TANGGAL-TANGGAL PENTING HM SOEHARTO

TANGGAL-TANGGAL PENTING HM SOEHARTO[1]

 

Jakarta, Kompas

PADA tanggal 10 Maret 1998 silam, MPR mengeluarkan Tap MPR-RI No.IV/MPR/1998 berjudul “Pengangkatan Presiden Republik Indonesia”. Itulah landasan konstitusional MPR yang mempercayai Haji Muhammad Soeharto sebagai Presiden untuk ketujuh kalinya. Sehari setelah itu, 11 Maret 1998, MPR mengeluarkan Tap MPR RI No.VI/MPR/1998 yang berjudul “Pengangkatan Wakil Presiden RI”, yang mensahkan BJ Habibie sebagai Wapres.

Dua Tap itu kemarin tinggal sejarah, setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya melalui upacara di Istana Merdeka. Beberapa menit kemudian, tanggungjawab Presiden menjalankan serta mengamankan pembangunan nasional, diserahkan kepada Habibie. Sekitar 31 tahun dan dua bulan, persisnya tanggal 12 Maret 1967, Jenderal TNI Soeharto oleh MPR ditunjuk sebagai Pejabat Presiden untuk menjalankan tugas kepresidenan yang telah diambil alih dari Presiden Soekarno. Setahun kemudian, Soeharto dipilih secara resmi sebagai Presiden untuk pertama kalinya sekaligus mengawali era Orde Baru.

Presiden Soeharto mundur dari jabatannya menyusul gejolak politik yang menewaskan sekitar 500 korban, termasuk empat mahasiswa Pahlawan Reformasi dari Universitas Trisakti. Gejolak yang diwarnai kerusuhan, penjarahan, pembakaran serta berbagai jenis kekerasan lainnya itu, dipicu oleh krisis moneter yang berkepanjangan sejak Juli 1997, dan diakhiri dengan ‘pendudukan’ mahasiswa di kompleks MPR/DPR Senayan, tanggal 19 Mei 1998.

Pengunduran diri Presiden Soeharto disambut meriah, bukan saja oleh mahasiswa di kompleks MPR/DPR tapi juga sebagian rakyat dijalan-jalan di kota-kota besar di Tanah Air. Sebagian orang menyangka cita-cita menuju reformasi secara utuh sudah tercapai, tapi sebagian lagi mengatakan pengunduran diri itu baru merupakan langkah awal dari proses reformasi yang akan berjalan sangat panjang.

Tujuh Pahlawan Revolusi diculik dan dibunuh tanggal 30 September 1965. Mayjen TNI Soeharto mengambil alih pimpinan AD dan menumpas pemberontakan G30SPKI. Setelah itu, karier Soeharto menjadi lancar. Bulan Maret 1973 terpilih lagi menjadi Presiden untuk kedua kalinya, lalu ketiga kali tahun 1978, keempat kali tahun 1983, kelima kali tahun 1988, keenam kali tahun 1993, dan ketujuh kali tahun 1998.

Tanggal 8 Jul 1997, nilai rupiah terhadap dollar AS mulai merosot, memicu krisis ekonomi berskala nasional. Meskipun bantuan dari IMF sudah disetujui tanggal 31 Oktober 1997, lalu ditandatangani Presiden Soeharto tanggal 15 Januari 1998, kemudian anggaran belanja sempat direvisi, lalu gagasan kontroversial CBS dikumandangkan, krisis ekonomi menjalar menjadi krisis kepercayaan.

Naiknya harga meletupkan unjuk rasa mahasiswa, dan juga kerusuhan sporadis selama bulan Januari dan Februari. Bulan Maret, Indonesia yang ber-Sidang Umum MPR, dilanda unjuk rasa mahasiswa meskipun situasi politik tenang tapi mencekam. Bulan April, suhu politik semakin panas. Bulan Mei, situasi politik mulai bergejolak.

Tanggal ;

4 Mei, pecah kerusuhan dan penjarahan di Medan.

9 Mei, Presiden Soeharto melawat ke Kairo, Mesir.

12 Mei, aparat keamanan menembak mahasiswa sampai tewas.

14 Mei, kerusuhan dan penjarahan.

15 Mei, Presiden Soeharto kembali dari Kairo, memperpendek kunjungan kenegaraan.

16 Mei, evakuasi warga asing dimulai. Kerusuhan dan penjarahan menewaskan sekitar 500 korban.

18 Mei, Ketua MPR/DPR Harmoko meminta Presiden Soeharto mundur.

20 Mei, Golkar juga meminta Presiden Soeharto mundur.

21 Mei, Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Sumber : KOMPAS (22/05/1998)

__________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 471-472.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.