997/98 SEKITAR 7,1 %[1]

 

Jakarta, Antara

Dalam tahun anggaran 1997/98 sasaran pertumbuhan ekonomi adalah sesuai dengan sasaran yang ditetapkan dalam Repelita VI, yakni sebesar 7,1 persen. Sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar itu adalah cukup realistis, baik dilihat dari sisi permintaan maupun penawaran.

Target pertumbuhan ekonomi tersebut dikemukakan dalam nota keuangan sebagai lampiran pidato Presiden Soeharto ketika mengantarkan RAPBN 1997/98 di gedung DPR RI di Jakarta, Senin.

Apabila dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun-tahun sebelumnya maka pada tahun ini tampak menurun. Tahun 1994, realisasi pertumbuhan ekonomi mencapai 7,5 persen dan tahun 1995 mencapai 8,2 persen. Target pertumbuhan ekonomi itu didasari oleh berbagai faktor. Dari sisi permintaan, perkembangan pasar domestik yang cenderung menguat akan menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi, di samping peluang pasar luar negeri yang fenomenanya kini juga tengah menunjukkan perkembangan secara pesat.

Sedangkan dari sisi penawaran, sumber pertumbuhan ekonomi berasal dari adanya peningkatan investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, efisiensi, dan daya saing dalam pengelolaan sumber daya ekonomi nasional, serta makin meningkatnya peran serta masyarakat dalam kegiatan pembangunan.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, kebutuhan investasi tahun 1997/98 untuk pembangunan sektor pemerintahan diperkirakan akan mencapai sekitar 38,927 triliun, diantaranya diharapkan dapat dibiayai melalui tabungan pemerintah sebesar Rp 25,901 triliun dan penerimaan pembangunan sebesar Rp13,026 triliun.

Kondisi perekonomian nasional diperkirakan akan berkembang secara dinamis dengan melakukan pengurangan dan penghapusan berbagai distorsi yang menghambat proses dan distribusi barang dan jasa serta pengelolaan sektor finansial secara lebih akomodatif dan berhati-hati, diharapkan laju inflasi akan dapat dikendalikan.

Dalam anggaran tahun 1997/98, defisit transaksi beljalan diperkirakan mencapai 9.798 juta dolar AS atau sedikit lebih tinggi dari angka tahun anggaran lalu. Hal itu disebabkan makin meningkatnya kegiatan investasi dan kebutuhan impor barang modal dan bahan baku penolong.

Sebagai perbandingan, defisit transaksi berjalan pada anggaran 1994/95 mencapai 3.488 juta dolar AS, tahun 1995/96 naik menjadi 6.987 juta dolar AS (100,3 persen), tahun 1996/97 diperkirakan mencapai 8.823 juta dolar AS (26,3 persen).

Sumber : ANTARA (06/01/1997)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 197-198.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.