TANZANIA, “UHURU NA UMOJA”, KEMERDEKAAN DAN PERSATUAN

TANZANIA, “UHURU NA UMOJA”, KEMERDEKAAN DAN PERSATUAN

 

 

 

Dar Es Salaam, Kompas

PEMUDA berkulit hitam dan berambut keriting kecil itu mendekati dan menyapa. “Jambo, habari yako?” katanya sambil tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih kekuning-kuningan. Halo, apa kabar?  Itu sapaan khas dan ramah berbahasa Swahili. Pemuda berpakaian serba putih itu berdiri di bawah sorotan panas matahari dipinggir jalan ramai jantung kota Dar Es Salaam, Tanzania.

Basa-basi diawal percakapan, buntutnya dilanjutkan dengan satu tawaran menarik dan mengejutkan juga. “Do you have dollars for change?” katanya berbisik sambil matanya jelalatan melihat keadaan sekitarnya. Pasar gelap di tengah hari bolong macam begini sudah menjadi pemandangan biasa di negeri ini.

Begitu dibilang tidak, dia lantas mengeluarkan tawaran lain yang barangkali saja bakal menarik. “Anda mau beli ganja, atau barangkali ingin berkencan dengan wanita Afrika?” tanyanya penuh harapan.

Dar Es Salaam tak ubah macam kota-kota besar di berbagai tempat di dunia. Tanah yang Damai, begitu artinya Dar Es Salaam, telah meninggalkan bentuk-bentuk adat lamanya. Gedung-gedung pencakar langit tak lagi mengingatkan rumah-rumah tanah liat di negeri itu.

Mobil yang bersimpang siur telah lama menghempaskan gerobak ditarik sapi. Di situ tak terdengar lagi dongeng-dongeng dan nyanyian rakyat. Penduduk kota ini lebih menyukai bioskop dan surat kabar ketimbang mendengar dongeng. Radio dan kaset telah lama menjadi pilihan mereka kalau hendak mendengarkan nyanyian.

Malah dentaman keras musik di diskotek jauh lebih menarik daripada bunyi gebukan genderang dan teriakan ritmik para penyanyi berkulit hitam dan berambut keriting. Ilmu pengetahuan modem juga berangsur-angsur menggeser kearifan tradisional.

Tanzania negeri yang sedang mengalami transisi. Para pengamat mengataan, situasi ekonomi Tanzania tahun ini memperlihatkan kemajuan yang lebih baik, paling tidak seperti yang tampak di permukaan. Dibandingkan negeri-negeri tetangganya di Afrika, Tanzania mempunyai banyak kelebihan.

Sejak kemerdekanya ditahun 1964, politik negeri ini adem ayem alias stabil. Hampir tak ada pergolakan. Ini merupakan satu keuntungan besar tersendiri bagi perkembangan ekonominya. Indonesia sendiri telah lama menempatkan perwakilannya di negeri ini. “Buat kita, Tanzania merupakan pintu gerbang untuk memasuki negeri-negeri di Afrika Timur,” tutur Hidayat Soemo, Duta Besar RI untuk Tanzania.

SEBAGAl satu bangsa, Tanzania memang terhitung baru kalau dihitung dari kemerdekaannya. Tetapi kalau bicara soal sejarah manusia, negeri ini pasti paling utama disebut-sebut. Di sinilah jejak manusia paling awal ditemukan. Di negeri ini dua jenis manusia yang pernah hidup telah meninggalkan tengkoraknya.

Mereka disebut Australopithecus boisei dan Homo habilis yang diperkirakan hidup sekitar 1,75 sampai 3,6 juta tahun lalu Australopithecus boisei atau Zinjanthropus diduga pemakan tumbuh­-tumbuhan, utamanya kacang-kacangan, sehingga dikenal juga dengan julukan “Manusia Pemakan Kacang”.Tetapi para ahli percaya, cuma Homo habilis sajalah yang mempunyai otak dan menggunakan tangannya untuk membuat alat-alat. Dia dijuluki “Manusia Pengguna Tangan” dan diperkirakan menjadi nenek moyang langsung manusia sekarang.

Kendati sejarah Tanzania telah betjalan sepanjang sejarah manusia sendiri, akan tetapi dokumen pertama mengenai negeri ini cuma berasal dari abad ke-2 Setelah Masehi. Satu buku panduan Yunani yang disebut Periplus of the Erythraean Sea menyebut-nyebut negeri yang bernama Rhapta di pantai timur Azania. Dituliskan, di negeri itu para pedagang Arab memperoleh gading, cula badak, cangkang penyu dan minyak kelapa.

Barang-barang itu mereka barter dengan kapak, pedang, tombak, mangkuk kaca,pakaian dan gandum. Penghuni negeri itu digambarkan sebagai manusia yang mempunyai kebiasaan lanun (bajak laut), berperawakan sangat bagus, dan dipimpin kepala suku di berbagai tempat.

Di abad yang sama, Claudeus Ptolemy dalam catatannya Geography juga mengatakan, manusia di negeri ini berperawakan tinggi dan berkulit gelap. Mereka juga dikenal pandai bersilat lidah dan cekatan sekali berkelahi.

Abad ke-8 ditandai dengan imigrasi orang Arab ke negeri itu dengan mendirikan kota-kota di Zanzibar, Mafia dan Kilwa. Banyak imigran Arab ini yang menikahi penduduk setempat, lalu meninggalkan keturunannya yang sekarang berbahasa Swahili.

Kota-kota yang mereka bangun termashur dan dikagumi para pengunjung. Salah seorang di antara mereka adalah petualang berkulit putih terkenal, Vasco da Gama, yang datang ke Afrika Timur tahun 1498. “Kota mereka besar dan banyak bangunan batu yang berteras-teras. Di situ mungkin tinggal 12 .000 penduduk,” tulisnya.

Di sinilah orang Arab kemudian mengembangkan satu jenis perdagangan yang lebih menguntungkan ketimbang gading, budak. Di abad ke-19, permintaan akan budak memang meningkat dari negara-negara Arab. Komoditi ini juga diminati sekali oleh orang Perancis untuk tenaga kasar di perkebunan di Pulau Mauritius dan Reunion. Begitu pentingnya Afrika Timur sebagai pusat perdagangan, maka tak heran kalau Sultan Sayyid Said dari Kesultanan Oman pada tahun 1832 memindahkan ibu kota­ nya dari Muscat ke Zanzibar.

PENGARUH Barat di Afrika Timur diawali abad ke-16 Ketika itu orang Portugis melakukan perdagangan dengan orang Afrika, seraya menguasai daerah pesisir. Cuma di akhir abad ke-1 7, mereka disingkirkan orang Arab dari Kesultanan Oman. Tak banyak yang ditinggalkan mereka di kawasan itu.

Peninggalan mereka cuma tampak dalam bentuk beberapa benteng, adu banteng di Pulau Pemba dan beberapa kosakata dalam bahasa Swahili. Orang Barat baru tampak lagi batang hidungnya pada paruh kedua abad ke-19. Kali ini Jerman dan Inggris berlomba-lomba menanamkan pengaruh untuk menguasai kawasan Afrika Timur. Bagian selatan Afrika Timur secepatnya berhasil menguasai bagian selatan Afrika Timur tahun 1884.

Perlawanan terhadap mereka pecah di pelbagai tempat. Salah satu yang terkenal adalah perlawanan orang Arab di pesisir. Seorang Arab, Abushiri bin Salim, dengan dukungan orang Afrika dan Asia, mengobarkan perlawanan terhadap Jerman. Gerakannya ini dikenal sebagai Pemberontakan Arab. Seorang pemimpin lainnya, Bwana Heri, membakar semangat suku Zigua dan memberontak pula.

Di dataran tinggi bagian selatan, suku Hehe di bawah komando pemimpinannya, Mkawawa, menyusul mengangkat parang dan tombaknya menolak kehadiran Jerman. Pertempuran hebat di mana-mana memaksa. Jerman, membangun benteng di beberapa tempat strategis di tahun 1898.

Daerah koloni mereka dibagi beberapa distrik yang dikepalai seorang komisioner. Tujuan pokok mereka adalah kepentingan ekonomis, yaitu membuka daerah pertanian, membantu usaha petemakan orang-orang Eropa di dataran tinggi di pedalaman, dan memaksa orang Afrika menanam tanaman keras. Mereka berhasil membuka perkebunan luas yang ditanami karet, kopi, katun dan sisal.

Di bawah pemerintahannya, Jerman membangun negeri itu untuk kepentingannya. Dar Es Salaam yang didirikan tahun 1866 oleh Sultan Majid dari Zanzibar, diperkaya Jennan dengan membangun gedung-gedung pemerintahan dan gereja-gereja indah. Mereka membangun pula jalan kereta api melintasi bagian tengah negeri dari Dar Es Salaam ke Kigoma, juga di bagian utara dari Tanga ke Moshi.

Di bidang pendidikan Jerman memperkenalkan sekolah untuk menghasilkan karyawan pemerintahan dari tukang. Mereka juga mendirikan institut biologi  dan pertanian, tentunya untuk menghasilkan tenaga kerja ahli yang bisa digunakan bagi kepentingan pertaniannya. Orang-orang Afrika sendiri banyak yang direkrut menjadi tentara yang berperang untuk Jerman. Di Perang Dunia I, tentara pribumi ini membantu Jerman memerangi Inggris. Ribuan askari, laskar pribumi, gugur dan dikenang kepahlawanannya di sebuah monumen di pusat kota Dar Es Salaam.

Usai perang, distrik Rwanda dan Burundi diserahkan kepada Belgia. Jerman yang takluk terpaksa pula melepaskan distrik lainnya kepada Inggris. Daerah yang sekarang dikuasai Inggris itulah yang dikenal dengan nama Tanganyika.

Di Tanganyika ini Inggris sebenarnya cuma mendapat mandat saja dari Liga Bangsa-bangsa. Tetapi prakteknya, Tanganyika menjadi bagian dari Kerajaan Inggris. Tahun 1925 distrik­  di Tanganyika dikelompokkan kembali menjadi beberapa propinsi ,masing­ masing dengan gubernurnya.

Di Propinsi-provinsi itu lantas dibentuk satu dewan perwakilan, tetapi tak ada satu pun orang Afrika disana. Mereka baru duduk di dewan perwakilan itu di tahun 1945. Setahun kemudian, Tanganyika lantas menjadi wilayah perwakilan Persatuan Bangsa­ Bangsa (PBB).

Tahun 1954, Persatuan Nasional Tanganyika Afrika (TANU) di bawah pimpinan  Julius Kambarage Nyerere  berhasil mengundang  PBB mengunjungi Tanganyika dan mendesak lnggris memberikan kemerdekaan. Mereka meneriakkan slogannya yang terkenal, uhuruna umoja (Kemerdekaan dan Persatuan).

Tangga 19 Desember 1961, Tanganyika akhirnya menjadi bangsa merdeka. Mereka mengerek benderanya yang berwarna hijau, hitam dan emas. Kata mereka, warna itu lambang tanah, manusia dan mineral.

Pulau Zanzibar dan Pemba, sementara itu masih menjadi protektorat Inggris, kendati para nasionalis kedua pulau di pantai timur ini telah membentuk Partai Nasional. Zanzibar yang berkeinginan membentuk negara Islam. Mereka berhasil memperoleh kemerdekaannya tanggal 12 Januari 1964.

Tiga bulan kemudian, 26 April, mereka bersepakat menyatukan diri dengan Tanganyika dan mendirikan Republik Persatuan Tanzania. Bendera Tanganyika ditambahkan strip warna biru, lambang , lautan dan resmi menjadi bendera nasional Tanzania. Julius Nyerere terpilih  menjadi Presiden Republik Persatuan Tanzania. Tanganyika dan Zanzibar, persatuan  keduanya telah melahirkan negara yang sekarang tengah mengembangkan diri menjadi satu bangsa yang berada di barisan terdepan di Afrika. (SA)

 

Sumber : KOMPAS (08/12/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 336-340.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.