TAJUK RENCANA: HASIL KUNJUNGAN PRESIDEN KE PAPUA NUGINI

TAJUK RENCANA:

HASIL KUNJUNGAN PRESIDEN KE PAPUA NUGINI

 

KUNJUNGAN Presiden Suharto yang berlangsung selama dua hari di Papua Nugini menghasilkan kesepakatan yang akan makin mempererat hubungan dan kerjasama kedua negara untuk masa selanjutnya.

Pertemuan empat mata antara Presiden Suharto dan Perdana Mentari Michael Somare yang berlangsung Selasa pagi, menurut Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, antara lain menghasilkan kata sepakat untuk menindak tegas imigran gelap yang memasuki wilayah masing-masing negara terutama melalui perbatasan.

Sebagai dua negara bertetangga dekat, soal perbatasan memang merupakan salah satu dari masalah paling menonjol dan banyak dibicarakan sejak Papua Nugini memperoleh kemerdekaan tanggal 16 September 1975.

Secara obyektif, timbulnya hal itu sebagai masalah bisa dimengerti. Sebab berbeda dengan suasana sebelumnya, setelah Papua Nugini menjadi negara merdeka, tanggungjawab tentang pembangunan dan pengamanan wilayah perbatasan dalam semua aspeknya, harus dipikul negara itu.

Oleh karena masalah perbatasan dengan pelbagai unsurnya merupakan persoalan yang erat hubungannya satu dengan yang lain antara bagian yang menjadi tanggung jawab Papua Nugini dengan bagian yang menjadi tanggungjawab Indonesia, maka pembinaan hubungan baik dan kerjasama merupakan salah satu unsur yang banyak menentukan pembangunan dan pengamanan wilayah perbatasan yang dilakukan masing-masing pihak.

Karena itulah dalam setiap kesempatan pemimpin-pemimpin pemerintahan kedua pihak mengadakan kunjungan, masalah perbatasan selalu menjadi bahan diskusi di samping masalah-masalah penting lainnya.

Malah dalam komunike bersama yang dikeluarkan dalam kunjungan PM Papua Nugini Michael Somare ke Indonesia Januari 1977, kedua kepala pemerintahan sepakat tentang perlunya diambil tindakan-tindakan guna menjamin agar wilayah masing-masing negara tidak disalahgunakan oleh anasir­anasir penentang untuk melakukan subversi.

Dilihat dengan prinsip yang disepakati di awal tahun 1977, kesepakatan yang dicapai dalam kunjungan Presiden Suharto awal minggu ini, dapat dikatakan sebagai salah satu pengisian konkrit Sebab sesuai dengan kondisi wilayah perbatasan, imigrasi gelap tampaknya merupakan salah satu jalur yang paling mungkin dimanfaatkan oleh anasir-anasir yang melakukan kegiatan subversi. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (07/06/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 85-86.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.