TAJUK RENCANA HASIL PERTEMUAN SOEHARTO – MARCOS

TAJUK RENCANA

HASIL PERTEMUAN SOEHARTO – MARCOS

Kunjungan kerja Presiden Soeharto ke Filipina selama kurang lebih 21 jam (Selasa sore sampai Rabu siang) telah diisi dengan dua kali pembicaraan yang memakan waktu kurang lebih empat setengah jam, masing-masing dua setengah jam Selasa sore/malam dan duajam Rabu pagi.

Dalam pembicaraan yang tampaknya berlangsung cukup intensif itu dibicarakan pelbagai masalah yang langsung menyangkut kepentingan kedua negara maupun dalam rangka kerjasama ASEAN.

Kebiasaan untuk mengadakan pertemuan kerja antar kepala pemerintahan negara-negara ASEAN memang sejak lama sudah digalakkan. Dan pertemuan­pertemuan semacam itu terbukti banyak memberi hasil yang menguntungkan pelaksanaan kerjasama maupun penyatuan sikap dan pandangan tentang pelbagai masalah yang dihadapi.

Pertemuan Soeharto-Marcos yang relatif amat singkat itu ternyata juga menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang menguntungkan itu. Ini dengan tegas dapat dilihat baik dari pernyataan pers 15 pasal yang dikeluarkan maupun penjelasan yang diberikan Menteri Sekretaris Negara Sudharmono sekembalinya Presiden dan rombongan Rabu lalu ke tanah air.

Dalam bidang ekonomi misalnya, Indonesia setuju memberi tambahan suplai minyak untuk Filipina sebesar 5.000 barrel sehari, sehingga suplai minyak yang diterima Filipina menjadi 25.000 barrel sehari.

Tadinya Filipina minta tambahan 13.000 barrel/hari. Namun kewajiban­kewajiban yang harus dipenuhi Indonesia sesuai dengan kontrak-kontrak yang sudah ada, tampaknya belum memungkinkan dipenuhinya seluruh permintaan itu.

Sebaliknya Filipina menawarkan beras sampai 100.000 ton. Menurut Menteri Sudharmono, Indonesia menanggapi tawaran secara positif, dan Bulog akan mengadakan pembicaraan tentang kemungkinan impor beras dari Filipina.

Yang menarik dari apa yang disetujui itu adalah, masing-masing negara berusaha memenuhi kebutuhan tetangganya sesuai dengan prinsip pemberian prioritas seperti disetujui negara-negara ASEAN.

Kesepakatan lain yang dicapai adalah kerjasama untuk membangun proyek NGL (Natural Gas Liquid) sebagai bahan baku Elpiji. Indonesia mempunyai sumber NGL tapi tidak punya cukup dana untuk pembangunan proyeknya. Disepakati, Filipina akan mencatikan dana untuk itu yang diperkirakan sebesar 33,5 juta Dollar AS.

Ditambah dengan kesepakatan-kesepakatan lain termasuk impor pupuk yang juga akan dilakukan Filipina dari Indonesia, maka kunjungan kerja yang amat singkat itu dapat dikatakan memberi hasil yang memuaskan.

Ini lebih diperkuat lagi dengan hasil yang diperoleh di bidang politik misalnya. Seperti dikatakan Menteri Sudharmono, dalam pembicaraan dua tahap itu kedua Presiden mencapai kesepakatan dan saling pengertian yang berjangka panjang dan bersifat strategis-politis. Sudharmono tidak memperinci apa yang dimaksud dan tercakup dalam kesepakatan yang demikian itu.

Namun dari pernyataan bersama antara lain dapat dilihat, kedua Presiden menganggap masalah pengungsi Indocina sebagai ancaman serius yang membahayakan perdamaian, keadaan ekonomi dan stabilitas bukan hanya negara-negara pertama penerima, tapi juga seluruh kawasan ini.

Dalam hubungan itu patut digarisbawahi pernyataan yang disampaikan delegasi KNPI mewakili pemuda Indonesia kepada pemerintah Vietnam melalui Duta besar Vietnam di Jakarta, Tran My Rabu lalu.

Dalam pernyataan yang langsung dibacakan di depan Dubes Tran My itu ditegaskan, gerakan pengungsi tidak sah dari Indocina kususnya Vietnam ke kawasan Asia Tenggara telah berkembang menjadi suatu masalah politik dan pertahanan keamanan yang sekaligus merupakan tantangan dan ancaman bagi stabilitas keamanan di kawasan ini serta stabilitas dalam negeri negara-negara Asia Tenggara.

Dari beberapa kesepakatan yang dikutip itu sebagai hasil pertemuan Soeharto-Marcos agaknya dengan tegas dapat dilihat, pertemuan-pertemuan kerja antar kepala pemerintahan negara-negara ASEAN telah berkembang menjadi bagian dari mekanisme kerjasama ASEAN yang kemanfaatannya makin melengkapi pertemuan-pertemuan formal di pelbagai tingkat.

Kusus mengenai masalah pengungsi, maka sesuai dengan kesepakatan dan saling pengertian berjangka panjang serta bersifat strategis politis yang dicapai Soeharto-Marcos, pemecahan yang diperjuangkan negara-negara ASEAN di pelbagai kesempatan dan forum, seyogyanya juga dilakukan dengan intensitas yang seimbang dengan sifat ancaman yang ditimbulkannya. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (20/07/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 131-133.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.