TAK BENAR PAK HARTO MAU KAWIN LAGI

TAK BENAR PAK HARTO MAU KAWIN LAGI[1]

 

Jakarta, Kompas

Probosutedjo mengutarakan, isu seputar rencana Presiden Soeharto akan kawin lagi setelah putra bungsunya, Hutomo Mandala Putera (Tommy), mengakhiri masa lajangnya adalah tidak benar.

 “Kenyataannya tidak demikian,” kata Kepala Negara sambil tertawa menanggapi harapan dan doa Fitrita, pelajar Madrasah Ibtidaiyah Negeri, Pontianak, Kalbar saat temu wicara pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Istana Negara, Jumat. Fitrita bersama dengan pelajar lainnya mendoakan agar Pak Harto sehat walafiat dan diberikan umur panjang.

Mereka yang mewakili pelajar dari 27 propinsi ini selain menyampaikan harapan bagi kesehatan dan umur panjang Pak Harto juga mengemukakan cita-cita dan keinginannya dengan berani, meski penuh keluguan. Presiden yang didampingi Wapres Try Sutrisno dan Mendikbud Wardirnan Djojonegoro, dengan kebapakan menjawab setiap pertanyaan, harapan dan keinginan anak-anak.

 

Sehat Walafiat

“Harapan saya, saya akan mendoakan Bapak agar Bapak panjang umur dan sehat,” kata Fitrita mantap setelah mengenalkan dirinya.

“Terima kasih doamu. Mudah-mudahan Tuhan akan mengabulkan. Kalau dikabulkan saya juga senang. Lebih baik sehat daripada sakit-sakitan, walaupun banyak yang “mendoakan” supaya saya sakit. Di luar negeri kabarnya saya sakit,” kata Presiden tertawa-tawa.

Kenyataannya menurut Presiden, dirinya dalam keadaan sehat. Semua ini berkat doa rakyat Indonesia, termasuk anak-anak.

“Terima kasih atas doa dari anak-anak dan Bapak sekarang alhamdulillah dalam keadaan sehat,” kata Pak Harto sambil berpesan supaya anak-anak belajar terus menerus. Apa pun kekurangannya, baik fasilitas atau alat untuk belajar jangan sampai memperkecil semangat mereka untuk belajar.

Sebelumnya dalam wejangannya tanpa teks, Presiden menekankan kepada anak­-anak agar tidak berkecil hati seandainya tidak dapat melanjutkan pendidikan. Sebab, masyarakat pun bisa dijadikan tempat untuk meningkatkan pengetahuan. Masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan perguruan tinggi yang lengkap.

 

Takesra Bidik

Jika di perguruan tinggi mahasiswa bisa mempelajari salah satu disiplin ilmu, baik politik, ekonomi, sosial dan sebagainya maka di masyarakat ilmu apa saja bisa dipelajari. Pengetahuan dari masyarakat ini dapat menjadikan seseorang pemimpin.

“Coba lihat saja Bapak sendiri. Saya tidak pernah mengikuti pendidikan di perguruan tinggi, tapi saya belajar di perguruan tinggi masyarakat, baik masalah politik, ekonomi, sosial budaya, lengkap semua itu ada,” kata Pak Harto yang disambut tepuk tangan anak-anak.

Peringatan Hardiknas yang berlangsung penuh kekeluargaan itu juga ditandai dengan pencanangan program Tabungan Keluarga Sejahtera untuk Biaya Pendidikan (Takesra Bidik) dan Asuransi Keluarga Sejahtera Indonesia untuk Biaya Pendidikan (Aksi Bidik) oleh Presiden. Pada kesempatan itu Kepala Negara menyerahkan buku Takesra Bidik dan Asuransi Bidik kepada Noho Luhulima, mewakili para keluarga penerima bantuan.

Sebelumnya Presiden menyampaikan pidato tertulis dan menyerahkan penghargaan Widyakrama kepada para bupati dan wali kota madya yang dinilai berprestasi melaksanakan program wajib belajar. (N-1)

Sumber: SUARA KARYA (03/05/1997)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 699-702.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.