“TAK PERLU ROMBAK BESAR-BESARAN”

“TAK PERLU ROMBAK BESAR-BESARAN”[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto menegaskan struktur, strategi, dan manajemen aparatur pemerintahan di masa datang perlu diperbaiki, namun tanpa harus merombak secara besar-besaran.

“Kita tidak perlu mengadakan perombakan besar-besaran terhadap apa yang sudah kita lakukan dengan baik selama ini. Perombakan yang radikal tidak selalu besar manfaatnya.” kata Presiden di Istana Negara kemarin.

Dia mengemukakan hal itu saat membuka seminar

“Pendayagunaan aparatur Negara” : Menyiapkan sosok aparatur negara menghadapi tantangan abad ke-21 yang diselenggarakan Kantor Menpan, Badan Administrasi Kepegawaian Negara, Lembaga Administrasi Negara, dan Arsip Nasional RI.

“Ada beberapa hal yang perlu benar-benar kita perhatikan yaitu keluhan masyarakat bahwa aparatur negara kita masih kurang tanggap, kurang efektif, dan kurang efisien, terutama jika dibandingkan dengan sektor swasta yang bergerak makin maju.” kata Kepala Negara.

Keluhan itu harus dicarikan jalan keluarnya sehingga masyarakat merasakan aparatur negara kian tanggap, efektif, dan efisien. Menurut Presiden, proses penggesitan dan penyegaran jajaran aparatur lebih mudah dilaksanakan dalam bidang ekonomi karena masalahnya mudah terlihat dan perubahannya segera dapat dirasakan.

“Namun kita tidak boleh mengabaikan kemampuan aparatur negara yang menangani bidang lain yang masalahnya tidak mudah terlihat dan dampak perubahan nya tidak segera terasa seperti dalam bidang sosial budaya dan politik.”

Menyinggung tentang perubahan di seluruh dunia, Presiden mengatakan ada dua hal yang harus diperhatikan jajaran pemerintahan.

“Pertama, adalah aparatur negara harus tetap berpegang teguh pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 sebagai tatanan nilai-nilai dasar dan tatanan aturan dasar.”

Kedua, dengan berpegang teguh pada nilai dasar itu, aparatur negara harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan.

Kepala Negara juga menilai aparatur negara yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman akan menjadi penghambat pembangunan.

“Karena itu, aparatur negara harus dinamis. Ini menghendaki kepekaan wawasan, senantiasa harus berpegang teguh pada prinsip namun luwes dalam penerapan nya. Juga menghendaki terbukanya berbagai kemungkinan pembaruan, sejalan dengan tuntutan pembangunan yang makin meningkat.” kata Presiden.

Sumber : BISNIS INDONESIA (08/07/1997)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 57-58.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.