TAJUK RENCANA: INDUSTRI PENGGERAK UTAMA PEMBANGUNAN

TAJUK RENCANA: INDUSTRI PENGGERAK UTAMA PEMBANGUNAN

 

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto Sabtu yang lalu meresmikan 12 pabrik petrokirnia yang tersebar di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur dan Sumatera Selatan dalam acara yang dipusatkan di PT Asahimas Subentra Chemical di Cilegon.

Peresmian itu adalah kelanjutan kegiatan yang serupa sejak awal tahun ini, di antaranya peresrnian 5 pabrik agrokimia awal April yang lalu, 6 pabrik kimia organik 20 Juli, 23 pabrik industri mesin 27 Juli. Kegiatan itu akan berlangsung terns sampai November nanti hingga seluruhnya 289 pabrik diresmikan yang tersebar di 20 propinsi.

Industrialisasi yang digerakkan secara bersinambung di negeri ini sejak Pelita I telah mengubah wajah Indonesia dari negara di mana segala macam barang langka dan mahal harganya menjadi negara yang kelimpahan barang-barang, baik hasil-hasil pertanian, industri maupun pertambangan.

Barang-barang yang di era pra pembangunan diimpor, di masa Pelita ini sudah diproduksi sendiri di dalam negeri untuk pasaran domestik dan ekspor. Ekspor hasil-hasil pabrik itu punya saham yang senantiasa meningkat selaku penghasil devisa di sektor nonmigas.

Dalam pidato kenegaraan di DPR 16 Agustus yang lalu. Presiden Soeharto mengatakan, peranan sektor industri makin menonjol dalam produksi nasional. Industri dalam negeri telah berkembang pesat selama Repelita IV. Atas dasar data terbaru yang dikumpulkan dari Sensus Ekonomi Nasional 1986 dan survai-survai lain, sektor industri telah tumbuh dengan laju rata-rata 13,2% tiap tahun selama periode 1983-1988.

Angka ini melampaui sasaran Repelita IV untuk sektor ini sebesar rata-rata 9,5% tiap tahun. Sejalan dengan itu, sumbangan sektor industri dalam produksi nasional juga telah meningkatdari 12,7% menjadi 18,4%. Perkembangan ini mempertebal keyakinan kita bahwa sektor industri akan dapat jadi penggerak utama pembangunan di tahun-tahun mendatang. Perkembangan ini juga membuktikan bahwa sektor industri ternyata mampu memanfaatkan peluang yang terbuka dan mampu berkembang pesat dalam iklim yang wajar, tanpa harus dimanjakan.

Di Cilegon Sabtu yang lalu Kepala Negara mengatakan, kemajuan pesat di sektor industri menunjukkan ketepatan arah kebijaksanaan pemerintah, terutama sekali rangkaian deregulasi dan debirokratisasi. Sekarang telah tercipta iklim usaha yang makin baik dan lebih pasti, yang harus kita kembangkan di masa datang. Proses industrialisasi di Indonesia sudah mulai memperoleh momentum kuat untuk maju lebih pesat. Selangkah derni selangkah kita bergerak maju memperbaiki struktur ekonomi dengan titik berat kekuatan sendiri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh, sebagai mana diamanatkan GBHN.

Kemajuan industri juga menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki kecakapan membangun industri, menandakan bertambahnya kemampuan para pengusaha, tenaga ahli dan tenaga manajemen di bidang industri. Semua itu mempertebal keyakinan kita bahwa sektor industri dapat menjadi penggerak utama pembangunan Indonesia di masa datang.

Menurut Presiden, pengembangan industri petrokimia bernilai strategis karena Indonesia memiliki cadangan minyak dan gas bumi yang merupakan bahan baku jenis industri itu. Bila struktur Industri petrokimia kuat akan mempercepat pembangunan Industri hilir, termasuk industri kecil.

Industri petrokimia telah memberi dukungan kuat untuk pembangunan pertanian. Berkat kemampuan industri petrokimia memenuhi kebutuhan sektor pertanian seperti memproduksi pupuk dan pestisida tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras.

Yang diresmikan Sabtu yang lalu itu adalah industri hulu yang memproduksi kebutuhan Industri hilir. Dengan beroperasinya ke-12 industri petrokimia itu, bahan baku yang biasanya diimpor diproduksi di dalam negeri untuk pasaran domestik dan impor. Manfaatnya ganda, yaitu penghematan devisa dan selaku komoditi ekspor nonmigas juga penghasil devisa.

Menteri Perindustrian Hartarto mengatakan, dengan selesainya 12 pabrik kimia itu maka pendal aman struktur industri nasional semakin maju. Keterkaitan antar­ industri maupun antara sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya makin meningkat, dengan kedalaman industri yangkian ke hulu. Diakuinya, industri petrokimia umumnya padat modal dan menggunakan teknologi tinggi, bukan padat karya. Namun kehadiran jenis industri itu mampu mendorong perkembangan industri hilir yang pada umumnya padat karya.

Pembangunan industri termasuk industri petrokimia di negeri ini tidak berjalan selancar yang diinginkan. Kesulitan dana akibat kejatuhan harga migas tahun 1983 menyebabkan 48 proyek besar ditangguhkan pembangunannya, termasuk industri kimia yang paling hulu, yaitu proyek aromatik dan olefin. Kita bersyukur, kedua proyek itu sudah diteruskan pembangunannya dan akan selesai dalam beberapa tahun lagi. Dengan berproduksinya industri aromatic dan olefin itu nanti, akan tambah kuat dukungan industri bagi pembangunan nasional.

 

 

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (28/08/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 471-473.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.