TAJUK RENCANA: MEDALI EMAS AVICENNA DAN TAHUN BARU ISLAM

TAJUK RENCANA: MEDALI EMAS AVICENNA DAN TAHUN BARU ISLAM[1]

Jakarta, Pelita

UNESCO, Badan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB, telah memberikan sebuah Medali Emas “Avicenna” kepada Presiden RI Soeharto.

Ini sebuah peristiwa yang sesungguhnya tidak kalah penting dengan saat-saat lain ketika Presiden menerima penghargaan Pangan atau Kependudukan dari badan-badan PBB lainnya di masa-masa yang lalu.

Medali Avicenna memperlihatkan, betapa bangsa Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto telah memberikan perhatian yang cukup besar pada pembangunan, bukan saja yang bersifat fisik dan material, tetapi juga yang bersifat non­ fisik dan spiritual.

Peningkatan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, adalah sisi penting yang harus dilakukan manusia untuk mengoptimalkan makna kehadiran manusia baik secara individual maupun kolektif. Sebuah bangsa yang dibangun melalui dasar-dasar kokoh di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan akan membuat bangsa itu menjadi bangsa yang kuat dan maju dalam jangka panjang.

Ketika Presiden menerima medali emas itu, sungguh kita menjadi bersyukur. Karena itu berarti jalan yang kita tempuh dalam membangun, sudah benar. Kita bukan hanya memperhatikan kepentingan jangka pendek, tetapi juga kepentingan jangka panjang.

Kita lebih bersyukur, karena- mungkin hanya sebuah koinsidensi-pemberian medali itu disampaikan justru di akhir tahun 1413 hijriah, dua hari sebelum umat Islam memasuki tahun bam 1414 hijriah. Medali itupun bernama Avicenna, seorang Muslim yang dalam khazanah sejarah ilmu pengetahuan, dikenal sebagai salah seorang perintis ilmu kedokteran moderen.

Avicenna adalah penamaan Barat untuk Ibnu Sina, seorang ilmuwan dan filsuf Islam yang hidup pada 980-1037. Dua bukunya yang paling menonjol, Kitab al Syifa dan Qanun Al Thibb, telah menjadi buku teks terpenting dalam sejarah perkembangan ilmu kedokteran moderen. Adalah karena itu, namanya abadi. Karena kecemerlangannya, Barat yang biasanya alergi kepada Timur dan Islam, tidak segan­ segan mengabadikan namanya. Di banyak fakultas kedokteran di sana, nama Avicenna masih terpatri dan dibicarakan.

Ibnu Sina, sesungguhnya bahkan lebih dari sekadar ahli di bidang pengobatan dan kedokteran. Ia adalah salah seorang dari cukup banyak filsuf Islam, yang telah menjembatani lahirnya kembali filsafat Aristoteles dan semangat keilmuan-yang sempat hancur dan terkubur oleh konservatisme kekuasaan Katolik Roma sebelum tetjadinya renaisans yang mendorong kemajuan Barat, ke dunia moderen dewas ini.

Demikianlah, kita ingin mengajak bangsa Indonesia, umat Islam khususnya, untuk melihat makna pemberian medali emas Avicenna kepada Presiden Soeharto dalam konteks perhatian yang lebih sungguh-sungguh terhadap pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Tahun baru 1414 hijriah, adalah bagian dari Abad ke 15 Hijriah, yang diramalkan akan menjadi Abad Kebangkitan Islam. Bila direnungkan tentang makna Kebangkitan Islam, maka sesungguhnya ia menunjuk tentang suatu masa di mana Islam terasa jumud, statis, tidur, terbenam, terpuruk, mandeg dan tidak berdaya. Padahal dengan belajar dari Avicenna saja, kita menjadi tabu, bahwa Islam pernah menjadi mercusuar pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kita tidak pernah membayangkan apa jadinya, jika Masa Keemasan Islam di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan itu tidak pernah tetjadi, padahal pada saat yang sama kekuasaan agama di barat demikian sadis perlakuannya terhadap pemikiran bebas dan hasil penelitian para ilmuwan. Mungkinkah peradaban manusia sudah seperti sekarang? Kita percaya, betapa bermanfaatnya mitos Kebangkitan Islam di Abad 15 tersebut. Tentu saja, jika semangat kebangkitan tersebut disertai pilihan yang tepat atas jalan yang hams ditempuh. Jalan itu, menurut hemat kita, adalah melalui jalan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Harus didorong sedemikian rupa, agar umat Islam dapat mendayagunakan potensi yang dimilikinya sekarang, untuk meraih kembali kehadiran kaum Muslimin secara cemerlang dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan.

Pilihan jalan pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, juga akan bermakna ganda. Di satu pihak, pilihan semacam itu akan mampu mengangkat kaum Muslimin dari lorong keterbelakangan dan ketergantungan di pihak lain, kebangkitannya juga akan memberi kontribusi bagi kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan. Kemajuan yang dicapai melalui kecemerlangan ilmu pengetahuan dan masih kebudayaan, akan mempertegas sifat rahmatan lilalamin yang sesungguhnya menjadi misi Islam yang utama. Kebangkitan Islam adalah kebangkitan Avicenna, yang memberi kepada semua, karena itu lalu diakui oleh semua.

Kita percaya, melalui kebangk itan di bidang pendidikan, keilmuan dan kebudayaan, umat Islam dapat berkembang dengan baik di bidang-bidang lainnya, seperti ekonomi, sosial dan politik. Selamat tahun baru 1414 H. * * *

Sumber : PELITA(22/06/1993)

________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 716-717.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.