Tajuk Rencana POTENSI GEJOLAK TERMASUK HAL YANG HARUS KITA WASPADAI DALAM TAHUN 1996

Tajuk Rencana

POTENSI GEJOLAK TERMASUK HAL YANG HARUS KITA WASPADAI

DALAM TAHUN 1996[1]

 

Jakarta, Kompas

MEMASUKI tahun baru, tahun 1996, Presiden Soeharto mengajak kita untuk menyelesaikan dan mencegah gejolak.

Tegasnya : “Apapun alasannya ekonomi, sosial, budaya, agama ataupun politik setiap gejolak yang terjadi, jelas merupakan langkah mundur bagi bangsa kita secara menyeluruh.”

Itulah tantangan baru bangsa-bangsa, terutama yang bermasyarakat majemuk, dalam fase pembangunan sekarang. Bukan pertama-tama musuh dan ancaman dari luar, akan tetapi ancaman dari dalam yakni ancaman destabilisasi yang bisa menjurus ke desintegrasi nasional.

Pimpinan dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat, agar dapat membaca kerawanan tersebut dan bersama-sama menghindarkannya. Usaha itu perlu disertai ketulusan yang beritikad baik untuk mencoba memahami latar belakang, sebab serta alasannya.

Karena masyarakat kita adalah masyarakat panutan, perlu dihindarkan kesan adanya faksi-faksi, persaingan dan fiiksi yang tidak sehat di kalangan pemerintahan sendiri. Baru adanya kesan saja, dampaknya yang negatif sudah akan mengurus ke masyarakat.

KONDISI pemerintahan dan masyarakat yang tidak akan diganggu oleh gejolak kecuali memberikan rasa aman, juga menjamin kelanjutan perkembangan ekonomi antara kondisi sosial politik dan perkembangan ekonomi, berlangsung proses dan interaksi saling mempengaruhi.

Dalam fase pertumbuhannya sekarang ini, kondisi ekonomi masih sangat dipengaruhi oleh kerjasama kita dengan dunia luar. Hal itu berlaku dari sektor perdagangan sampai ke sektor investasi serta bantuan. Bukan hanya iklim ekonomi makro dan ekonomi mikro yang mempengaruhi kepercayaan dan kerja sama ekonomi dengan dunia luar tetapi juga iklim sosial politik.

Manajemen sosial politik dan manajemen ekonomi menjadi semakin rumit, karena keduanya tidak berada dalam status quo. Keduanya bergerak dalam dinamika yang unsur-unsurnya datang dari dalam dan dari luar. Perkembangan dan perubahan tidak dapat dihindari. Perkembangan dan perubahan, justru dikehendaki dan merupakan hakikat pembangunan.

Sudah ditemukan formula untuk mengelolanya ialah bagaimana mengusahakan bersama, agar perkembangan dan perubahan itu tidak lepas kendali. Dengan sengaja kita tekankan bahwa usaha itu agar merupakan usaha bersama. Pengertian bersama ini perlu setiap kali diperbarui dan diuji, seberapa jauh, kebajikan itu tidak hanya menjadi pernyataan politik, tetapi benar-benar dilaksanakan.

Bukan hanya dilaksanakan bersama yang sepaham, tetapi juga bersama dengan mereka yang mempunyai pandangan berbeda, penilaian berbeda. Sebab bukankah semua itu merupakan hasil dari dinamika masyarakat.

Inilah yang dapat diberikan isi dan bobot lebih besar menyelenggarakan kebersamaan dengan semua pihak, termasuk pihak-pihak yang mempunyai pandangan berbeda. Apakah tanpa kriteria? Ada kriterianya, misalnya seperti yang dikemukakan oleh Presiden pada pidato akhir tahunnya,

“marilah semua berpegang teguh pada Pancasila, UUD 1945 dan GBHN serta menjunjung tinggi kepentingan nasional dan persatuan di antara kita.”

Jika kita bisa menangkap suara dalam masyarakat yang lebih dipersoalkan bukanlah ada tidaknya norma dan kriteria. Yang lebih dirasakan sebagai permasalahan bagaimana secara konsekuen mengetrapkan dan melaksanakan norma dan kriteria tersebut. Ada semacam krisis yakni krisis antara yang dinyatakan dan yang dilaksanakan.

KONDISI kemasyarakatan yang kukuh akan semakin menunjang laju pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,2 persen untuk tahun 1995 merupakan indikator yang mantap.

Angka pertumbuhan tidak berdiri sendiri. Ia dibaca dalam kaitannya dengan tingkat inflasi, yang berhasil dikendalikan di bawah 10 persen, namun tetap harus ditekan di bawah 8,64 persen.

Tidak pula dapat kita kesampingkan, isyarat peringatan yang beberapa waktu lalu disampaikan oleh Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Volume dan jenis impor dibuat lebih terkendali. Hambatan pada bidang ekonomi mikro semakin dihapuskan. Deregulasi dilanjutkan.

Dalam pidato akhir tahunnya, Presiden Soeharto kembali mengingatkan akan datangnya perdagangan bebas di Asia Pasifik. Dalam tahun 2010, Indonesia sudah harus mampu memanfaatkan pasar negara-negara industri yang terbuka lebar. Sepuluh tahun kemudian, 2020, Indonesia harus siap membuka pasarnya bagi negara-negara industri.

Pancang waktu yang setiap kali dikemukakan oleh Kepala Negara mempunyai tujuan pendidikan dan persiapan. Maksudnya, agar kita, bangsa Indonesia mempersiapkan diri. Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang lama. Ingat saja, betapa, tahu-tahu kita telah menjalani 25 tahun periode pembangunan jangka panjang pertama. Rasanya seperti baru kemarin!

Persiapan itu bagaimana? Inilah yang selanjutnya agar dirumuskan dan dimasyarakatkan. Hal itu belum dilakukan secara terpadu. Pada tempatnya, menjadi agenda tahun 1996 bagi para pembantu Presiden. Sekaligus memberikan tantangan baru yang jelas kepada bangsa kita.

KITA juga mengalami perkembangan seperti yang dialami oleh banyak negara yang sedang membangun. Pembangunan dalam zaman informasi dan dalam zaman global, menghasilkan orientasi dan sikap ganda. Di satu pihak, sikap terbuka, sikap mendunia, termasuk pandangan dan gagasan-gagasannya.

Pada waktu yang sama, baik sebagai reaksi maupun sebagai proses mencari keseimbangan, justru dalam kondisi informasi, ekonomi dan kebudayaan global itu, pandangan dan orientasi kita juga cenderung menyempit, mencari keamanan dan rasa aman dalam relung-relung hati yang paling dalam dan eksklusif

Tidak kurang dari Sekjen PBB, Boutros Boutros Ghali, yang juga mengangkat observasi serupa dalam pidato memperingati 50 Tahun Perserikatan Bangsa Bangsa di New York. Orientasi ganda yang paradoksal itu olehnya dicemaskan ikut mempengaruhi suasana damai di dunia.

Dalam memasuki tahun 1995, baiklah berbagai persoalan dan pengamatan itu kita angkat. Bersama-sama kita mengkajinya dan bersama-sama pula kita mencarikan jawabannya yang tepat. Selamat Tahun Baru.

Sumber : KOMPAS (03/01/1996)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 231-233.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.