TAJUK : SUARA DAN SIKAP BERBEDA

TAJUK : SUARA DAN SIKAP BERBEDA[1]

 

Jakarta, Republika

Para mantan pejabat yang bersuara berbeda dibanding ketika mereka menjabat, menurut Presiden Soeharto

“akan tergulung oleh perjalanan yang lain”.

Komentar Presiden ini diberikan ketika menerima pengurus Generasi Muda Musyawarah Keluarga Besar Gotong Royong kemarin dulu di Bina Graha. Presiden juga dikutip sebagai mengatakan bahwa orang-orang itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Mereka hanya kelompok kecil.

Sewaktu mereka menjabat, baik sipil maupun militer, tentu saja tunduk pada disiplin dan sistem yang berlaku di bagian itu. Mereka menurut dan bahkan pada waktu-waktu tertentu bersuara keras untuk kepentingan lingkungannya. Tiba-tiba, pada kesempatan yang lain bersuara keras yang berseberangan dengan pendapat lain sikapnya yang terdahului. Terkesankan bahwa semasa berdinas terbatasi dalam berpendapat sedang selepas dinas mereka lebih leluasa.

Pertanyaannya, pertama ada apa gerangan? Pendapat dan sikap barunya jelas bukan sekadar pendapat dan sikap moral tapi sudah menjurus kepada sifat politis. Mereka melihat ada kesempatan untuk memainkan diri dan kelompoknya. Mereka ingin diakui eksistensinya dalam format dan warna yang berbeda dengan sebelumnya.

Kedua apakah tidak boleh lagi berbeda pendapat? Berbeda pendapat adalah hak kita bersama tentu saja penggunaan hak tersebut tidak dilarang. Penggunaan berbeda pendapat seyogyanya tetap dalam kerangka yang berlaku. Tapi, jika pendapat dan sikap itu ditujukan untuk mempengaruhi pihak lain dan pihak lain diharapkan bereaksi jelas ini menyalahi aturan. Tatanan yang ada bisa terbongkar, seperti pohon yang tercabut sampai keakar-akarnya. Bisa-bisa arah yang akan tercapai adalah perlawanan terhadap apa-apa yang sah hadir. Jika itu yang memang diharapkan, maka ada niat untuk menggulingkan sesuatu yang sudah mapan. Pelanggaran hukum perlu mendapat tindakan dari yang berwajib.

Ketiga, jika mereka tidak setuju dengan sistem yang berlaku sewaktu masih menjabat, mengapa tidak mundur saja? Bukankah adalah hak juga jika mereka mundur? Ini juga menjadi pertanyaan bersama, adakah motif-motif tertentu yang sedang dimainkan semasa itu?

Suara yang berbeda dan bahkan bertolak belakang menunjukkan tiadanya suara yang tetap. Dengan kata lain mereka tidak konsisten. Seorang atau sekelompok tokoh tidak konsisten dapat ditebak jati dirinya. Menurut tatanan Timur, mereka bukan panutan.

Kelompok mereka hanya kecil. Kita setuju dengan pendapat Presiden, bahwa suara yang kecil ini tidak perlu dikhawatirkan. Tapi, jika suara tersebut dibiarkan terus­ menerus tanpa peringatan seperti dilakukan Presiden bisa berakibat lain. PRD dan Mimbar Bebas di kantor. DPP PDI adalah contoh konkretnya, Kelompok yang salah bisa digilas kelompok yang benar untuk bertindak.

Ibarat bola salju, suara yang berbeda itu bisa menggelinding makin besar. Api yang terkena bensin banyak akan membesar. Api kecil adalah sahabat, bermanfaat bagi manusia. Api besar yang tak terkendali akan membahayakan. Peringatan belum terlambat diberikan. Taruhan besar memang dipertaruhkan, yaitu kesatuan bangsa.

Sumber : REPUBLIKA (13/09/1996)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 245-246.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.