TANYALAH PADA HATI NURANI APA YANG SUDAH KITA SUMBANGKAN BAGI PEMBANGUNAN

TANYALAH PADA HATI NURANI APA YANG SUDAH KITA SUMBANGKAN BAGI PEMBANGUNAN

PRESIDEN :

Presiden Soeharto pada peringatan Hari Kebaktian Sosial Nasional hari Selasa mengajak seluruh rakyat Indonesia agar bertanya kepada hati nurani masing-masing, apakah yang sudah kita sumbangkan bagi pembangunan khususnya dalam menangani masalah-masalah sosial yang dihadapi bersama.

"Marilah kita bertanya pada diri sendiri, cukup tebalkah kesadaran sosial kita masing-masing?", seru Kepala Negara pada upacara peringatan Hari Kebaktian Sosial Nasional ke-26 di Balai Sidang Senayan Jakarta.

Dalam hubungan itu, Presiden mengajak rakyat bercermin pada organisasi­organisasi dan pekerja sosial. Mereka, katanya, selalu memberi kepada masyarakat, bukan meminta. Selalu melayani, bukan minta dilayani masyarakat.

"Pengabdian mereka sangat besar artinya bagi kemanusiaan dan masyarakat. Mereka telah memberikan waktu, pikiran, tenaga dan bahkan mungkin juga hartanya untuk membantu sesama anggota masyarakat yang perlu bantuan", tandasnya.

"Semangat organisasi dan pekerja sosial inilah yang perlu kita contoh, malahan kita suburkan dalam masyarakat yang sedang membangun", lanjut Presiden.

Ia mengemukakan dewasa ini dalam masyarakat tumbuh dan berkembang berbagai organisasi sosial, namun disadari sangat kurangnya jumlah pekerja sosial. Oleh karena itu kepala negara mengharapkan agar tumbuhnya organisasi sosial dapat dibarengi dengan meningkatnya kemampuan organisasi itu serta bertambahnya pekerja-pekerja sosial.

"Mengingat jumlah pekerja sosial terbatas, saya berharap agar mereka bekerja secara terkoordinasi agar potensi yang masih kecil itu dapat mencapai hasil sebesar­besarnya", demikian kepala negara.

Ia berpendapat Indonesia masih dihadapkan pada masalah-masalah sosial besar yang harus ditangani bersama.

Ia menunjuk pada pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar ’45 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Ia juga menunjuk pasal 34 UUD ’45 yang menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

"Kedua pasal itu masih jauh dari kenyataan", tandasnya.

Itu, tambahnya, sama sekali tidak berarti kita ingkar terhadap ketentuan Undang­Undang Dasar, tidak juga berarti kita tidak berusaha ke arah itu.

"Negara miskin tidak akan mampu memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Negara terbelakang tidak akan dapat memberi pekerjaan terhormat dan penghidupan layak bagi kemanusiaan untuk tiap-tiap warganegaranya", ujar Presiden.

Karena itu, menurut Presiden, bangsa Indonesia harus terus membangun agar dapat menaikkan tingkat kehidupan dan kemajuan, menghilangkan atau mengurangi kemiskinan dan keterbelakangan.

Pada upacara yang dihadiri oleh sejumlah menteri itu kepala negara menyematkan Satyalencana Bakti Sosial kepada sepuluh orang penyumbang (donor) darah paling sering serta seorang tokoh pekerja sosial yang dianggap berjasa besar.

Pekerja sosial yang tahun ini mendapat Satya Lencana Kehormatan di bidang sosial itu adalah Ny. Sri Mujinab Imam Munandar (almarhumah) yang semasa hidupnya sebagai isteri Gubernur Riau telah mendirikan Yayasan ”PermataBunda” yang bergerak di bidang sekolah luar biasa dan panti-panti asuhan.

Sedang penerima tanda kehormatan dari kalangan donor darah adalah Sutaryo dari Madiun (123 kali menyumbangkan darah), H.P. Ahmad Naisa SH dari Jakarta (112 kali), Imam Kusnadi dari Jakarta ( 112 kali), J.A. Lala Mentik dari Jakarta (110), Karna Budiwan dari Tangerang (109), D.Legian dari Bali (105), Ir.R.Sudjajoto dari Jakarta (103), Mardjan Matdrawi dari Ujungpandang (102), Nyoo Djiang Hok dari Jakarta (100) dan H. Moh.Yahya dari Surabaya (100 kali).

Pada awal sambutannya, presiden mengungkap kembali kejadian tanggal 19 dan 20 Desember 26 tahun lalu di mana ditunjukkan kesadaran sosial masyarakat Indonesia pada masa-masa perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.

Penerimaannya di wakili oleh putri almarhumah, N y. Sri Atmawanti, H.P. Ahmad Naisha dari Jakarta, J.A. Lalamentik dari Jakarta, Nyoo Djiang Hok dari Jakarta, Karna Budiawan dari Tangerang, R. Soedjajoto dari Jakarta, Imam Kusnadi (alm) diwakili Ny. Imam Kusnadi dari Jakarta, D. Legijan dari Kodam XVI Udayana, Mardjan Matrawi dari Ujung Pandang, Soetaryo (Madiun) dan Moch. Yahya (Surabaya). (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : MERDEKA (20/12/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 250-252.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.