Tajuk Rencana MENUMBUHKAN SIKAP OPTIMIS

Tajuk Rencana MENUMBUHKAN SIKAP OPTIMIS

 

Jakarta, Suara Karya

BERSIKAP optimis, bekerja lebih keras, dan meningkatkan disiplin, itulah inti dari sambutan Presiden Soeharto pada peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal.

Presiden mengingatkan bahwa semua ajaran agama selalu memberikan kabar gembira, memberikan semangat untuk terus berjuang melawan tantangan dan memberikan harapan bahwa di balik kesulitan akan ada kemudahan.

Sikap optimis ini juga dibutuhkan oleh kita sebagai bangsa yang saat ini sedang menghadapi banyak tantangan berat dalam usaha pembangunannya. Misalnya, tantangan di bidang ekonomi yang terasa berat akibat pengaruh kelesuan ekonomi dunia yang belum juga pulih sepenuhnya dari resesi sehingga penciutan anggaran dan pengetatan ikat pinggang terus dilaksanakan.

DALAM menghadapi kesulitan orang bisa mengambil tiga sikap, yaitu putus asa, apatis, dan optimis.

Orang yang bersikap putus asa pada dasarnya mempunyai pandangan yang pesimis. Baginya masa depan tidak: memberikan harapan. Serba gelap, tidak ada titik­-titik terang. Disini ia pada hakikatnya mendahului Tuhan, mencap masa depan yang belum haknya, sebagai masa yang gelap, dan menarik kegelapan itu untuk kehidupannya hari ini. Ia mengambil hak. Tuhan mengenai masa depan. Oleh karena itu tidak ada agama yang tidak melarang sikap putus asa.

Sikap putus asa ini bisa mengambil perwujudan destruktif yang dalam bentuk ringan apatisme, ngambek sampai dengan menghentikan jalan kehidupan agar tidak mengalami masa depan. Tidak ada kehendak untuk berjuang, mengatasi kesulitan.

Sebaliknya orang yang optimis selalu melihat, hari esok adalah lain dari hari ini. Ia menaruh harapan akan hari esok. Harapan itu melandasi sikapnya untuk berusaha mengatasi kesulitan yang dihadapi hari ini, agar hari esok membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu ia berpandangan, tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi. Ia akan selalu berusaha mencari jalan dan cara untuk mengatasi tantangan.

Sikap seperti ini, yaitu berusaha mengubah nasib sendiri, merupakan sikap yang diajarkan agama. Seperti diingatkan Al Qur’an, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu umat kecuali umat itu mengadakan perubahan pada diri mereka sendiri.

Sikap ini pula yang sekarang ini diperlukan bangsa kita. Sikap membangun, mengubah nasib diri sendiri, perlu terus ditumbuhkan, khususnya dalam keadaan pembangunan itu sendiri menghadapi tantangan-tantangan yang berat. Namun sikap mengubah nasib ini juga harus selalu disertai rasa kebersamaan sebagai bangsa.

Kepentingan bersama harus didahulukan di atas kepentingan perorangan atau golongan. Masing- masing harus menyadari dan mempertebal peranan, fungsi, serta tugasnya dalam upaya bersama.

Inilah kiranya inti dari himbauan Presiden, yaitu agar umat beragama terus menumbuhkan rasa optimisme dan kebersamaan dalam upaya mengubah nasib bangsa ini ke arab yang lebih baik.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (05/05/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 477-478.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.