TAJUK RENCANA : PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN MEMAHAMI BENAR KEPRIHATINAN RAKYAT

TAJUK RENCANA : PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN MEMAHAMI BENAR KEPRIHATINAN RAKYAT[1]

Jakarta, Kompas

PERTANGGUNGJAWABAN Presiden Soeharto di depan Sidang Umum MPR sesuai dengan pandangan kerisauan dan rasa perasaan rakyat, yakni perihal kesulitan hidup sehari-hari yang dirasakan sejak kita ditimpa oleh krisis keuangan dan ekonomi mulai medio tahun 1997.

Tepat bahwa kenyataan itu memperoleh perhatian besar dalam pidato pertanggungjawabannya. Melegakan masyarakat penegasannya, bahwa Presiden sangat memahami serta merasakan kesedihan ibu-ibu rumah tangga dalam menghadapi kehidupan sehari-hari dalam waktu akhir-akhir ini.

Dengan kata lain, Presiden dan pemerintahannya memahami serta ikut merasakan secara mendalam apa yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat krisis moneter dan ekonomi. Akibat-akibat itu di antaranya, naiknya harga kebutuhan pokok sehari-hari termasuk obat-obatan. Langkanya lapangan kerja, bahkan timbulnya pengangguran akibat terpaksa diputusnya hubungan kerja oleh perusahaan dan pabrik-pabrik yang juga tertimpa kesulitan seperti mahalnya harga bahan, komponen serta segala sesuatu yang bermuatan impor.

Presiden menjelaskan rencana mengatasi krisis itu. Program jangka pendek adalah menjaga tersedianya bahan kebutuhan pokok termasuk obat serta mengendalikan harganya. Juga melakukan berbagai program padat karya untuk menampung pengangguran. Untuk jangka menengah program itu, adalah reformasi ekonomi. Seperti halnya tentang akibat krisis ekonomi ialah kesulitan hidup rakyat perihal reformasi ekonomi, juga dipaparkan secara jelas, apa adanya. Bahwa segala rencana dan usaha termasuk bahkan yang berpola kepada persetujuan dengan IMF diterima, sedemikian pula masukan serta komitmen bantuan dan pemerintah negara-negara sekawasan. Tetapi dalam kenyataannya keadaan belum terangkat. Dan yang kita pandang sebagai indikator serta sumber ketidakpastian ekonomi itu adalah gejolak mata uang rupiah terhadap dolar. Gejolak itu hanya reda sebentar, kemudian naik lagi pada tingkat sekitar Rp.9.000 perdolar.

Padahal dengan kurs yang setinggi itu, apalagi tanpa kepastian segala sesuatu yang menyangkut perhitungan ekonomi untuk kegiatan ekonomi seperti industri impor­ ekspor dan lain-lain tidak dapat di lakukan.

KENYATAAN itulah yang mendorong pemerintah mencari serta mempertimbangkan jalan lain yang oleh presiden diformulasikan sebagai Paket IMF Plus. Apa isi paket IMF Plus, seperti dikemukakan oleh Kepala Negara sedang dipelajari secara serius, secara seksama secara hati-hati.

Betapapun mendalam dan meluasnya kesulitan dan keprihatinan hidup yang sedang kita alami, kita akan mau dan mampu mengatasinya, demikian keyakinan serta ajakan Kepala Negara. Keyakinan dan ajakan itu mempunyai dasar dan pertimbangan cukup kuat.

DASAR dan pertimbangan itu, dipaparkan dalam uraian selanjutnya. Dasar itu ialah kenyataan yang disertai angka fakta serta suasana dan lingkungan kualitatif, bahwa selama tiga setengah tahun Repelita VI yang menjadi kurun waktu pertanggungjawaban presiden dalam Sidang Umum 1998, segala sesuatu berjalan lancar serta terus meningkat sesuai dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.

Pertumbuhan ekonomi diatas tujuh persen, inflasi tetap dibawah satu digit, ekspor dan impor sekalipun berfluktuasi sehingga mempengaruhi neraca berjalan tetap terkendali. Dari dalam maupun dari luar dikemukakan penilaian tentang sehatnya fundamental ekonomi Indonesia.

Pertimbangan lebih konkret pada tingkat kehidupan sehari-hari menyangkut berhasilnya terus menerus mengurangi jumlah penduduk miskin bertambahnya keluarga sejahtera surutnya kematian bayi dan ibu yang melahirkan.

SEGALA sesuatu berjalan lancar sampai terjadilah apa yang oleh presiden dilukiskan sebagai kenyataan bahwa mau atau tidak mau siap atau tidak siap kita dan ekonomi Indonesia telah menjadi bagian dari ekonomi global.

Kenyataan itu datang lebih dini membawa pengaruh yang kita tidak dengan begitu saja dapat menangkap dan memahaminya, tidak pula begitu saja dapat menjelaskan duduknya perkara. Begitu banyak dan kuat faktor-faktor eksternal yang berada di luar kontrol dan kekuasaan kita, tetapi pengaruhnya menyeruak secara efektif ke dalam.

Kita sepakat akan ajakannya, agar menghadapi krisis yang serius ini, kita jangan malahan cekcok saling menyalahkan atau mencari kambing hitam. Kita merapatkan barisan serta membangun kemauan dan kemampuan bersama untuk mengatasi krisis.

Hal itu tidaklah berarti bahwa kita tidak harus menarik pelajaran dan pengalaman dari krisis ini. Kita harus menarik pelajaran. Kita melakukan mawas diri dan secara tulus mencoba mengetahui sedalam dan seluas mungkin apa kelebihan dan kekuatan kita dan yang tidak kalah penting apa kelemahan, kesalahan, seta kealpaan-kealpaan kita.

Misalnya, kita berhasil mencukupi kebutuhan pangan terutama beras. Mengapa kita tidak meluaskannya secara konsisten sehingga kecukupan secara mandiri itu ditopang oleh bahan pangan lain seperti jagung, ketela, kedelai dan lain-lain. Di Thailand, krisis kurang parah, karena di sana, kebutuhan pangan lebih mencukupi.

Fundamental ekonomi kita secara makro memang cukup sehat. Tetapi kesehatan itu, rupanya harus semakin diperluas sehingga mencakup lembaga perbankan serta yang tidak kalah menentukan adalah terselenggaranya pemerintahan dan pembangunan yang semakin merupakan good governance, pemerintahan yang bersih dan berwibawa dan karena itu efektif, adil, serta berpedoman secara konsisten untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Oleh presiden, kata kunci untuk keluar dari krisis dan usaha pemulihan ekonomi adalah pemulihan kepercayaan, kepercayaan kepada rupiah yang juga berarti pemulihan kepercayaan kepada pemerintah.

Masuk akal, dalam kesulitan seperti sekarang ini, kita membuat penilaian dan hati kita menjadi panas. Keadaan itu sangat logis, tetapi harus tetap dapat kita kendalikan. Sebab, seperti ditegaskan oleh Kepala Negara, yang harus kita kerjakan bukanlah saling menyalahkan dan mencari kambing hitam, melainkan mengambil pelajaran memahami posisi kita dalam konteks global, merumuskan kebijakan secara cermat serta langkah-langkah pasti yang memerlukan pengertian, dukungan dan partisipasi kita bersama.

Pemerintah bersama masyarakat harus mengambil langkah-langkah yang memulihkan kepercayaan kepada rupiah dan kepada pemerintahan. Kepercayaan itu pertama dan terutama dari dalam. Namun dalam realitas ekonomi global sekarang, kepercayaan itu juga dari luar. Pandangan, semangat serta orientasi pidato pertanggungjawaban Presiden mencakup serta mempertimbangkan faktor-faktor itu.

Sumber : KOMPAS (02/03/1998)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 127-129.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.